Pengamen Jakarta (poin of view)

Well....pengamen udah menjadi ciri khas kota besar. Kota yang bersih dari pengamen jarang banget. Bahkan mereka 'sambung menyambung bapak-ibu'  mencari duit dari hasil ngamen. Sebenarnya..aku bingung..kalau dibilang miskin..mereka rata-rata punya hape..bahkan ada yang udah kutak-atik BB kalau udah selesai ngamen. itu artinya mereka ngak miskin-miskin amat kan? dari pakaian...mereka juga lumayan bisa ganti pakaian alias nggak seperti pengemis di luar negeri yang hanya punya satu baju. para pengemen punya hape..bisa smsan..itu artinya mereka bisa baca donk? so..what the hell? apa yang salah sih...kenapa mereka kudu ngamen dan mendesaki jakarta yang udah padat ini dengan agenda seniman jalanan. jujur..saya bahkan hapal wajah-wajah mereka. mulai dari anak kecil sampai nenek-nenek. Jauh dari lubuk hatiku..ingin aku memberi saran kepada mereka. dan juga kepada pemprop DKI . Oke...siapa aja boleh ke JAkarta tapi tolong dong..penjagaan dan peraturannya diperketat. Tengokla Australi yang mensyaratkan siapapun nggak boleh masuk kota besar seperti Melbeurn kalau ngak punya skill..mereka juga nggak memperbolehkan turis bokek untuk keliling jika berdompet tipis. well...dan efeknya? pengamen atau pengemis di Meulbern berkurang sehingga kota itu dinobatkan sebagai kota ternyaman di dunia. Now..how about Indonesia? Jakarta adalah miniatur Indonesia..di sini berkumpul orang dari berbagai suku di indonesia...dari sumatra, jawa, kalimantan, papua, dll. belum lagi bule yang udah jadi ekpatriat dan wara-wiri di Jakarta. But...di bagian kali ini saya nggak akan ngebahas masalah lain kecuali pengamen yang ada di Jakarta. Menurut gue..rata-rata mereka adalah kaum perantau yang punya misi jadi kaya, jadi artis, atau jadi apalah yang penting nggak ngelamun atau garap sawah tetangga. ya...kau pengamen biasanya memang dari mereka yang masih berada di bawah garis kemiskinan dan berusaha melepaskan diri dari jerat kemiskinan. Lalu..kenapa harus Jakarta? bukannya kota ini sangat terkenal dengan jargon "Ibukota lebih kejam dari ibu tiri"....Satu sisi....gue menghargai niat baik mereka untuk mengubah hidup..tapi di sisi lain...ada hati yang miiriis menyaksikan ibu-ibu yang harus menggendong bayinya saat ngamen (entah itu anak beneran atau pinjeman)...liat anak kecil usia 3 tahun yang harus tumbuh dilingkungan biskota yang kejam, ..menyaksikan kakek-kakek yang nggak bisa main gitar menunjukkan kemampuannya ber-belada dan mata kita yang berbinar saat penumpang memberi 5 ribu sebagai bonus. Kadang telingaku mendengar sumpah serapa pengamen preman yang ngak dikasih uang. Aku juga kerap mendengar mereka berdalih "kalau bisa memilh...kami nggak bakal jadi pengamen", Jadi solusinya gimana dong????????
Wel...wel....to the wel...(apaan nih..korban sinetron ababil!!!xixixixixi)

Comments

Popular Posts