Menyapu Pagi

Gambar terkait






Terkadang, hidup itu harus seperti orang-orang yang menyapu di pagi hari. Tak perlu banyak manusia tahu, yang penting, ketika langit terang, semua sudah bersih. Tak peduli seberapa gelap jalan yang disapu, seberapa banyak partikel debu yang terisab, seberapa banyak nyamuk yang menggigit, tetaplah menyapu di pagi hari. Karena pada saat itu juga, kita memiliki kekayaan udara yang layak dihirup dalam-dalam.
Mereka yang bangun pagi, mandi, sholat, lalu menjalani harinya di pagi hari, dapat merasakan nikmatnya udara setelah subuh. Memandang awan yang remang yang menyisakan romantisme tadi malam, juga bibirnya boleh dibasahi dzikir pagi.
Tak banyak yang tahu, bahwa sisa-sisa subuh dan keberkahan itu datang kala suara sapuan-sapuan pagi. Ya, bahkan doa banyak terijabah di pagi hari, pagi buta kata orang.
Mereka yang harus berangkat pagi, merelakan selimut mereka lebih cepat digulung. Merelahan tubuh mereka disiram air, juga melawan kantuk dan malas untuk melangkahkan kaki ke masjid. Mereka yakin, 2 rakaat sebelum sholat subuh lebih utama dari dunia dan seisinya. Maka, saat orang lain lebih memilih bergemul dengan selimut, mereka mengambil sarung dan peci untuk setor muka ke masjid. Berbaris bersama shaf-shaf yang itu-itu saja. Namun, bagi mereka, itu adalah pembeda. Pembeda antara yang mau dan tidak mau. Benar kata Ustad Hari Sanusi, tanda mau itu adalah hadir, maka yang ringan langkah kakinya di subuh hari, mereka juga lah yang tidak ingin kehilangan keberkahan.
Andai gaya hidup ini mau dipakai oleh banyak orang, bisa jadi hidupnya akan berubah, minimal, udara yang dia hidup sekian persen akan lebih bersih ketimbang sebelumnya. Namun, hati manusia tiada yang mau. Tiada pula kita bisa membukanya. Karena hanya Allah saja yang memiliki kunci dari hati tersebut, Dia yang membuka, dan Dia juga yang berhak menutupnya, Maka, patutlah kita untuk memohon, meminta agar kita menjadi bagian dari hati yang terbuka itu, ya, hati yang terbuka namun terjaga aqidahnya.
Mereka yang menyapu pagi adalah mereka yang juga sabar, bahwa setelah gelap akan datang terang. Karena tak selamanya langit diselimuti gelap, matahari akan muncul karena begitulah qodratnya, taka da yang bisa melawan terbitnya matahari, saat itulah, wajah-wajah penyapu jalanan terlihat. Namun, siapa peduli. Yang penting, tugasnya sudah selesai dan dia senang, karena jalanan sudah taka da sampah dan daun-daun jatuh. Meski gelap, ternyata dia mampu menyapu. Meski hanya ditemani lampu-lampu jalan, mereka berharap dzikir-dzikir mereka sampai.
Mereka yang berangkat lebih pagi, membelah jalan. Berharap macet tidak menelan mereka di padatnya ibukota. Jaket, helm, masker menjadi pelengkap mereka yang naik motor. Lalu, apa yang membuat mereka berangkat sepagi itu, menembus dinginnya udara pagi? Kurasa, macet bukanlah alasan utama, Namun, niat dan tanggung jawab mereka kepada keluargalah yang membuat otot-otot itu tergerak untuk bekerja. Niat dan tanggung jawab menjadi satu, sehingga apapun yang terasa mengganggu, seketika menjadi lenyap. Tak jarang , mereka merelakan perut itu kosong demi mengejar waktu. Semua dilakukan untuk mengamalkan arti dari tanggung jawab. Subhanaullah!
Lalu, muncul pertanyaan lain, sebenarnya apa yang mereka cari? Apakah mereka ingin dicap sebagai pegawai teladan? Apakah mereka ingin menghemat bensin agar tidak terkena macet? Tidak, mereka tidak semurah itu. Mereka mencari sesuatu yang lebih besar, lebih bernilai, yakni keberkahan dari Allah. Dan mereka percaya, bahwa bekerja itu adalah ibadah. Ya, bekerja itu adalah ibadah.


Tangerang, 19 Juli 2019
Pukul 06.37 WIB








Comments

Popular Posts