Menulis Setelah Menikah, Why Not?




Tadinya, aku bertanya-tanya di dalam hati, kenapa rata-rata temanku yang sudah menikah selalu menyarankan aku untuk melakukan apa pun yang menjadi goal-goal aku saat masih lanjang. Jujur, aku heran. Apa segitu gak ada waktunya sampai-sampai hamper semua temanku yang udah nikah bilang gitu! Memangnya ada apa setelah menikah? Bukankah kita akan terbantu dengan hadirnya pasangan?
Waktu pun berlalu, Alhamdulillah, aku menikah. Bulan Juli 2019 ini, usia pernikahanku udah memasuki 7 Bulan. Ada perasaan senang. Jika dulu 7 bulan berlalu begitu saja sebagai seorang jomblo, tapi 7 bulan ini bener-bener banyak pengalaman yang aku dan suami lakukan. Kenangan demi kenangan kami ukir di setiap pengalaman kami. Yah, Alhamdulillah…Alllah memampukan kami untuk saling mendukung satu sama lain, dengan kelebihan kami masing-masing.
Aku masih seperti diriku yang dulu, tapi dengan prioritas yang berbeda. Jika dulu aku hanya memikirkan diriku, goals-goalku, tapi sekarang, aku memiliki kata KITA. Ya, bukan lagi berujung –ku, tapi berujung KITA. Mimpi-mimpi kita, harapan kita, kewajiban kita, makanan kita, pakaian kita, barang-barang kita, hobi kita. Semua tentang kita.
Berumah tangga memberiku banyak pelajaran, terutama tentang skala prioritas, berbagi, dan pengertian. Semuanya butuh proses untuktumbuh dewasa, karena aku dan dia sama-sama masih muda untuk mengarungi bahtera ini. Tapi, meski begitu, dia adalah pemimpin terbaik. Aku senang menjadi istrinya yang bisa menjadi diriku sendiri. Aku dan Abi (Panggilan untuk suamiku) adalah dua orang yang Allah takdirkan untuk bersama-sama menjadi tim dalam kehidupan kami. Abi adalah pemimpinku dan aku adalah partnernya. Ya, Partner, bukan bawahan karena aku dan Abi saling melengkapi. Jika pengetahuanku kurang, dia yang melebihi, dan jika ada hal yang aku tahu, dia tidak segan memberiku celah untuk menjelaskan.
Sebulan yang lalu, aku  mendapatkan pesan WA dari penerbitku bahwa naskah tulisanku yang lama akan direlaunching dalam bentuk online. Rasanya aku hampir lupa bahwa aku pernah menulis. Itu karena naskah yang aku terbitkan hanyalah skala indie. Aku tidak tahu, apakah itu laku atau tidak di pasaran. Tapi, setidaknya aku sudah mewujudkan mimpi kecilku, membuat tulpen dalam bentuk buku.
Tapi, karena sekarang aku sudah menikah, ada seseorang yang sangat exited saat aku menceritalan tulisanku. Dan karenanya, AKU SEKARANG INGIN MENULIS LAGI. AKU INGIN NAMANYA ADA DI KARYA TULISANKU. Ya, motivasi itu adalah Abi.
Sekarang, aku sadar, meski waktuku terbatas, aku akan kembali menulis. Aku ingin fokus menulis. Agar aku bisa mewujudkan mimpi yang sederhana itu, menuliskan nama seseorang yang aku cintai karena Allah, di dalam karya tulisanku.
Ya Allah, mampukan hamba untuk menulis lagi.
Tangerang, 15 Juli 2019, Pukul 06.45.

Comments

Popular Posts