"Ambassador" (Cuplikan novelku)




Sekolah Elite

            Bismillahirrohmanirrohim.. hari ini adalah hari pertama aku masuk ke sekolah baru. Ya, sekarang aku sudah menginjak bangku SMA dan yang paling heboh, aku masuk ke sekolah Elite. SMA yang menjadi sekolah Elite di kabupatenku. Perkenalkan, Aku Wirda. Adiknya Warda.
            Hari ini juga, aku memutuskan untuk memakai hijab. Ya, aku sudah nazar, jika aku SMA, aku akan mengenakan hijab. Rasanya agak aneh mengenakan hijab, ada perasaan malu-malu di awal menggunakannya, namun karena sering latihan di depan cermin, aku mulai terbiasa. Warda, kakakku juga memutuskan untuk berhijab.
            Kabar bahwa kami berdua masuk sekolah Elite menggegerkan satu kampung. Bukan apa-apa, karena banyak sekali bisikan tetangga yang meragukan kesanggupan kami membayar biaya sekolah. Ditambah lagi, yang sekolah di sekolah Elite bukan hanya aku, tapi juga Kakakku, Warda. Em, tapi, aku hanya bisa menebalkan kuping. Alhamdulillah, biaya sekolah ini ditanggung oleh Kakek Sobri yang ada di Jakarta. Jadi, kami tidak perlu khawatir. Emak menyakinkan aku dan kakakku untuk fokus belajar saja, urusan uang sekolah, itu sudah ada bantuan dari Kakek. Memang, untuk ukuran keluarga kami, tak mungkin rasanya menyekolahkan 2 anak sekaligus di sekolah elit. Terlebih, pekerjaan ibuku seorang guru bantu non PNS dan ayahku pekerja kontraktor. Kami juga tinggal di sebuah rumah yang sederhana. Jadi, wajar kalau orang meragukan kami. Maka, kami hanya cukup mendengar saja komentar itu.
            Aku tidak sabar untuk melihat siapa saja teman-temanku di SMA Elite. Bagaimana mereka, apakah mereka asik untuk diajak berteman, ataukah aku akan melihat pemandangan seperti di sinetron-sinetron ftv yang aku lihat? Entahlah, semua akan terjawab di hari pertama aku melakukan registrasi ulang di Sekolah yang baru.
            “Wir, ayok!” seru Warda dibalik tirai yang menutupi ruang kamar.
            “Oh..iya-iya, bentar.” Aku tersadar. Aku segara menusukkan jarum pentul terakhir di jilbabku.
            Warda sudah siap dengan hijab warna putihnya. Sedangkan aku dengan jilbab warna hitam. Em, jangan berpikir bahwa kami kembar. Karena aku dan Warda tidaklah kembar. Kami selisih satu tahun setengah dank arena aku ikut sekolah waktu kecil, sampai sekarang aku jadinya ikutan Warda sekolah. Bukan Akselerasi, Bukaaan! Ini karena aku ‘anak bawang’ yang lulus SD. Kemudian lanjut SMP, kami pun selalu bareng. Hingga kini jelang SMA, aku satu angkatan dengan Warda.
            Warda lebih imut. Dengan postur tubuhnya yang mungil itu, aku seringkali dikira kakaknya dan dia sebagai adikku. Warda kulitnya hitam manis dan aku kuning langsat. Warda lebih mirip Emak dan aku lebih mirip Ebak. Secara fisik, sebenarnya kami jauh berbeda, hanya saja, karena nama kami mirip, kami dikira kembar. Ditambah kami, baju kami yang sering disamakan modelnya.
            Aku dan Warda juga banyak perbedaan. Warda suka matematika, aku suka Bahasa Indonesia. Warda lebih dekat dengan Emak tetapi aku lebih dekat dengan Ebak. Warda cuek dengan penampilan, tapi aku peduli. Warda lebih banyak teman, sementara aku tidak. Warda lebih cerdas dariku, dia selalu juara satu sementara aku hanya diperingkat dua. Warda lebih rajin, aku tidak.
            Tapi kali ini, di SMA Elit, aku berharap, aku bisa lebih rajin. Aku ingin bisa mengeksplor apa-apa yang menjadi kelebihanku, itulah harapanku di masa SMA ini, yang kata orang adalah masa yang tidak pernah terlupakan seumur hidup, masa yang paling indah.
           

(Nah..Kawans...itulah dia cuplikan novel ambassador yang baru aku dapatkan idenya malam kemarin!) I hope, I can be finish this book. !!








Comments

Popular Posts