Abdan Syukuron





Aku mengetahui nama Abdan Syakuron di semester kedua kuliah S1 dulu. Saat aku menjadi asisten salah satu dosen di kampusku. Nama itu adalah nama dari seorang anak laki-laki kelas 4 SD. Nama yang indah,dengan arti yang indah pula.
            Seiring dengan berjalannya waktu dan berakhirnya masa kuliah, nama itu membakas diingatanku, lengkap dengan wajah bocah kecil yang suka murojaah qur’an dengan ustadnya. Nama itu masih saja terngiang, Abdan Syakuron.
            Kini, dua pasang kata itu menjadi salah satu do’a dalam sujudku. Nama yang berartikan Hamba yang (pandai) bersyukur. Ya, itulah arti nama dari Abdan Syakuron, hamba yang bersyukur atau abdi yang bersyukur. Maka, tak salah kalau aku memasukkan sepasang kata itu di dalam do’aku.
            Kamu juga akan menemukan kata itu di dalam Al-qur’an. Beberapa kali aku bertemu dengan kata abdan syakuron dalam kalam ilahi, dan ada perasaan senang karena sudah akrab dengan istilah ini. Ada perasaan legah karena tahu arti nama itu saat berada dalam kalimat-kalimat qur’ani.
            You know, banyak orang yang ingin mendapatkan kenikmatan-kenikmatan besar, namun dia lupa bahwa kenikmatan-kenikmatan besar itu dimulai dari mensyukuri nikmat yang kecil-kecil. Dengan menjadi seorang yang abdan syakuron, kita berusaha mensyukuri nikmat-nikmat yang ada di sekitar kita. Contohnya, nikmat tangan karena bisa mengetik, nikmat mata karena bisa melihat, nikmat telinga karena bisa mendengar, nikmat kaki karena bisa melangkah, nikmat mulut karena bisa bersuara, juga masih banyak nikmat-nikmat lain. Secara teoritis, kita paham benar apa itu nikmat-nikmat di sekitar kita, namun secara praktis, kita jarang sekali untuk menjadikannya sebagai pondasi untuk mensyukuri nikmat yang kadang tak kasat mata.
            Dalam studi psikologi, banyak kasus orang-orang yang nampaknya sukses dari luar, ternyata rapuh dari dalam. Bahkan beberapa dari mereka memutuskan untuk mengambil jalan pintas, yakni mengakhiri hidupnya. Namun, dewasa ini, kasus itu tidak hanya menghampiri mereka yang bergelimang harta, bahkan dari kaum marginal pun (masyarakat kurang mampu), juga mengalami kasus serupa. Banyak dari mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, berharap penderitaan hidup selesai. Namun, mereka lupa, bahwa ada hidup setelah kehiduan di dunia ini. Alam kubur dan  akhirat.
            Sebagian dari kita, mulai paham, betapa pentingnya mensyukuri hidup dari kasus-kasus yang ada di masyarakat, yang terekspos media social. Setiap hari, aku menyempatkan waktu untuk melihat berita di tv, khususnya berita criminal, dan aku sampai bertanya, sampai kapan kejahatan ini ada? Namun, pertanyaan ‘konyol’ itu sebenarnya tidak perlu ditanyakan. Toh, perihal ini sudah ada sejak zaman nabi Adam, bahkan sejarah mencatat bahwa dari Qabil dan Habil, peristiwa penguburan manusia bermula.
            Maka, dari sini kita bisa mengambil salah satu hikmah. Bahwa menjadi abdan syakuron merupakan salah satu pondasi untuk menikmati hidup. Apapun hidupmu, seperti apapun lingkunganmu, yakinlah bahwa kau adalah orang beruntung yang patut bersyukur. Syukuri dengan takdir yang ada dan tingkatkan diri untuk menjadi lebih baik. Jika ada sesuatu yang mengganjal, dekatilah orang-orang sholeh dan kau akan menemukan banyak nasihat. Perbanyak membaca al-qur’an. Baca everyday. Jangan ragu untuk mendekat kepada Allah lagi dan lagi. Panjatkan do’a, minta semuanya hanya kepadaNya.
            Menjadi seseorang yang abdan syakuron membuatmu akan semakin berharga. Ya, karena syukur nikmat hari ini akan mengantarkanmu pada nikmat-nikmat berikutnya. Insyaa Allah.


Tangerang, 20 Juli 2019

Comments

Popular Posts