Senja di Asrama

Tujuh tahun berlalu dari masa SMA yang nano-nano. Tapi...kenangan ketika sore di asrama benar-benar menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Kenapa? Karena setiap sore selalu menjadi quality time buat jalan bareng teman di sekitar asrama. Sore adalah saat melihat seseorang yang gue kagumi duduk di tangga asrama dengan seragam bolanya. Dan semua rasa yang gue miliki ketika SMA membuat hari-hari ketika SMA menjadi moment yang paling tak terlupakan. Di Masa SMA jugalah..asal muasal gue pengen jadi penulis. Dan novel pertama gue based on pengalaman ketika gue mengagumi seorang Ichiko. Ya...gue akhirnya memutuskan untuk nulis draf novel dengan judul LUV U ICHIKO. yang jadi konsumsi beberapa temen gue sesama pecinta novel. Mungkin kalau gue masih inget jalan cerita Runi-Ichiko. Gue bakal lanjutin cerita fiksi pertama gue.
Well...sebelum gue cerita soal  Senja di SMA, gue pengen cerita dulu soal sekolah gue. Gue adalah siswa angkatan pertama dari sekolah gue, SMAN 1 Unggulan Indralaya Utara. Sebuah sekolah yang menyandang predikat Unggulan. Gue adalah anak yang satu tahun lebih cepat sekolah. Alhasil, dari SD sampai SMA, gue masuk sekolah barengan dengan kakak perempuan gue. Satu sisi gue senang karena itu artinya gue bisa setara dengan generasi kakak gue. Tapi di sisi lain, ketika gue bergaul dengan adik kelas yang harusnya satu angkatan, mereka malah manggil gue ayuk dan menganggap gue sebagai senior. Well...lupakan kegalauan gue soal percepatan gue masuk sekolah. Sebagai SMA Unggulan, sekolah gue memakai sistem semi asrama. Artinya, ada beberapa anak yang tinggal di asrama dan ada yang pulang pergi (PP). Gue menjadi anak asrama di tahun ketiga. Tahun terakhir karena tahun tersebut asrama sekolah selesai dan managemen asrama diserahkan ke penjaga sekolah, wakil kepala sekolah, dan satpam. Gue dan kakak gue rupanya memang tak terpisahkan. Selain satu kelas, rupanya kita satu kamar di asrama. Ya...waktu itu gue rada mikir, napa gue nggak dipisahin aja. Kenapa gue kudu satu asrama lagi sama kakak gue? Tapi...ternyata, ketika dewasa, akhirnya gue benar-benar merindukan kebersamaan gue bareng kakak. Kembali ke topik, senja di asrama. Biasanya, setelah ada pelajaran tambahan di kelas, sore hari kami mengusir jenuh dengan olahraga. Anak-anak cowok biasanya memilih olahraga basket dan sepak bola. Kami, anak cewek ada yang jalan-jalan di kelas, ada yang keliling asrama, ada yang main badminton, atau ada yang gabung dengan basket. Bagi yang bawa laptop, browsing di teras lab.komputer adalah salah satu pilihan ketika ada waktu luang. Bagi gue, sore di asrama menjadi sore yang romantis. Kenapa? Selain gue bisa ngeliat matahari terbenam dari balik rumput ilalang yang tinggi menjulang, gue juga bisa melihat 'ichiko'. Ya...sosok adik kelas yang benar-benar karismatik. Yang hadir lewat mimpi yang aneh ketika gue remaja. Setiap sore, dia selalu ikut sepak bola. Badannya yang tinggi dengan warna kulit gosong membuat gue mudah mengenali tiap kali dia memainkan si kulit bundar. Tapi..ada satu sore yang membuat gue akhirnya berpapasan dengan Ichiko. Ya...tadinya, gue memainkan bola basket bersama Endri, temen di kelas gue. Tapi kesempatan langkah itu akhirnya tiba. Endri memanggil Ichiko dan kamipun main basket bertiga. Dia merebut basket dan memasukkan si bundar orange ke keranjang. Beberapa kali gue dan Endri mesti membiarkan tubuhnya yang tinggi kurus memuluskan jalan masuknya si bulat orange ke keranjang. Itu moment yang sederhana..tapi dari situlah..akhirnya waktu berpihak pada gue...dan dari situlah, Ichiko mengenal gue dan akhirnya...gue pun mengenal dia. Meski ending kisah gue dan Ichiko nggak seindah cerita "Runi-Ichiko" di novel gue...tapi bagi gue..dialah yang menginspirasi gue menjadi penulis. Terima kasih, my IChikio :). KArena senja di asrama sambil memandangmu dari jauh adalah inspirasi pertama gue ingin menulis. Walau kita sekarang sudah kita bersinggungan dunia...terima kasih

Comments

Popular Posts