Para Tuna Netra
Rabu yang Penuh Semangat!!! Hari ini adalah hari ketiga di bulan Februari 2016. Tidak seperti kemarin yang mendung,hari ini matahari dengan berani menyemburatkan sinarnya. Panas sudah terasa di pukul 08.00 pagi hari ini. Seperti biasa,aku menggunakan moda transportasi Busway Transjakarta yang kemudian dilanjutkan naik angkutan kwk 03. Oya, pagi ini..aku kembali bertemu dengan seorang penyandang Tuna Netra di dalam angkot yang akan membawaku ke kantor ini. Seperti hari-hari sebelumnnya..pengalaman satu angkot dengan penyandang Tuna Netra selalu membesitkan perasaan iba. Ya..karena secara tidak langsung..aku merasa diingatkan oleh Allah..betapa beruntungnya aku karena masih memiliki indra penglihatan yang lengkap. Ada beberapa kesan yang tersimpan diingatanku saat aku secara tidak sengaja bertemu bapak/ibu Tuna Netra di dalam angkot saat berangkat kerja. Contohnya saat aku bertemu dengan sepasang suami istri tuna netra yang tampak kompak. Si istri bercerita ke suaminya kalau saat di busway yang desak-desakan...jari kaki si istri diinjak oleh penumpang lain..si suami yang juga tuna netra menyimak dengan baik cerita istrinya..seolah yang ada di dalam angkot hanyalah mereka berdua. Mungkin itu yang disebut dunia serasa milik berdua..yang dialami oleh dua orang kekasih penyandang tunanetra. Selanjutnya, di angkot 03 yang lain..aku bertemu dengan seorang Bapak tunanetra paruh baya dengan dua anak perempuan kecil-kecil. Mungkin mereka baru kelas 1 SD dan Kakaknya kelas 3 SD. Pertemuanku dengan keluarga kecil itu membuatku terharu. Mereka bercengkrama dengan akrab meski sang ayah (yang sejatinya menjaga mereka) adalah sosok lelaki Tunanetra. Saat turun angkot,sang anak dengan jari-jari kecilnya memilih uang untuk membayar ongkos. Di saat yang bersamaan..dia menuntun ayahnya dengan tongkat tunanetra.. sungguh pemandangan yang membuat mataku perih..dalam hati aku berdoa,semoga bakti anak kecil itu senantiasa tulus pada ayahnya.. Di hari lain..aku bertemu dengan ibu-ibu Tunanetra dengan jilbab merah bata. Semula aku pikir si ibu adalah tukang pijit (sebagaimana profesi sampingan yang diambil penyandang tunanetra). Tapi.. kresek hitam yang ditenteng ibu itu membantah tebakanku. Saat aku cermati..ternyata kresek itu adalah ALquran Broile. Ya.. ibu itu ternyata seorang ustadzah untuk mengajar Alquran Broile. Aku terhenyuk.. begitu besar semangat para tunanetra belajar Alquran..sementara..orang-orang yang berpenglihatan baik masih enggan untuk membaca quran. Intinya...aku merasa bersyukur setiap kali bertemu dengan mereka karena setiap pertemuan..pasti ada hikmah yang bisa dipetik. Selamat Pagi :)

Comments
Post a Comment