Saran-Saran Arnout
Arnout! Begitu aku menyapanya di obrolan santai kami di facebook. Kami sama-sama kelahiran tahun 1991, bedanya Arnout bulan Mei dan aku bulan Oktober. Sekarang, Arnout terdaftar sebagai mahasiswa S1 di Rotherdam, beribu-ribu kilometer dari Jakarta, bumi yang aku pijak sekarang. Semula aku dan Arnout hanya membahas tentang perbedaan waktu Indonesia-Belanda, seputar kesibukan masing-masing, dan kadang kami saling bertanya tentang program beasiswa baik di Belanda maupun di Indonesia. Tadinya, aku pikir, orang macam Arnout akan pilah pilih dengan siapa dia kan bicara. Ditambah lagi, aku bukanlah bagian dari mahasiswa Internasional yang menempuh pendidikan di luar negeri. Aku juga pikir, Arnout hanya satu dari sekian bule yang pengen tahu informasi seputar Indonesia. Tapi, semakin ke sini aku semakin sadar, bahwa aku keliru. Arnout berbeda dari yang ke praduga sebelumnya. Dia bukan hanya memilih untuk tahu tapi dia justru mendalami budaya Indonesia. Itu terlihat dari keikutsertaan dia dalam program pertukaran mahasiswa ke Jogja beberapa tahun yang lalu. Dia juga mengeksplore bagian Timur Indonesia, menyaksikan langsung keindahan alam pantai di Lombok yang bahkan aku sendiri, sebagai orang Indonesia belum pernah melakukannya. Dalam hati aku bergumam, 'itulah enaknya jadi bule, kepercayaan diri mereka untuk menyusuri tempat-tempat baru memang di atas rata-rata orang kebanyakan.' Dari situ, aku rasa, Arnout bisa dijadikan kawan untuk bertukar pendapat.
Selama komunikasi, yang paling sulit adalah mengatur waktu kapan kami berbalas chatting. Karena perbedaan waktu Jakarta dan Rotterdam itu cepatan Jakarta 6 Jam, maka saat aku mulai chat duluan, kadang si Arnout malah lagi tidur. Dan yang bete juga, saat dia justru siang hari bolong di kampus Rotherdam, aku malah memasuki malam yang lelah di langit Jakarta. Aiiigo...walhasil, Chattingan kami harus sadar waktu juga. Pernah kami chat saat Arnout di Jam 19.00 waktu Rotherdam, aku membalasnya dengan terkantuk di jam 1 pagi. Tapi, bukan masalah berapa banyak kami ngobrol via facebook masanger, tapi seberapa banyak kualitas kami saat mengobrol.
(to be continue..)


Comments
Post a Comment