My Mother Wedding Day
Assalamualaikum, Pagi Blogger!
Alhamdulillah...pagi ini, langit Jakarta cerah banget. Meski aku agak kurang enak badan. Tapi, aku bersyukur masih diberi kesehatan untuk tetap beraktivitas.
Kali ini, aku mau posting tentang hari bersejarah ibuku. Apa itu? Itu adalah hari dimana ibuku menjadi bagian hidup ayahku. Hari Pernikahan ibuku.
Oya, menginjak umur 25 ini, aku mulai memikirkan tentang pernikahan. Bukan berarti aku nggak memikirkan perkara nikah sebelumnya, tapi menurutku inilah saatnya aku berpikir tentang tanggubf jawab dan komitmen.
Okey, let's explore about my mom wedding day :)
Ibuku menikah dengan ayahku di bulan Februari 1989. Pernikahan itu menggunakan adat Palembang, Sumatera Selatan. Ibuku sangat cantik dengan memakai baju pengantin merah. Kala itu, ibuku menikah dengan lelaki yang satu kampung dengannya, ayahku. Lelaki yang dia pilih untuk menjadi ayah bagi anak-anaknya.
Pernikahan ibuku tampaknya berlangsung malam hari. Aku melihatnya dari foto yang aku dapat album lama.
Suasana menikah di malam hari juga tak kalah meriah.
Ibuku di arak menuju rumah ayahku.
Berikut fotonya
Jika dilihat dari baju-baju para tamu undangan, jelas ini jadul banget yah, Paa Blogger. Dan aku bisa jamin kalo anak-anak yang ikut mengarak pengantin ini pasti udah pada dewasa semua.
Seperti kebanyakan pengantin pada umumnya, kamar di rumah pun dihias dengan warna-warna romantis.
Jujur, aku sangat senang melihat ibuku di foto ini. Dia begitu anggun saat muda. Dia juga sangat kalam. Dan dia mendapatkan seorang lelaki yang sangaaat ganteng seperti ayahku. Karena konon katanya, ayahku banyak dilirik oleh para gadia desa.
Saat aku bandingkan dengan diriku sekarang, jelas ibuku lebih cepat menikah karena waktu itu beliau berusia 21 tahun. Sangat biasa untuk ukuran orang desa waktu itu.
Tetapi, sampai kapan pun aku tetap kagum dengan ibuku. Dan kekagumanku tetap bertambah karena aku tahu, ibuku telah berhasil melewati masa-masa sulitnya tanpa nenek. Dia adalah gadis yang mandiri. Ibuku tetap gigih. Dia juga mengorbankan waktunya yang harusnya menjadi pengajar, tapi dia memilih untuk mengurus buyut, ayah, dan mengurus anak-anaknya.
Aku juga sangat ingat betul, bahwa sekolah pertamaku adalah ibuku. Dia yang pertama kali mengajarkanku membaca, menulis, berhitung. Dia yang mengantarku mengaji. Dia juga yang mengurusku dan kami tumbuh dengan perhatian dan ketulusan darinya.
Di hari pernikahan ibuku, aku melihat sosok mandiri yang merupakan seorang piatu, memutuskan untuk siap menjadi seorang ibu terbaik bagi anak-anaknya.
Terima kasih ibu..
Terima kasih untuk hari-hari yang kau berikan untuk kami :)
quality time with Yaya
Takdir Allah..Keluarga Khoirul Aini
Dari pernikahan ayah dan ibuku, aku tahu, bahwa pernikahan itu akan mempertemukan kita dengan saudara-saudara baru. Memupuk rasa kasih sayang, dab berjuang menghadapi pahit manis masa depan.
^_^








Comments
Post a Comment