Sebelum Traveling ke Jepang (Resume Buku)



Judul Buku          : Lancar Bahasa Jepang Sehari-Hari
Pengarang            : Enik Darwati,S.S
Penerbit                : Indonesia Tera
Cetakan                : Pertama
Tahun Terbit        : 2014
Jumlah Hlm         : 361 halaman
Peresume              : Lajma Khanie
                Jumlah pembelajaran Bahasa Jepang di Indonesia merupakan salah satu yang terbanyak di dunia yang setiap tahunnya kian bertambah. Buku ini menyajikan materi yang menjadi kebutuhan para pembelajaran Bahasa Jepang untuk pemula dengan konsep praktis dan mudah dipelajari.
                Di buku ini, terdapat 24 unit yang berisi tema situasional sehari-hari yang dilengkapi ungkapan-ungkapan penting yang sering digunakan, kumpulan kosa kata, contoh percakapan, dan tips-tips berbicara yang baik dan benar. Selain itu, terdapat pula informasi tambahan berupa kebiasaan dan budaya orang jepang yang bisa jadi gambaran pada pembaca untuk lebih mengenal kehidupan yang sebenarnya di sana.
                Berikut kebiasaan-kebiasaan dalam masyarakat Jepang yang dimuat dalam buku ini (saya tuliskan dari informasi paling belakang buku ke halaman paling depan buku):
·         Etos kerja perusahaan di Jepang.
1. Kemampuan untuk bekerja sama adalah penting. Perusahaan di Jepang mengutamakan kerjasama atau team work. Perusahaan sering memberikan beban kerja dalam bentuk kelompok. Kerjasama tim membuat karyawan bisa saling melengkapi kekurangan masing-masing dan kemampuan individu bisa berkembang.
2. Tidak ada atas dan bawah dalam bekerja. Hal ini berlaku juga untuk pekerja yang baru lulus perguruan tinggi. Perusahaan mendidik karyawan untuk terbiasa dengan pekerjaan di level terendah. Karyawan bisa diminta untuk MELAP MEJA, memfokopi dokumen atau merapikan file yang di Indonesia dikerjakan oleh pesuruh. KAryawan dituntut untuk bisa mandiri.  SEBAGUS APAPUN KUALITASNYA, SEORANG INDIVIDU ITU HARUS BEKERJA DARI BAWAH.
3. Pemikiran terhadap pindah kerja. Perusahaan menganggap karyawan seperti investasi. Jadi, dengan mendidik dari level bawah, memberikan pelatiha, dsb, karyawan diharapkan mengerti sehingga loyal dengan perusahaan dan bisa mengembangkan diri. (hal,355)

·         Aizuchi adalah tanggapan, respon, atau sisipan di tengah pembicaraan lawan bicara. Bagi orang JEpang, aizuchi sangat penting. Jika tidak direspon dengan aizuchi, orang Jepang akan berprasangka apakah lawan biacara mendengarkan atau tidak dan apakah lawan biacara mengerti atau tidak terhadap apa yang sedang dibicarakannya. Aizuchi digunakan setelah si pembicara menyelesaikan kalimatnya dan jangan terlalu banyak menggunakan aizuchi karena memberi kesan bahwa lawan bicara ingin pembicara segera menghentikan cerita atau pembicaraannya (340)
·         Contoh ucapan aizuchi: sodesu ne (begitu yah), sodesu yo (memang seperti itu), sodesu yo ne (memang begitulah), sodesho ne (memang begitulah), So desu ka (begitukah), hai (em…mengiyakan), Ee (mengiyakan, bergumam iya). (hal. 313)
·         Kegiatan Sehari-hari orang Jepang. Untuk Kepala keluarga, pekerjaan adalah nomor satu dibandingkan keluarga. Mereka rata-rata bekerja 8-9 jam per hari. Mulai pukul 8 pagi – 6 sore. Kalau lembur, bisa sampai pukul 9 malam. Atau juga karna kebiasaan minum-minum dengan rekan kerja atau pimpinan sehais kerja. Kegiatan pagi hari istri adalah menyiapkan sarapan dan membuat bekal (o-bento) untuk dibawa anaknya ke sekolah. Biasanya mereka bangun pukul 7 pagi. Begitu juga anak-anak sekolah juga biasanya bangun pukul 7 pagi. Mereka sarapan kemudian  berangkat sekolah kira-kira pukul 8 pagi dari rumah. Malam hari biasanya mereka makan malam bersama. Setelah itu menonton TV atau belajar bagi anak sekolah. Bagi yang rajin, mereka belajar selama 1 jam atau lebih dan kemudian tidur kira-kira pukul 01.00 malam. Kebiasaan mandi (satu kali dalam sehari) juga dilakukan di malam hari. Biasanya mereka hanya cuci muka dan gosok gigi saja sebelum berangkat kerja atau ke sekolah pagi harinya. (hal. 314)
·         Sekolah SMA di Jepang. Setibanya di sekolah, para siswa menyimpan sepatunya di loker dan menggantinya dengan sepatu khusus yang digunakan di ruang kelas (uwabaki). Kegiatan belajar dimulai pukul 08.50. Pelajaran pokok SMA di Jepang adalag Bahasa Jepang sebagai Bahasa nasional. Pelajaran lainnya yaitu Bahasa Inggris, matematika, eksak (kimia, biologi, fisika, dan lain-lain. Sosiologi (ilmu kemasyarakatan,Sejarah Jepang, Sejarah Dunia, Ekonomi Pemerintah, dll). Dalam belajar Bahasa, semua siswa menggunakan kamus elektronik (denshi-jisho). Pada jam istirahat, biasanya siswa Jepang makan bekal (o-bento) yang mereka bawa dari rumah. Bekal yang mereka bawa dibuat oleh ibu mereka atau buat sendiri, ada juga yang dibeli di kantin sekolah atau toko. Kegiatan belajar mengajar berakhir pukul 16.00 lewat. Sebelum pulang, para siswa membersihkan kelas terlebh dahulu.  Tetapi, bagi siswa yang mengikuti kegiatan ekstrakulikuler untuk latihan dan lain sebagainnya. Untuk siswa kelas 3, kebanyakan mereka mengikuti les di luar sekolah (juku) sebagai persiapan ujian semester dan ujian masuk perguruan tinggi. Di Jepang, tidak ada ujian nasional, ujian akhir sekolah, maupun ujian praktek. (hal. 300)
·         Guru-guru di Jepang. Guru-guru di Jepang sangat perhatian terhadap perkembangan murid-muridnya. Mereka mempunyai gambaran yang jelas seperti apa kecenderungan murid-murid yang dihadapinya di dalam rencana pembelajaran yang mereka buat. Materi ajar untuk esok paginya benar-benar dipersiapkan dengan matang. Bahkan mereka rela pulang larut malam demi menyiapkan materi tersebut. Mereka memasuki kelas tepat waktu. Tidak terlambat dan keluar sesuai jamnya. Mereka mematuhi setiap aturan yang dibuat bersama untuk menunjukkan kepada murid-murid tentang ketauladanan (hal.275)
·         Peraturan lalu lintas. Di Jepang, pejalan kaki, mobil, motor, sepeda, dll masing-masing sudah ditentukan peraturan lalu lintasnya.  Bagi pejalan kaki, harus berjalan di sebelah kanan jalan apabila jalan raya tidak ada trotoarnya. Jika ada trotoar, pejalan kaki harus berjalan di trotoar. Mobil dan sepeda harus melewati bagian kiri jalan kendaraan. Antara pengendara sepeda atau mobil, yang diprioritaskan adalah pejalan kaki (hal. 259).
·         Biaya hotel di Jepang. Hotel di Jepang bermacam-macam harganya. Biaya murah: 1,500-5,000 yen per malam per orang. Biaya standar: 5,000 – 10,000 yen per kamar single per orang  per malam. 7,000 – 15,000 yen per kamar double semalam. Biaya mahal: > 10,000 yen per malam kamar single. >15,000 per malam double semalam. Hotel bintang 4-5: rata-rata 20,000 – 30,000 yen per orang per malam. Alternatif untuk menginap yang lain adalah ryookan (penginapan ala Jepang). Ryokan suasananya mengambil setting penginapan khas Jepang. Ruangan menggunakan tatami (tikar khas Jepang) di lantainya, tempat tidur menggunakan futon (Kasur tradisional Jepang), pintu geser sebagai pintunya dan memiliki ofuro (pemandian umum) atau onsen (pemandian air panas). Harga ryokan sekitar 2,000 – 5,000 yen per orang (hal. 239).
·         Bioskop. Bioskop di Jepang (eigakan) tergolong mahal. Harga normal karcis masuk yaitu 1,800 (kira-kira Rp 192.600). Untuk pelajar mendapat diskon menjadi 1,500 yen ( Rp 160,500). Akan tetapi, untuk kaum hawa, pelajar SMP ke bawah, orang-orang difabel, serta lansia mendapat tariff khusus yaitu 1,000 yen (RP 107,000). Lebih murah lagi untuk anak kecil sekali yaitu  9,00 yen (RP 96,300). Selain itu, setiap tanggal 1 dan 14 juga ada harga khusus untuk semua film yaitu 1,000 yen. Proses penjualan karcis bioskop dilakukan melalui vending machine (mesin penjual otomatis) atau lewat online (hal. 225).
·         Negara 4 musim. Tiap-tiap musim di Jepang mempunyai daya tarik dan keindahannya masing-masing. Saat musim semi, kita bisa melihat bunga-bunga bermekaran hampir tiap sudut kota.  Bunga sakura mekar di minggu pertama April (mekar selama 2 minggu). Bahkan orang Jepang mempunyai tradisi untuk menyambut musim semi sakura yang disebut hanami, yaitu perayaan melihat mekarnya bunga. Selain sakura, ada bunga tulip yang mekar dari pertengahan sampai akhir April, diikuti bunga-bunga lain. Saat musim Panas, kita bisa melihat langsung festival-festival di Jepang seperti pertunjukan kembang api dan berbagai tari-tarian rakyat seperti bon-odori, wa-odori,dll. Saat musim gugur, kita bisa melihat gradasi daun yang berubah  memerah dan warna-warni pepohonannya. Kuil-kuil dan tempat-tempat wisata banyak yang mengadakan light up yaitu menyorot pepohonan di waktu malam. Saat musim dingin, Jepang menawarkan berbagai wisata salju seperti main ski atau meluncur di tempat-tempat ski atau menikmati kehangatan onsen (pemandian air panas) (hal.209).
·         Pesta Perpisahan di kalangan mahasiswa. Pesta perpisahan atau oikon biasanya diadakan setelah siangnya ujian kelulusan (skripsi/tesis). Sedikit berbeda dengan Indonesia, umumnya mahasiswa di Jepang kemungkinan besar akan tamat bersama-sama dengan teman satu angkatannya. Oleh karena itu, oikon biasanya diikuti oleh mahasiswa mahasiswa yang akan tamat (tetapi belum wisuda), ditambah mahasiswa yang masih aktif, baik S1, S2, maupun S3. Pesta ini biasanya dilaksanakan 3 tahap, yaitu tahap pertama pukul 19.00- 21.00, tahap kedua 21.00- 24.00, tahap ketiga 01.00 – pagi. Acara diawali dengan kata sambutan sekaligus membuka acara dengan ‘kanpai’. Masing-masing memegang  gelas minuman alcohol, bir, atau sake.  Bagi yang tidak minum beralkohol, biasanya disediakan minuman ringan seperti jus jeruk atau minuman bersoda. 3o menit kemudian, dilanjutkan dengan acara ‘aisatsu’ berupa kesan pesan mahasiswa yang tamat. Umumnya mereka menyampaikan ucapan terima kasih kepada dosen/professor yang telah membimbing mereka selama kuliah (biasanya dosen/professor juga ikut dlaam pesta). Kemudian terima kasih kepada senior, teman angkatan, serta junior (hal 194-195).
·         Tepat waktu. Orang Jepang dikenal sangat tepat waktu. Bagi mereka, waktu adalah hal yang paling berharga. Menurut mereka, menunda pekerjaan sama dengan menambah pekerjaan. Ketika ada janji bertemu, etikanya adalah tiba 5 menit sebelum waktu perjanjian. Jika pun ada kemungkinan terlambat, etikanya adalah segera memberitahu lewat telepon. Selain itu, jadwal kereta api juga semuanya dioperasikan tepat waktu (hal. 184).
·         Makanan khas Jepang. Berikut adalah beberapa makanan khas Jepang yang popular.
1.       Miso atau sup miso: jenis sup yang dibuat dari pasta miso.
2.       Mochi: kue dari tepung beras yang ditumbuk.
3.       Nori: rumput laut yang sudah diproses dan mirip seperti kertas.
4.       Onigiri: nasi kepal, dibungkus dengan lembaran nori.
5.       Ramen: mie ala Jepang.
6.       Sake: minuman khas Jepang yang mengandung alcohol.
7.       Sashimi: irisan ikan laut mentah segar dan dimakan dengan saus, kecap asin, dan wasabi (sambal hijau pedas).
8.       Shabu-shabu: sayuran dan irisan daging sapi mentah yang dicelupkan ke dalam air panas.
9.       Soba: mi gandum yang berwarna agak kecoklatan.
10.   Sukiyaki: masakan yang direbus dan terdiri dari daging sapi, tahu, bawang, sayur bokchoy, jamur dan lain-lain.
11.   Sushi: potongan nasi yang dilapisi dengan ikan mentah dan sayuran bersama saos.
12.   Takoyaki: bola tepung yang berisi gurita yang dipanggang.
13.   Tempura: sayuran atau ikan yang digoreng dengan tepung.
14.   Udon: mi Jepang. Agak tebal irisannya.
15.   Yakitori: sate ayam ala Jepang.

·         Etika Menelepon di Jepang. Apabila anda berpergian menggunakan kendaraan umum (bis/kereta), setting lah telpn seluler anda agar tidak bordering. Dan sebisa mungkin tidak berbicara di telepon Karen akan mengganggu orang lain. Apabila duduk di tempat duduk lansia, matikanlah telepon karena sinyalnya akan mengganggu peralatan media yang dipakai seseorang. Apabila naik sepeda atau jalan kaki, sebaiknya tidak sambil menelepon atau[un mengirim SMS karena bisa saja Anda mendapat kecelakaan atau menabrak orang. Hal ini dikarenakan banyaknya orang Jepang yang lalu lalang naik sepeda atau jalan kaki. Apabila Anda hendak menelepon seseorang, sebaiknya mengirim sms dahulu untuk memberitahu bahwa Anda akan menelepon. Hal ini untuk memastikan bahwa Anda menelepon di saat yang tepat, misalnya di penerima telepon tidak sedang sibuk atau sedang di dalam kereta api dan lain-lain (hal. 153-154).
·         Biaya hidup di Jepang
Biaya hidup di Jepang tergolong mahal (apalagi dikonversi ke dalam rupiah). Berikut kira-kira perinciannya:

No.
Keterangan
Biaya dalam yen
Konversi ke Rupiah (asumsi 1 yen =
 Rp  107)
1
Biaya tempat tinggal (sewa apartemen 3x 4 m)
 63,000 yen
Rp 6. 741.000
2
Biaya makan dan minum (untuk 2 orang dengan catatan kadang masak sendiri = kadang makan di luar)
45,000 yen
Rp 4.815.000
3
Biaya transportasi: sepeda (beli sepeda), bis (jauh deket/ sekali jalan: 2,00 yen) kereta.subway (jauh deket/sekali jalan : 2,00 yen)
1,000 yen
RP 1.070.000
4
Biaya Listrik, air, gas
10,000 yen
Rp 1.070.000
5
Biaya telpon dan internet
5,200 yen
Rp 556.400
6
Biaya Hiburan
5,000 yen
Rp 535.000
7
Biaya asuransi kesehatan
7,800 yen
Rp 834.600
8
Biaya lain-lain
4,000 yen
Rp 428.000

Total biaya per bulan
150,000 yen
Rp 16.050.000

·         Budaya minta maaf. Dalam tradisi Jepang, meminta maaf dilakukan dengan formal yaitu membungkuk. Berbeda dengan membungkuk ringan saat perkenalan, membungkuk untuk meminta maaf dilakukan hampir 45 derajat. Untuk pria, tangan diletakkan di samping. Untuk wanita, tangan diletakkan di depan badan dengan posisi berpegangan. Untuk kesalahan yang berakibat fatal atau merugikan orang banyak, biasanya memohon maaf disertai dengan tindakan lain misalnya mengundurkan diri dari jabatan atau bahkan bunuh diri  (hal. 128) . (nauzubillahiminzalik!)
·         Ulang Tahun. Di Jepang, ada festival untuk merayakan hari ulang tahun khusus untuk anak perempuan yang berusia 3 tahun dan 7 tahun. Festival ini lebih dikenal dengan nama shici-go –san (7-5-3). Anak-anak tang berulang tahun pergi ke kuil dengan mengenakan kimono warna-warni. Mereka berdoa untuk kesehatan, kekuatan, dan panjang umur (hal. 116).
·         Ucapan terima kasih. Dalam mengungkapkan rasa terima kasih, orang Jepang sering membungkuk badan (ojigi) yang tidak hanya sekali namun bisa  berkali-kali. Berikut urutan ungkapan rasa terima kasih diurut dari tingkatan hormat tertinggi:
1.       Kansha o moshi agemasu. Antara mahasiswa dengan dosennya.
2.       Doomo arigatoo gozaimasu. Formal. Untuk orang lain.
3.       Arigato. Terima kasih yang standar.
4.       Doomo. Untuk orang yang sudah akrab.
5.       Sankyu. Thank you versi Bahasa jepang. Biasanya dipakai anak muda Jepang dengan tulisan angka 39 yang artinya san (3), kyu (9). Hal 105.
·         Mata Uang. Mata uang jepang adalah ye. Terdiri dari koin dan uang kertas. Koin (1 yen, 5 yen, 100 yen, dan 500 yen). Kertas (1,000 yen/ 2,000 yen / 5,000 yen / dan 10,000 yen. Angka ribuan menggunakan tanda koma bukan titik. (Hal 95)
·         Bertukar hadiah. Bertukar hadiah di Jepang sangat penting. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. A. jika anda diundang ke rumah orang jepang, jangan lupa membawa hadiah/oleh-oleh. Bungkuslah serapi mungkin. Meski hadiahnya tidak tergolong mahal. Jika nada orang asing, lebih baik memberikan hadiah yang khas dari negara Anda. B. Jika anda menerima hadiah dari orang jepang, maka fotolah hadih itu bersama dengan orang yang memberi hadiah. C. Jika ada tetangga baru yang pindah, maka kunjungilah dengan membawa buah/bingkisan/kue/kopi (hal 61-62).
·         Melepas Alas Kaki. Jika Anda akan masuk ke rumah atau toilet yang ada di rumah orang Jepang, jangan lupa untuk melepaskan sepatu/sandal toilet yang sengaja disediakan oleh empunya rumah. Melepas alas kaki juga berlaku di semua tempat yang di dalamnya terdapat tatami (tikar  tradisional Jepang) misalnya di chasitsu (rumah minum teh), restoran yang memakai tatami, dan lain-lain (hal 52).
·         Bertukar kartu nama. Di Jepang, ada kebiasaan untuk saling bertukar kartu nama saat berkenalan. Apalagi dalam melakukan bisnis, bertukar kartu nama sangat penting untuk menjalin hubungan bisnis yang serius. Pada saat menerima kartu, sudah merupakan kebiasaan untuk segera membalas memberikan kartu nama Anda. Karena kalau tidak, berarti Anda tidak punya niat yang serius untuk menjalin bisnis. Kartu nama harus diterima dengan kedua tangan. Setelah menerima kartu nama, biasanya orang Jepang sangat bersemangat untuk mengomentari, misalnya komentar perusahaan, nama, dan tempat kuliah. Namun, perlu diingatkan bahwa dalam budaya Jepang, tidak sopan menanyakan hal pribad, misalnya usia, no. telepon, dan keluarga kepada orang yang baru dikenal.
·         Nama orang Jepang. Terdiri dari nama keluarga dan nama sendiri. Misalnya Tanaka Aiko. Tanaka (nama keluarga), Aiko (Nama Sendiri). Di Jepang, biasa dipanggil nama keluarga (Tanaka-san). Tapi, kalau sudah akrab dan sebaya, maka dipanggil nama sendiri. Misalnya Aiko-san.
·         Etika Salam membungkuk (Ojigi). A. memberi salam (membungkuk sedikit), b. menghormati / mengambut tamu (membungkuk badan agak dalam), c. memperkenalkan diri (tidak ada berjabat tangan dalam perkenalan).

  Hari libur di Jepang..check this out!


“Demikian resume buku yang saya dapat sampaikan. Mudah-mudahan bermanfaat dan menambah pengetahuan kita seputar Jepang dan mudah-mudahan kita bisa berkunjung ke negeri bunga sakura ini. Sampai ketemu di lembar resume buku selanjutnya. ”Sayonaraaa ^_^
               

Jakarta, 10 Februari 2018

Comments

Popular Posts