Tentang Rasa

 Jika kegeniusan seorang perempuan adalah ancaman,
maka adakah ruang baginya untuk menyembunyikan kegeniusan itu?
Lalu berpura-pura berkata, -aku bodoh-
     


Tahun 2016, aku menulis naskah novel berjudul 'Profesor Tania', cerita tentang kegeniusan wanita yang belia. Sebelum dia menutup mata, dia menemukan pangerannya, yang benar-benar pangeran. Kisah ini berakhir tragis karena sang profesor harus meninggal. Penokohan dilanjutkan oleh Adik Kembarnya yang bernama Lania (seorang Hafiza; penghafal Al-qur'an), yang sedang melanjutkan studi di Jerman. Takdir membawa Lania bertemu dengan sang pangeran almarhumah Kakaknya, di situlah Lania tahu bahwa dia mempunyai saudara kembar yang telah meninggal. Tania dan Lania dua wanita yang sama-sama cerdas. Kecerdasan genetik yang membuat mereka memiliki kemampuan fotografi memory sistem. Tania memanfaatkannya dengan studi psikologi yang mengantarkannya menjadi profesor wanita termuda di usia 21 tahun. Dan Lania menggunakannya untuk menghafal Al-qur'an. Keduanya sama-sama jenius. Lalu, pertanyaannya, bagaimana tentang rasa? Apakah sama, perasaan yang dimiliki Tania kepada Taufan (suaminya) ? Ataukah Lania punya defenisi sendiri tentang rasa? 
Lania, dengan segenap rasa yang dia punya, ingin mencari tahu, seperti apa cinta yang sebenarnya? Apa cinta adalah sebentuk penjagaan yang diberikan Oscar kepada Lania ketika dia dikejar pemuda-pemuda di Jerman? Ataukah cinta yang selalu tersembunyi dari Sosok Mangku Adi Seseorang yang tiba-tiba datang ke hidupnya sebagai sahabat dari tanah Borneo?

Baik Tania maupun Lania, mempunyai definisi tersendiri. Jika Sang Profesor masih hidup, tentu dia ingin melaksanakan tugasnya sebagi istri yang baik bagi Sosok Pangeran Taupan, melepaskan jubah kegeniusannya. Jika Sang Profesor muda masih hidup, ia sangat ingin menikmati menjadi putri kerajaan dan menemani Pangerannya. Tapi, kegeniusan itu telah merenggut setiap impian Sang Profesor. Lalu, adakah angan yang sama di benak Lania? Apakah penghafal qur'an itu juga memiliki niat yang sama? Menikmati apa itu rasa, menterjemahkannya, atau justru dia kembalikan semua rasa pada kalam ilahi yang menetap di otaknya?

Lania ingin mengikhlaskan segala. Dia teringat apa yang sudah dicontohkan Sayyidah Fatimah dan Ali Bin Abi Thalib. Kisah cinta yang agung dalam sejarah peradaban Islam. Dia tidak ingin terjebak sebagaimana Laila dan Majnun dalam  Sejarah Sastra Persia.

Tentang Rasa..
Baik Tania maupun Lania..
keduanya hampir sama
mereka hanya ingin..
jatuh cinta..
pada orang yang tepat.



Jakarta, 7 Mei 2018
Untuk siapa saja..
Yang belajar mengikhlaskan.

Comments

Post a Comment

Popular Posts