Filosofi Laptop


Tangerang, 25 April 2019

Hari Kamis, Pukul 07.50 WIB

                Alhamdulillah, hari ini aku masih bisa menuliskan sesuatu di laptop ini. Oiya, ini adalah laptop suamiku. Tepatnya ini adalah notebook merek asus berwarna hitam. Tadinya notebook ini ‘rusak’. Layar LCDnya pecah dan tidak bisa dipakai sama sekali. Tapi, Alhamdulillah, hari ini notebook ini bisa dipakai seperti biasa, bahkan performa dari notebook ini lebih baik dari sebelumnya. Aku sangat senang. Aku izin pada suami untuk bisa tukaran laptop. Suamiku memakai laptop Asus warna putih milikku yang berukuran 14 inc dan aku memakai notebook asus warna hitamnya yang berukuran 10 inc.
                Suamiku mengizinkan aku memakai notebook-nya. Kami pun tukeran. Aku senang, karena aku tidak harus menenteng laptop yang berat di saat aku hamil tri semestaer kedua awal. Ya, aku memang tidak disarankan membawa barang yang berat-berat. Bahkan suamiku protes kalau aku membawa tas ransel saat berangkat kerja.
                Kini, aku resmi membawa laptop kecil ini. Aku sangat suka membawa laptop mungil ini. Aku merasa mempunyai sahabat baru. Aku senang sekali. Rasanya, semangat menulisku meningkat 200 kali lipat. Ya, aku merasa jari-jariku semakin lincah. Aku ingin selalu menulis danm menulis dengan laptop ini. Meskipun konsekuensinya aku seolah sibuk dengan ‘duniaku’ sendiri. Aku tak peduli. Lagipula, ada kenikmatan tersendiri saat menulis. Ya, aku suka menulis apapun sekarang, dan kali ini, aku ingin banyak menuliskan keseharianku dan mulai menata lagi kegiatan dan target menulis dalam hidupku.

Semua bisa diperbaiki.
Saat aku menggunakan laptop mini ini, aku menjadi teringat akan satu filosofi yang dibawa dan akan menyejarah dalam laptop ini. Ya, semenjak kondisi laptop ini rusak parah dengan kaca LCD yang pecah, aku meragukan kalau laptop ini bisa diperbaiki. Ya, aku pikir, mungkin laptop ini akan menjadi barang rongsokan selamanya. Atau akan berakhir di toko onderdill laptop untuk dijual semua barang-barang dalamnya. Tapi, ternyata prediksiku salah. Atas izin Allah, laptop ini kembali. Ya, laptop ini akhirnya diperbaiki. Suamiku membawa laptop putih ke tempat servis, dan di luar dugaan, dia juga membawa laptop ini. Akhirnya, setelah diservise, kedua laptop kami bisa beroperasi seperti biasa, dengan performa yang jauh lebih baik.
Dari situ, aku ingin memakai laptop ini. Bukan untuk sekedar menggunakan, tapi aku ingin ketika aku menggunakan laptop ini, ada filosofi yang selalu aku kenang, bahwa “semua bisa diperbaiki”. J

Pemikiran Praktis seorang Laki-laki
Tidak bisa dipungkiri, bahwa peran suami sangat besar untuk masalah ‘perkomputeran’ dalam rumah tangga kami. Ya, semenjak menikah, aku jadi paham, bahwa laki-laki mempunyai pemikiran praktis yang membuat mereka bertindak sangat solutif. Maksudku, saat ada masalah, laki-laki langsung berekasi cepat, mungkin tidak semua laki-laki, Alhamdulillah, suamiku termasuk pria yang berpikir solutif.  Banyak hal yang khususnya menyangkut computer, listrik, elektronik, hp, yang membuat suamiku unggul ketimbang aku. Jika aku begitu pasrah jika ada hal-hal yang rusak, maka suamiku berbeda. Dia akan mencari cara untuk memperbaikinya. Aku sangat ingat, ketika laptop asus warna putih rusak, suamiku langsung mengambil obeng kecil dan membongkar laptop itu. Dia seolah petugas servis yang menganalisis kerusakan. Aku melihat langsung kerangka laptopku yang selama 5 tahun aku menggunakannya, belum pernah aku melihat laptopku dibongkar seperti itu. Dan kini, aku semakin paham, bagaimana sosok yang bernama suami itu mencari solusi atas masalah yang kami hadapi. Em, actualy, I admire him so much!!

Itu saja untuk ‘pemanasan’ daily note hari ini. Semoga tulisanku semakin baik dan bersemangat!!!

Salam,
J



Comments

Popular Posts