Menulis dalam Gelap
Salah satu cita-cita yang tak boleh hilang dalam hidupku adalah aku ingin menjadi penulis. Ya, penulis. Karena di situlah aku bisa mengeksplore duniaku. Aku tak peduli seberapa larut waktu yang aku miliki. Aku juga tak peduli seberapa penat. Yang terpenting bagiku, saat aku butuh menulis, aku bisa melakukannnya.
Sampai detik ini, aku memang bukanlah penulis. Aku hanya seorang amatir yang entah kapan akan bisa menjelma menjadi penulis beneran. Aku hanyalah nol koma sekian partikel dari jutaan penulis di luar sana. Sekarang aku sadar, aku lebih kecil dari butiran debu.
Semua yang aku baca dari buku-buku novelis kini seperti sebuah dongeng belaka. Man Jadda Wa jadda, ketika cinta bertasbih, laskar pelangi, dan bku-buku best seller yang aku baca hanyalah seperti dongeng tak hidup. Aku kini hanyalah seorang yang payah, yang tidak bisa mewujudkan apa yang ada di kepalanya. Apa aku kecewa? Iya, aku kecewa kerena aku seumpama kecambah yang tidak tumbuh. Aku seperti kecambah kurang gizi. Pada akhirnya, aku hanyalah penonton. Aku tidak punya karya untuk kuwariskan ke anak cucu. Aku benci, kenapa aku mempunyai cita-cita yang bahkan aku sulit mewujudkannya? Kapan aku bisa mengingkirkan passion palsu ini dari kepalaku? Kenapa dia terus hadir dan membuatku seolah-olah ingin berteriak, jangan menyerah, karyamu pasti akan terbit dan kau akan bersinar!
Tapi, kenyataannya, aku tak lebih dari pecundang. Aku tak punya apa-apa sekarang, aku sudah lelah menulis dan aku ingin berhenti menulis. Aku tidak tahu, apa yang aku sukai kalau seandainya aku berhenti menulis. Tapi, kalau aku lanjutkan impian semu ini, aku justru akan sakit hati.
Aku kini menulis dalam gelap. Aku tidak tahu kemana aku harus membagi ceritaku. Tak semua orang mau mendengarkan. Aku merasa, aku telah gagal. Aku bukanlah penulis. Aku mungkin, pecundang.

Comments
Post a Comment