Terima Kasih Ramadhan

 


Ramadhan telah berakhir. Selama satu bulan penuh, pribadi kita ditempa menjadi pribadi yang ‘baru’. Kita berlomba dalam ketaatan di bulan nan suci. Kita berharap bertemu kembali. Kita berharap menjadi pemenang di hari Raya nan fitri.

Pernahkan kita berterima kasih kepada Allah Ta’ala karena sudah menghadirkan Ramadhan? Dalam 12 bulan, Allah berikan satu bulan untuk kita ‘menyucikan’ diri. Yang ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi, lebih ta’at, lebih islami, Ramadhan bisa jadi waktu yang tepat untuk memulai kebaikan-kebaikan.

Berbagai kesempatan Allah kasih. Puasa, mengaji, sholat berjama’ah, bersedekah, menjaga lisan, menutup aurat, qiyamul lail, dan semua kesempatan baik yang tentu pahalanya dua kali lipat bahkan lebih. Belum lagi Allah Ta’ala berikan malam lailatul qodar yang lebih baik dari seribu bulan.

Atmosfir Ramadhan pun terasa berbeda dari bulan yang lainnya. Di kota, di desa, di lingkungan rumah, di masjid, di tempat kerja, suasana menjadi berbeda karena Ramadhan. Belum lagi saat waktu orang-orang membangunkan sahur dengan suara yang gemuruh, menabuh gendang, menabuh bedug, menabug gallon air, bahkan membunyikan petasan. Kita sepertinya akan merindukan moment-moment itu saat Ramadhan usai.

Ramadhan mengajarkan kita banyak hal dari beragai sisi. Sisi agama, jelas ini adalah bulan suci dengan banyak kebaikan dan berkah Ramadhan. Setan dibelenggu, kebaikan dibayar berkali lipat, dan do’a diijabah. Dari sisi kemanusiaan, Ramadhan mengajarkan kita untuk peduli dan berbagi. Sedekah di bulan yang mulia ini jelas menjadi sedekah yang terbaik dari sekian banyak waktu bersedekah. Kita menjadi peka untuk membantu meringankan beban orang lain. Kita menjadi peduli karena merasakan kelaparan yang juga dirasakan oleh orang yang harus menahan lapar karena sulitnya hidup. Orang-orang yang tidak berpuasa menjadi toleran dan menahan diri dari makan di depan umum. Di sisi kejujuran, puasa mengajarkan kita untuk berlaku jujur, meski tanpa pengawasan. Alangkah indahnya jika diluar ibadahpun, prinsip ini tetap dijunjung tinggi. Maka, saya yakin korupsi akan berkurang dan mungkin penjara kosong oleh koruptor kalau saja jujur dan amanah menjadi landasan utama. Jujur karena segala gerak gerik kita dilihat dan disaksikan Allah Ta’ala dan malaikat siap mencatat apa saja yang telah kita perbuat. Dari sisi kedisiplinan,Ramadhan mengajarkan kita untuk disiplin dan manajemen waktu. Kita menjadi lebih aware bangun malam, disiplin ikut sahur, dan menerapkan anjuran-anjuran saat berbuka, misalnya berbuka dengan yang manis, memakan kurma, dan lain sebagainya. Kita juga memanfaatkan waktu yang banyak untuk berinteraksi dengan Alqur’an. Bahkan dari sisi ekonomi, Ramadhan juga momentum para pedagang meningkatkan omset dagangannya, misalnya para oedagang makanan yang menjajakan iftar. Ini semua bukti keberkahan Ramadhan dari berbagai sisi yang jika semua kita uraikan, maka mungkin tak akan cukup laman ini.

Terakhir, untuk Ramadhan yang suci dan mulia. Meski engkau sudah selesai, kau akan tetap ditunggu. Kau akan tetap menjadi bulan yang sangat menyenangkan dengan kebiasaan-kebiasaan yang menyenangkan pula. Kita bisa jujur dengan diri sendiri, apakah kita sudah ‘sukses’ di Ramadhan ini? Apakah target amalan-amalan yang ingin kita lakukan sudah tercapai? Apakah diri kita sudah ringan untuk bersedekah, mudah melayangkan senyum silaturahmi, atau justru sebaliknya?

 

Terima kasih ya Rob, sudah menghadirkan Ramadhan di tengah-tengah hamba-Mu yang banyak lalai ini, sehingga saat Ramadhan inilah, salah satu momentum untuk lari marathon dalam kebaian sehingga bekal ini bisa dipakai di bulan-bulan selanjutnya.

 

Tangerang, Mei 2021/ Syawal 1442 Hijriah

 

 

 

 

 

 

Comments

Popular Posts