Hati Manusia

 Foto: my daughter and I

Hari ini aku membaca sebuah buku saku. Salah satu nasihat apik yang aku dapat adalah tentang hati manusia. Hati manusia itu mudah sekali berubah. Pagi dia beriman, siang dia masih beriman. Sore dia maksiat. Malam, dia beriman lagi.

Ini relate banget dengan kondisi saat ini. Yah, contoh kecilnya bisa dijumpai saat waktu sholat. Subuh, iman lagi semangat karena sekalian berangkat kerja. Siang masih sholat dzuhur bareng rekan kerja. Sore, terjebak macet bla bla bla, akhirnya Ashar dan Maghrib di perjalanan. Next, malam dia justru sholat. Mohon ampun atas dosanya hari itu yakni Ashar dan maghrib yang bolong.

Well, selanjutnya nasihat itu juga relate banget dengan umur manusia. Waktu kecil rajin banget ke masjid, ngaji, belajar. Waktu udah remaja dan lagi jomblo seneng banget denger kajian. Begitu sibuk dikit, mulai tuh dhuha ilang, tahajud kecapean, puasa sunah tak berbekas, sedekah kalo inget. Udah masuk umur 40 baru sadar dan disadarkan oleh penyakit, oleh kesendirian. Akhirnya umur 50 an baru mau ngaji. Baru mau yasinan, tahlilan, syukuran. Sisa umur baru diajak taubat. Yah, masih alhamdulillah daripada tidak sama sekali.

Lalu, di posisi manakah kita? Semoga kita bisa jujur, mau jujur pada diri sendiri. Jangan sampai kita baru mau jujur saat sudah terbujur (meninggal). Lalu, bagaimana solusinya? Salah satunya perbanyaklah baca do'a: "Yaa Muqollibal Qulub. Tsabbit qulub ala dinik". Artinya : Duhai (Allah) yang maha membolak-balikkan hati, condongkanlah hatiku kepada agamaMu.

Kita memohon kepada Allah agar hati kita cenderung pada ajaran-ajaran Islam dan jangan menjauh darinya sedikitpun.

Perbanyak do'a tersebut. Semoga kita tergolong manusia yang istiqomah..dimanapun dan kapanpun.

Agar kita bisa memiliki bekal pulang kampung ke akhirat kelak.


Aaamin ya robbal alamin.


Note:
Tulisan ini tidak bermaksud menggurui :)
Penulis masih terus belajar :)
Jazakumullah khairan

Comments

Popular Posts