Jika sedang tidak baik-baik saja
Kemarin, aku curhat dengan MomY sebut saja begitu tentang perilaku tentanggaku yang subhanaullah, menguji kesabaran. MomY memberiku nasihat dan dari curhat, aku mendapat banyak saran. Aku juga curhat ke ibuku tentang anak, tentang kondisiku, karena aku 'patut' memberi kabar agar ibuku tak khawatir. Dari obrolan itu, kami jadi akrab. Sebenarnya, banyak yang ingin aku ceritakan pada ibuku, tentang lelahnya toilet training, tentang kegalauanku, tapii..aku memilih menyortir itu dan hanya bercerita seputar hari2ku bersama putriku. Di medsos? Big no. Aku tidak memilih medsos untuk ajang curhat. Tidak sama sekali. Lebih baik aku berbagi pesan kebaikan di medsos. Lalu, aku menulis saat aku kesal. Aku menyampaikan uneg-,unegku kepada suami pad selembh kertas yang kuselipkan di dompetnya. Dengan pulpen merah, tulisan kapital semua, aku menuliskan kekesalanku. Urusan dibaca atau tidak, ga masalah, yang penting aku sudah memberi uneg2 ku. Bagiku, itu sudah alhamdulillah.
Saat aku kesal, aku tak akan memasak. Aku tak mendulang pahala dari menyiapkan bekal makanan. Tak apa2. Daripada aku tak ikhlas memasak dan masakan jadi ga enak. Aku tak akan masak banyak saat aku menemukan sisa makanan kemarin yang basi. Bagiku, jika ada makanan yang tidak dimakan, artinya aku harus mengurangi porsi masak. Aku akan masak untuk sekali makan. Beres!
Begitupun saat aku sudah tak peduli. Aku yang biasanya cerewet ini itu, saat aku tidak punya kepedulian, aku tidak akan bicara, menegur, ataupun tersenyum. Tidak sama sekali. Aku yang biasanya ramah akan berpaling. Aku yang biasanya peduli akan acuh. Aku berpikir, aku hanya akan peduli pada yang peduli, aku hanya akan care pada yang care. Aku hanya hormat pada yang layak kuhormati. Titik.
Saat aku kecewa. Bukan marah tapi kecewe. Ini level yang lebih tinggi dari marah. Aku berharap, Allah menjauhkan aku dari orang tersebut. Aku meminta Allah menjauhkanku sejauh-jauhnya. Ini pernah terjadi pada seseorang yang numpang di rumahku. Dengan attitudenya yang nol, aku dibuat kecewa. Aku meminta Allah untuk mengabulkan doaku. Akhirnya, orang yang numpang itu ngekost. Saat aku kecewa sangat kecewa dengan seseorang, tiba2 orang itu sakit. Aku mendapat kabar. Kubenar2 merasa keadilan itu ada untuk mereka yang terdzalimi.
Aku membawa keluh kesahku di tahajud. Aku menangis di depan Rabbku. Menangis, mengaduh, tak masalah bagiku di hadapan Allah. Toh, semuanya memang lemah di hadapan Allah.
Semakin ke sini, aku semakin tahu, apa yang aku lakukan di atas adalah murni ingin membebaskan hatiku dari beban yang dia pikul. Jika ingin menangis, menangis, jangan membatin. Menangis saja. Jika ingin diam, diamlah, jika ingin marah, marah aja. Jujurlah perasaan karena kita bukanlah malaikat. Jika ingin cuek-cuek aja. Jika ingin mager, mager aja. Aku tidak ingin membebani hati.
Nah, setelah suasana hati baik, maka hari kita akan baik bukan?
Kita bisa masukan ayat2 Alquran, kita bisa baca, bisa masak, bisa dzikir, bisa main sama anak, dll.
Jangan pura-pura baik.
Jangan pura-pura bahagia.
Tapi, jadilah pribadi yang cerdas mengelolah KESEHATAN HATI kesehatan MENTAL :)

Comments
Post a Comment