Dewasa Itu (Harusnya) Menjadi Lebih (Pintar)

Yang terbesit di otak gue siang ini adalah satu tanda tanya yang mungkin tak seharusnya dilontarkan bagi mereka yang sudah dewasa. Apa itu artinya gue belum dewasa? Entahlah..kata temen gue yang cukup bijak...dewasa itu tergantung waktu..waktu dan pengalamanlah yang membuat seseorang menjadi dewasa. Tapi...makin ke sini, gue justru kangen dengan kebiasaan kecil gue. Masa dimana gue kudu patuh dengan aturan ibu yang kudu inilah itulah. Juga harus terbiasa dengan aturan ayah yang bilang 'jangan balik malem'. Tapi...semakin dewasa...gue semakin nyadar. bahwa kedewasaan telah melewati batas aturan ayah bunda kita jaman dulu. Kedewasaan yang menuntut kita untuk bertanggung jawab dan tangguh malah justru membuat lingkaran dan siklus rutinitas baru. Kita tak lagi bisa berselimut di jam sembilan malam sambil membaca buku favorit atau gosok gigi sebelum tidur. Semakin dewasa...kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah sebisa mungkin ditanamkan kedua orang tua kita malah perlahan pudar. MAsih menjadi ragu sekaligus tanda tanya besar..Apakah, Dewasa itu akan membuat gue tambah pintar, atau sebaliknya?
Meski gue akui, di dunia nyata ini, setiap orang dewasa dituntut tanggung jawab. Itu mengapa, orang dewasa yang sudah siap, baik mental maupun finansial, memutuskan untuk menikah. Sebuah ikatan yang mempertemukan dua sejoli yang sah secara di mata hukum, masyarakat, dan agama.
Kedewasaan juga membuat seseorang lebih berpikir logis. Tegoklah para sarjana yang dituntut menulis aturan baku dalam sebuah skripsi/tesis/ atau disertasi. Di dunia kerja, kinerja kita juga diukur dengan sejauh mana kita mempelajari materi presentasi. Di dunia masyarakat, kita dituntut untuk mengenal satu sama lain. Di dunia self service living, kita dituntut untuk mampu. Mampu apa? Nyuci sendiri, mengatur hidup sendiri, juga beribadah sesuai dengan apa yang menjadi kewajiban kita. Kita juga harus lebih hati-hati dengan apa yang kita ucapkan. Banyak mata-mata yang ada di mana-mana dan akan merekam gerak-gerik kita.
Gue masuk ke masa dewasa. Masa gue harus merelakan semua mimpi yang belum tercapai atau justru tetep konsisten bahwa masih ada hari esok yang akan memberikan harapan pasti ke mimpi yang gue bangun. Saat gue terpuruk, gue mesti sadar, ada yang lebih terpuruk. itulah bedanya,,,Orang dewasa yang meratapi idup tidak lebih dari sekedar anak kecil yang kehilangan permen. Gue kadang berpikir...menjalani kehidupan dewasa sama halnya dengan menjalani hidup. Ya...kadang..dimana pun gue berasal, gue seolah menjalani hidup. Hidup untuk dijalani jangan sampai hidup itu berhenti. Tapi kadang, gue bertanya..apa selama gue menjalani hidup ilmu gue bertambah? Ada tanda tanya besar? Ada masa yang selamanya tak bisa kita genggam. Ada pelajaran yang mungkin samar. Hari ini,....gue menarik napas panjang. Menghembuskan kekesalan di setiap hembusan panjang napas yang keluar dari rongga hidung gue. Jari-jaro gue gemetar saat menulis ini dan gue yakin, aliran darah gue pun juga. Entah kenapa...tapi yang jelas...gue harus bersyukur pada masa ini. Masa ketika gue kudu memutuskan menjalani hidup apa adanya atau menjalani hidup dengan mimpi yang kini mulai tak didengar orang. Bahkan gue kehilangan rasa percaya untuk mewujudkannya. Cuma ibu gue...satu-satunya wanita di dunia ini yang mau mendengarkan gue. mendengarkan impian gue yang sampai sekarang masih bersarang. Em...bertahanlah Dwi...masih ada hari esok. Masih ada kesempatan untuk menciptakan kesempatan. Semua akan indah pada waktunya. Biarkan kedewasaan itu membuat kau tambah pintar. Bukan pintar secara literal atau angka, tapi lebih ke pintar memahami situasi dan mendayagunakan hati. Semangat!!! Semangat!! Semangat!!!

Comments

Popular Posts