Gue nulis lagi..YAAA...GUE NULIS LAGI.. :D
Seneng rasanya bisa nulis lagi. Seneng rasanya bisa meluapkan semua rasa yang tadinya gue simpan di organ bernama hati, ke helai-helai kertas kosong. Gue suka menulis. Bahkan jatuh cinta untuk selalu menulis. Tadinya, gue pikir kebiasaan nulis diary yang gue lakuin saat SD itu bakal pudar, sepudar cita-cita SD gue yang ingin jadi dokter. Tapi gue salah. Salah satu hal yang sampai saat ini rutin gue lakuin (selain sholat lima waktu..hehe), ya...nulis. bagi gue, nulis adalah terapi mood. Gue bisa tahu grafik mood yang ada dalam diri gue. Dari tulisan yang menggambarkan betapa senangnya gue saat ada orang yang gue harapkan datang, betapa happy nya gue saat tau kabar si dia, dan betapa terharunya gue saat gue mudik selama seminggu di lebaran, sampai betapa jengkelnya gue dengan orang yang selalu merendahkan dan menghina orang lain di depan umum. Membaca buku diary yang gue tulis sendiri membuat gue mengenang hari-hari yang telah lalu. mengulik kembali hati yang luka, bahkan berusaha menutupi hati yang luka dengan seutai kalimat ajaib "ini pasti ada hikmahnya". Saat gue diam dan berbicara dalam hati, gue nggak sabar untuk menulis semua rasa yang gue punya. Ada hal yang tadinya hanya gue dan hati kecil gue yang tau, tapi..ternyata gue sendiri nggak sabar buat lebih menuangkan apa yang gue rasa, apa yang gue alamin, apa yang gue liat, dan apa yang gue lakukan dalam sebuah tulisan. Gue punya gitar di kamar yang bisa gue petik untuk menghilangkan jenuh, punya hiburan dari tv di tab yang gue punya, punya boneka beruang nan manis, Nico, yang bisa gue peluk kapan aja. tapi... tetap aja menulis bagi gue adalah sebuah hal yang gak bisa gue tinggalin sebelum gue tidur. He..terdengar sangat kekanakan. tapi itu lebih baik ketimbang ngedumel nggak jelas. Gue dan kehidupan gue yang sekarang, hanya gue yang mungkin bisa mengerti. orang-orang yang sekarang hanya mengingat gue sebagai pribadi yang sekarang, pribadi yang kadang moody, kadang diam, kadang banyak ngomong. Gue pikir, kertas kosong yang gue miliki di lembar-lembar diary jauh lebih suci ketimbang manusia yang punya dua telinga dan satu mulut. BUKAN. Bukan berarti gue nggak percaya untuk membagi cerita gue ke orang lain. Tapi..gue belum nemu orang yang tepat untuk mendengarkan cerita seorang Dwi Permatasari dan mimpi-mimpi sederhananya. harapan yang gue punya takut membuat orang menilai gue sebagai pungguk yang merindukan rembulan. maka dari itu, gue lebih memilih kertas-kartas kosong untuk bercerita. cerita tentang gue dan dunia yang gue lihat dari dua bola mata gue. Em.....udah ah...waktunya lanjut ke file file yudisium hari ini..(terima kasih sudah membaca :)

Comments
Post a Comment