Dare to be Right One

Berani jadi orang benar itu kadang-kadang butuh keberanian yang extra dan intuisi yang kuat mengenai kebenaran yang kita perjuangkan. Beberapa hari ini gue mengalamin saat-saat di mana gue kudu membenarkan apa yang seharusnya benar dan kudu menegur apa yang perlu ditegur. Em..apakah itu gejala-gejala menjelang kedewasaan pribadi gue. Entahlah..yang jelas,,,gue punya alasan kenapa gue kudu menegur apa yang harus ditegus. Contohnya pagi ini...ya..kejadian pagi ini yang membuat gue harus mengumpulkan keberanian dan mengusir nervous yang ada untuk mengeluarkan beberapa kalimat teguran. Em..mungkin sepele bagi orang yang tidak peduli. Tapi bagi gue..itu suatu hal yang akan kudu dibenarkan. Pagi ini, seperti biasa, setelah naik transjakarta yang turun di halte kebon jeruk, gue nyembung angkot B03 yang memiliki rute di jalur meruya. Angkot itu dikemudikan oleh seorang pria yang kira-kira berumur 30-an dan seorang temannya yang bertugas memanggil-manggil penumpang, sebut dia kernet walaupun setau gue, angkota nggak mengenal istilah kernet. Gue naik angkot seperti biasanya. Dan penumpang naik dan turun silih berganti. Tinggallah beberapa penumpang yang masih duduk manis di angkot. Nah...waktu-waktu menjelang gue sampai ke kampus lah yang membuat gue kudu menegur tuh kernet alis temannya supir. Kenapa?? Karena menurut gue, sikap tubuh kernet itu tidak sopan. Dia dengan entengnya mengangkat kaki ke desk mobil. Mulanya gue pikir, mungkin nih orang nggak mengenal istilah sopan santun. Kaki kok diangkat gitu. Seumur-umur gue naik angkot, baru kali ini gue ngeliat pemandangan yang menurut gue tidak lazim dan kurang sopan. Tapi pemirsa...lupanya mata gue masih jeli untuk melihat ketidakbenaran dari sifat si kernet itu. Ya..dia dengan santainya duduk di depan samping sopir sambil angkat kaki. Kaki kanannya tepat di sebelah stiker kaligrafi Allah yang rupanya menempel di desk mobil. dan saat dia bergeser lagi, gue juga melihat stiker kaligrafi kecil bertuliskan nama Nabi Muhammad SAW. ASTAGFIRULLAHALAZIM! ALLAHUAKBAR. Gue pikir, nih orang bener-bener nggak ada bersalah-bersalahnya menaruh kakinya di antara asma Allah. dan itu BENAR-BENAR HAL YANG TIDAK BISA SAYA DIAMKAN.sepanjang jalan menuju kampus, gue mikir hal apa yang kudu gue lakukan. Haruskah gue bersikap manis dan bilang "mas, turunkan kakinya, nggak sopan?" atau haruskan gue bilang " Mas yang ganteng, turunin kakinya" tapi...ini konteksnya dia sudah menghina dua kaligrafi suci dengan menaruh kakinya di antara asma dalam stiker yang jelas-jelas dia lihat. Gue manarik napas dalam. berusaha meyakinkan diri gue kalau gue tegur tuh orang orang, artinya gue turut memuliakan asma Allah dan Rasul Allah. Saat gue turun dari angkot dan ingin membayar, dengan wajah tegas, gue bilang "Mas..kakinya dituruni. Ada kaligrafi Allah soalnya."sambil menunjuk desk mobil yang ditempeli kaligrafi. Si mas nya ikut mendengar begitu pun dengan sopirnya. saat dia mau mengembalikan ongkos seribu rupiah, gue menggeleng tanda tak perlu dikembalikan.  Jujur, gue nervous setelah mengucapkan kalimat teguran. TAkut orangnya tidak berkenan dan takut kalau dia menendai gue sebagai orang yang sok suci. TAPI, akhirnya gue nggak peduli. Yang paling gue takutkan justru ketika gue nggak punya keberanian untuk memuliakan asma Allah saat orang lain tidak menanggapi atau malah berlaku tidak sopan seperti yang si teman supir angkot lakukan. Finally, rasa gugup dan puas menjadi satu. Gugup karena gue mengegur orang yang 'nggak gue kenal', dan puas karena saya telah mengikuti kata hati saya. Karena saya tidak ingin membiarkan orang melecehkan kaligrafi suci. sekecil apapun bentuknya dan seperti apapun tempatnya, bahkan diangkot kecil sekali pun. Jakarta, 5 Oktober 2015. Salam

Comments

Post a Comment

Popular Posts