Dad's Diary
- ini draf novel yang gue tulis (7 tahun yang lalu)
Kupersembahkan coretan kecil ini…
Untuk “Baq”( Khoirul Aini) dan “Yaya”(Danilah)…
Untuk “Ayuk Ujik “(Puji Agustina) dan “Mamat” (M.Danil Timijaya)…
Untuk semua orang yang
menghargai sebuah perjuangan…
Juga untuk teman-teman SMA yang dulu sempat
tertawa ketika mendengar kata “ichiko”…
“Pada suatu masa…dalam suatu
kisah…ada cinta yang nyata…
Can’t Stop Loving Him…
Kupandangi album perpisahan
yang dipaketkan dari sekolah. Tak ada fotonya! Sedikit pun tak tampak! Kubalik
halaman per halaman album ber-cover
abu-abu itu. Nihil! Tetap saja nihil! Aku menarik napas panjang. Dalam kuhirup
oksigen ’tuk menenangkan hatiku. Avan…apa aku harus melupakanmu? Apa aku harus
menghapus perasaan yang sudah berkelibat di hatiku selama 2 tahun? Apa aku
harus menghapus perasaannya padanya? Pada Avan?
Pagi, siang, malem! Udah kayak
minum obat ku lihat album warna abu-abu itu! Berharap wajah Stuart Collin itu
muncul dan menjadi bagian dari album kenang-kenangan di masa SMA. Ah…lagi-lagi nihil!!
“Sudah dong, zi. Lo telpon aja Avan! Beres kan ?” saran Tania. Cewek
rambut kriwil-kriwil itu masih membolak-balik majalah fashion.
Hening. Aku diam. Seolah frekuensi suara Tania di bawah
25 hatz. Tapi…mana sanggup aku nelpon Avan?
Bisa-bisa jantungku copot duluan saking senengnya denger suaranya? Tapi…
“Hallo? Zien? Lo bingung?
Bimbang? Ragu? Atau apalagi kek sinonimnya? Zi..jatuh cinta itu jangan dibikin ribet..Lo
ngerasa, ungkapin, dan beres..simpel bukan?” beber Tania seolah dia sudah lama
makan asam garam masa-masa ABG fall in
love.
“Nggak, Tan. Gue udah bisa ngerasain masa SMA bareng dia
aja udah beruntung baget. Udah cukup buat gue…”
“Walau sebatas ngeliat Avan doank?” lanjut Tania.
Aku mengangguk pelan.
“Zi..Zi..gaya
lo mencintai seseorang terlalu klasik…dulu emang banyak yang bisa cidaha..but now, populasi cowok 1 : 7, so? Ungkapin perasaan lo..” Tania
menepuk pundakku. Menatapku seolah ingin memberi sedikit rasa percaya diri
bahwa Avan juga menyukaiku…ah, Tania…andai aku bisa meminjam beberapa persen dari
kadar percaya dirimu, laptop kesayanganku pun bakal aku gadaikan!!
Tania memelukku. Pelukan hangat seorang sahabat yang
bakal kurindukan…entahlah..apakah di negeri sakura aku bisa mendapatkan sahabat
seperti Tania? Entahlah…
“So?...How about Avan?” bisik Tania sebelum masuk ke
mobilnya.
“I can’t stop loving him..” jawabku lirih.
@@@
Masih kuingat kehangatan sore itu. Sabtu yang penuh
warna orange di langit. Asrama
sekolah sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berkemas meninggalkan kamar asrama.
Asrama. Tempat yang pastinya akan kurindukan. Dinding-dindingnya menyimpan
rahasia kekagumanku pada Avan. Bunga-bunga bugenfill
seakan tahu arti pandanganku pada Avan. Dan atap- atap teras selalu meneduhkan
hatiku yang berdebar bila di dekatnya. Dan senja itu, aku terakhir melihatnya
lekat di kornea mataku. Pribadi yang cuek, cool,
dan jarang sekali tersenyum. Dialah Avan…unik, seunik bunga tulip dari Belanda
dan senyumnya bak bulan sabit yang muncul sebelum purnama..indah tapi jarang
dilihat, kecuali olehku.
Hari itu begitu sulit kubaca
hatinya. Kakinya panjang dengan sikap duduk mirip Pangeran Shin di serial drama
korea Princess Hour. Sibuk dengan handphone di tangannya. Dan ketika kaki ini
akan berdiri di depannya, aku mulai gugup, mulai kikuk untuk menyalaminya sekedar
salam perpisahan..apa kesempatan ini akan ku sia-siakan? Dan benar, aku
menyia-nyiakan jabat tangan itu. Malah Pak
Akbar yang kusalami untuk berkata pamit. Sekilas kulirik Avan yang berada di
sampingnya. Jarak kami hanya 30 senti, tapi huruf “a” sekalipun tak keluar dari
mulutku. Dingin, sedingin kutub utara! Apa kepergianku bisa membuat Avan
bersuara..setidaknya itulah yang kuharapkan senja itu! Aku sengaja berjalan
perlahan. Tak kurang dari 5 menit per langkah…but,
lagi-lagi efek slow motions yang
kusutradarai sendiri tak berefek pada target, Avan! Aku menoleh, berharap
bayangan Avan mengejarku dan menyatakan perasaanya…dan aku..dan aku jatuh dalam
pelukan seseorang yang lama membuat mataku mendeteksi bayangnya.
Cut! Cut! Cut!
Gerbang sekolah terbuka
lebar..tapi hatiku terlalu sempit untuk menerima jika ini akan berakhir..
Pak Haris yang menjemputku
sudah datang. Sekali lagi aku ditampar realita! lalu wajahku diterpa angin sore
dari Timur..
@@@
Seminggu! Kutandai tanggal 14
di kalender hp ku. Sudah satu minggu aku meninggalkan asrama. kenapa ada yang
hambar di hatiku? Kenapa hatiku menuntut kata-kata dari Avan? Ah…kenapa ini?
Apa ini salahku? Salah karena menyimpan perasaanku terlalu rapat? Terlalu rapat
hingga kuncinya hanya untuk Avan? Apa aku harus melupakannya? Kenangan abu-abu yang
takkan terusir oleh waktu? Ayah..apa yang harus Zien lakukan?
“ Sudah sampai, Non” kata Pak Haris membuyarkn
lamunanku. Aku tiba di rumah
bercat putih desain Eropa. Pagarnya juga bercat putih dan ada cerobong asab di
atas rumah yang menjulang. Kawasan bukit memang dingin, mungkin itu alasan White
House, begitu aku menyebut rumah yang megah itu, ditambah
cerobong asap, atau menegaskan arsitektur Eropa di musim dingin. Pagarnya dihiasi
bunga-bunga yang bermekaran indah. Seperti aura semangat menyambut pagi, mekar
dan warna-warni. Beberapa bunga liar yang sengaja ditaman tampak melilit geruji
pagar putih . Kadang ada tanaman-tanaman aneh yang
mirip dengan tanaman di cover majalah Trubus. Cantik dan unik. Mungkin itu hasil hunting tanaman
unik di Amsterdam.
Di teras White House, seorang
wanita paruh baya berkulit putih sedang duduk di kursi sambil menikmati teh
pagi di bulan Desember. Aku memandangnya dari luar pagar dan tersenyum. Dia
belum menyadari keberadaanku karena terlalu khusuk melakukan ritual seni minum
teh. Kuperhatikan cara yang selalu diajarkannya tiap kali aku ke White House.
Minuman asal negeri Cina itu tak langsung numpang lewat di tengggorokan saja.
Bukan! Bukan begitu katanya! Tetapi harus diangkat perlahan cangkirnya dan
rasakan aromanya sampai ke hidung. Aroma melati akan merangsang indera pembau
untuk merespon sampai ke otak dan urat saraf motorik akan menyampaikan efektor
bahwa teh itu sungguh nikmat. Setelah ramuan hangat itu sah melewati
kerongkongan, aku mendekati nenek dan wanita bermata biru itu mengecup
keningku. Kupeluk nenek. Sehangat pelukan yang kuberikan untuk sahabat baikku,
Tania. Dan pelukan nenek menghapus rinduku yang teramat lama di asrama.
“Mau nyobain cake buatan nenek
nggak?” tawarnya saat melepas pelukanku.
Aku cepat mengangguk. Kami langsung
ke dapur. Menikmati cake strowberry dan secangkir
coklat panas. Berada di sini,
aku ingat Amsterdam. Tiba-tiba kurindu Ayah…
“Gimana rasanya, Zi?”
Aku mengacungkan dua jempol
sekaligus. Coklat panas benar-benar memberikan aura positif dan sedikit
mengusir kesedihanku tentang Avan beberapa persen. Ya, hanya beberapa persen!
“Oiya…Nek, Gimana..”
Kriiiiiiiiiiiiiing!! Belum sempat kalimatku dilengkapi
partikel S, P, O, K telpon di ruang tamu berbunyi. Lalu, wanita berambut putih
itu mengangkat gagang telpon, tak lama dia tersenyum padaku.
“Zien, sini…” ajak nenek dengan gagang telpon masih
menempel di telinganya.
“Ayahmu..”bisik nenek dan
memberikan telpon padaku.
“Zien!” suara ayah terdengar
dengan logat Belanda yang khas. Aku rangsung sumringah ketika ayah menyebut
namaku.
“Ayah... Apa kabar, Yah?
“ Baik, Zi. Kamu gimana? Kapan
berangkat?“
“Sekarang lagi ngurus
keberangkatan surat-surat pengantar untuk Universitas Tokyo. Sebulan lagi Zien
berangkat, Yah. Kapan Ayah pulang?“
“ Belum pasti, Zien. Karena
ayah masih ada tamu dari Kedutaan Malaysia yang akan berkunjung di Kedubes Indonesia.
Kemungkinan Ayah yang menjamu mereka saat di Amsterdam . Oke, Princess?”
Kudengarkan kata-kata Ayahku. Aku rindu suaranya yang
khas orang Belanda saat menyebut “Zien’.
“Nggak apa-apa, kok Yah. Tapi Ayah harus janji kalau Zien berangkat, ayah
harus ada di bandara ngantar Zien. Ayah jaga kesehatan.
I love u, Dad.”
“I love you, too, Zien. Take care ya…My princess.”
Tut..tut..tut.. telpon ayah terputus. Aku legah mendengar suara ayah dari negeri
kincir angin itu. Aku merindukannya. Kuletakkan gagang telpon ke tempat semula.
Menemui nenek di meja makan. Hari ini aku menginap di rumah nenek seperti
kebiasaan waktu kecil; selalu diungsikan ke White house jika ayah dinas ke
luar.
@@@
Alfa Zone
Seharian di rumah nenek , kuhabiskan dengan
membolak-balik kamus bahasa prancis atau main game di computer ruang baca. Hari
sudah jam dua sore, sesudah makan siang aku balik lagi ke ruang yang dipenuhi dempetan buku-buku tebal orang
belanda itu, dan nenek masuk ke bgian ruang lain dari white house. Kurapikan beberapa majalah berbahasa
belanda. Psti inis emua dipaketkn ayah dari kedubes. Nenek mengetok pintu ruang
baca. Kulihat ia sudah rapih dengan dandanan keibuan yng terpancar dari sketsa
stil pakaiannya.
“zien, nenek pergi dulu ya.
Ati-ati dirumah…bye cucu nenek…” nenek melambaikan tangan yang dibalut sarung
tangan berenda warna putih. Sebelum pergi nenek menyarankanku untuk berkeliling
white house. Mungkin itu akan membuatku tak bosan di sini.
Kuhentikan tanganku membuka
resep masakan di rak buku. Aku berjalan ke atas. Menaiki anak tangga-anak tanga
yang dibalut karpet merah.tangga itu dari kayau yang juga dicat warna putih.
Akhir tangga itu membawaku keloteng rumah. Loteng yanmg disulap menjadi ruangan
segitiga sam sisi yang apik. Dinding ruang itu serba putih. Aku ingat, inikan
gudang yang dibilang ayah waktu aku kecil. Gudang lama! Begitu kata ayah saat
membujukku turun dan supaya aku takkan kebagian atas ini lagi.
Pintu gudang itu tinggi
beberapa senti saaj dariku. Kulekatkan mataku pada ukiran-ukiran di depan pintu
gudang. Alfa Zone! Begitulah huruf-huruf itu kueja. Kuputar gagang pintu tua
itu dan…klik! Pintu itu terbuka.
@@@
Ketika langkah pertama kakiku masuk ke ruang itu, aku
sudah disambut tatapan gadis cantik yang terpampang di poster. Poster seukuran taplak meja yang di pasang
di dinding, di tengah-tengah spring bed. Aku yakin wanita cantik dengan blus
putih itu adalah marlin Monroe, bintang filem terkenal era 70-an yang tewas
setelah overdosis menegak obat tidur. Mungkin dia amat kecewa dengan
kehidupannya meski popularitasnya menjulang. Tebakku seperti seorang paparazzi
sok tahu.
Aku meninggalkan marlin Monroe
dan tatapannya. Ada sesuatu yang lebih unik di sebuah bupet kecil dekat tempat
tidur. Aku tersenyum kecil. Itu pasti foto ayah. Aku melangkah mendekati
bingkai foto yang agak kusam itu. Kulihat anak laki-laki dengan seragam sma sambil
memegang gitar. Rambutnya disisir model lemper atau ceper alias model rambut
bobby joseph yang kulihat di cover majalah. Ya…ternyata ayahku masuk kategori
cute dengan sisiran ala bobby joseph itu..atau malah bobby joseph yang meniru
gaya rambut ayahku? Haha..dimana-mana seorang anak pasti memenangkan ayahnya.
Begitu
pun aku!ah..nggak penting! Bingkai itu double. Ada dua foto. Foto ayahku
waktu SMA seperti yang kuceritakan barusan dan foto di sampingnya. Sepertinya
disobek begitu saja oleh ayahku untuk mendaptkan wajah gadis di bingkai itu. Ia
juga berseragam putih abu-abu. Vintage stile, begitulah pandanganku dengan
gadis dalam foto hitam putih itu. Matanya seperti mata bukan orang Indonesia .
Entah apa warna bola mata cantik itu. Yang terekam di otakku adalah hitam putih
seperti hasil foto itu. Apa ini foto ibu waktu masih muda? Tebakku pada wanita
yang telah pergi sejak aku menjadi bagian dari kehidupan di bumi. Aku
memandangnya. Mengecup keningnya dan berharap aku merasakan kehangatannya.
Ruang ini kecil, tapi terasa luas bila sudah masuk ke
dalamnya. Mungkin ayah tak pernah merenovasi. Buktinya waktu white house
diperbaiki, setahuku bagian ini tak tersentuh tangan para tukang.
Aku beranjak dari dudukku
sebentar. Menyalakan lampu supaya pandanganku luas mengamati sudut demi sudut
kamar ayah. Ruang yang membuatku bertanya-tanya seperti Sherlock Home
menyelesaikan kasus vampire of Susiex.
Vas bunga di meja belajar juga
tak luput dari pengamatan mataku yang terpesona dengan bunga tulip dari negeri
kincir angin. Bunga yang cantik, batinku walau mengetahui kalau funa di depanku
itu hanyalah imitasi dari lilin. Aku mencium banyak kisah dari barang-barang di
kamar ini. Tempat tidur, poster marlin mondro yang sinis tapi manis, bingkai
foto, juga posisi kamar ini yang seolah kental dengan memory-memori indah.
Kecermati kamar ini dari plapon, dinding, serta lantainya. In conglution, kamar ini punya cerita!! Kataku setengah
berteriak. Ah, mungkin aku terlalu banyak membayangkan wajah karton shinichi
Kudo atau belagak sok tahu seperti detektif Kogoro Mori! Sok tahu dan sok
mendramatisir.
Aku membaringkan tubuhku di
springbad dan sesuatu mengganjal kepalaku. Kubuka
selimut tebal berwarna cream dan…
@@@
John …!!
Sebuah buku dengan cover dari dasar celana jeans telah
berada di tanganku sekarang. Ternyata benda persegi ini yang menjanggal dari balik selimut. Benda
persegi yang mungkin punya sejarah.rasa penasaran yang kupelihara sejak sma
dulu , kembali muncul. Segera ku bersihkan debu yang menempel di cover buku
yang mirip diary itu. Di halaman depan, tertulis:
Alfa Iskandar
Aku tersenyum riang! Tak salah
lagi! Seratus persen tak kan meleset!! Ini pasti diary
ayah! Diary? Ayahku punya diary? Bagaimana isinya? Apa yang ayah tulis? Apakah
sama dengan diaryku yang bercerita tentang Avan? Ayah…
Kubuka halaman kedua diary itu. Ada foto gadis yang kulihat di bingkai foto dekat
buffet. Gadis itu memakai payung berenda. Seperti noni belanda yang elegant.
Kali ini ia tersenyum. Senyum yang seolah juga mengajakku tersenyum. Deretan
giginya rapi. Mungkin ibu adalah primadona di zamannya. Aku bangga pada ayah
yang berhasil mengalahkan para romeo lain dan menjadikan menjadikan ayah
satu-satunya lelaki di hidup ibu.
Aku membuka halaman
berikutnya.
Dear john...
Detik ini adalah saksi aku menuliskan kisahku padamu, john. Ya, kau akan
kupangggil John, diary pertamaku. John, nama yang
jantle. Mungkin itun akan mewakili kejentelan John mayer, John Travolta, atau
John-John yang lain. Baiklah John, semoga kejentelanmu menular padaku sehingga
aku, seorang alf iskandar, pria yang paling tak terkenal seantero sekolah bisa
menyebut kata-kata cinta padanya. Pada seorang Isabella. Wanita dari negeri
kincir angin yang membuat jantungku berdegub kencang seperti ada sebuah kincir
raksasa yang di dalamnya. Membuat darahku mendidih tiap kali pandangan
kami bertemu. Membuat mulutku terkunci dan seolah aku adalah gunung es
antartika di matanya. Padahal aku hanyalah merpati kecil yang sangat ingin
diberinya potongan-potongan roti. Padahal aku adalah
penyair amatir yang butuh dirinya untuk inspirasi. Padahal aku hanyalah
pengecut cinta yang bersembunyi di balik keacuhan, merasa macho padahal aku
belumlah menjadi pemberani, menyatakan hatiku untuknya. Lalu kenapa aku begitu
betah dengan sikapku yang acuh tak acuh padanya? Setelah
itu rasanya ingin kulontarkan kata-kata untuknya, untuk bella. Dan ingin
kutarik ribuan ekspresi palsu tiap kali bertemu dengannya. Aku adalah alfa
iskandar yang penuh dengan kealfaan.
Alfa
@@@
Aku berhenti sejenak. Ternyata
dulu ayah adalah cowok yang cuek. Sedingin es antartika, diramu dengan sikap
acuh tak acuh. Padahal sebenarnya dia peduli dengan ibu. Ehm...apa Avan juga begitu padaku?
Kusisakan waktu sedikit untuk
berkomentar halaman ini. Dan sekarang, tanganku gatal untuk membuka
lembar-lembar John. Mataku tak sabar membaca syair-syair dari hati ayah yang
dibanjiri cinta.
Hai John,
gerimis sore ini tak hanya
menghujam bumi. Tapi gerimis-gerimis itu
juga menghujam hatiku yang kering. Hari ini aku terlah menanam benih. Benih
yang akan tumbuh selamanya dan akarnya akan kokoh di hatiku. Benih itu adalah benih-benih cinta. Ya, benih
yang baru kutanam saat mataku memandang ke arahnya dan bayangannya masuk ke
kornea mataku paling dalam., paling jels, dan hasilnya luar biasa. Nadiku
berkejaran dari jantung kembali ke jantung. Ini adalah kisahku saat pertama
kali mmelihat isabella.
Kau tahu john..ayahku, fuat
iskandar adalah seorang supir. Ia
menjual jasa antar jemput. Kadang orang mengenal ayahku sebagai supir
pribadi. Padahal bukan! Ayah hanya
bertugas mengantar jemput. Itu saja dan sedikitramah taman juga senum
bersahabat yang muncul di bawah kumis tipisnya.
Sesekali ayah disewa oleh orang-orang penting karena ayah sopir
profesional dan mengerti bahasa asing. Dulu ayah pernah belajar bahasa belanda
dan jepang. Salah satu bentuk karemahtamahan ayah membuat Mr. Rugmen percaya
pada irlander tulen macam ayahku.
Senja itu, dua koper besar
keluar dari bagasi mobil ayahku.
Mendengar mesin mobilnya, aku berlari keluar. Kutinggalkan gitar baru
pemberian ibu saat aku juara tekondo. Mungkin aku seperti anak usia 10 tahun yang kegirangan saat ayahnya
pulang. Tapi, tak apalah, john. Hari ini aku rindu dengan ayahku yang sudah 3
bulan jasa sopirnya disewa orang. Rindu dengan senyumnya dan tentu saja aku
merindukan kunci mobil untuk latihan nyetir. Bisa bawa
mobil adalah adalah salah satu targetku jika sudah kelas dua SMA.
Keluar dari pintu depan, aku
seakan dicegat oleh dua koper besar. Ayah tersenyum. Belum sempat ku
menyalaminya, ayah sudah memberi komando mengangkat salah satu koper.
Tersungut-sungut, kubawa juga koper yang beratnya minta ampun itu!
Kutaruh asal-asalan koper itu
di samping kursi tamu. Langkahku baru ingin kuayunkan dari ruang tamu ke kamar.
Tapi, ayah, pria bernama lengkap Fuad Iskandar itu memanggil namaku lengkap.
“Alfa Iskandar!“ seru ayahku
lengkap.
Spontan aku menoleh dan dengan
gerakan 180 derajat, pemandangan di depan mataku berubah menjadi taman tulip,
kincir angin, padang rumput hijau, serta dpmba-domba berbulu selembtu awan.
Tepat di tengahnya, ada dewi kayangan dari Eropa, bermata jelita, menggendong
boneka, berdiri bak patung Liberty yang agung. Sungguh cantik ia terbiaskan
dari lensa mataku. Hakikat kecantikan yang sesungguhnya melekat pada parasnya.
Tuhan...sungguh cantik ia. Tak pernah kulihat mata itu. Dari dulu smpai 5 menit
yang lalu, tak pernah!
Kupastikan dewi kayangan itu
dengan cepat kilat telah berlabu di sini. Bukan hanya di rumah ini, di ruang
tamu. Tapi, sekali lagi, ia telah berlabu di relung hatikuter dalam. Seketika,
darhku mendidih, jantungku berdegub seolah ada kincir besar di dalamnya.
Kuamati pakaiannya yang
seperti boneka. Bajunya berenda dan tangannya dibalut sarung. Bukan srung
tangan untuk mengangkat cetakan di oven. Juga bukan sarung tangan pelengkap
atribut upacara 17 agustus. Tapi...sarung tangan berenda. Sarung tangan yang
meyamarkan tangan putih bak bengkuang dikupas. Bonekanya digenggam oleh
jari-jari yang lentik. Dia terlihat manja tapi anggun. Rambutnya tergera,
diikat sekenanya tapi bisa memikat siapapun yang memandangnya. Ah...tak cukup
kata bagi penyair amatir sepertikuuntuk menggambarkan keindahan di pelupuk
mataku, John. Tapi satu yang kutahu...aku telah mengidap virus ganas. Virus
yang dalam waktu sekejap membuatku tak mampu melupakannya.
“alfa, panggil ibumu kemari.
Kita kedatangan tamu dari jauh!“ kata ayahku. Suaranya kini merdu daripada
pipit-pipit sawah.
Tak kutemukakan ibu di dapur.
Kucari di kamar mandi, tak ada. Di kamarnya pun tak ada. Kulihat di belakang
bersama enam ppot anggrek kesayangannya.
“bu, kata ayah ada tamu!“
kataku.
Ibu terlalu khusuk dengan
koleksi anggreknya. Aku mendekati ibu.
Bermaksud agar ia tak memperlambat pertemuanku dengan bidadari di ruang tamu.
Ibu, cepatlah ke depan,
batinku.
@@@
“loh...katanya ada tamu, kok malah sepi?“tanya ibu
heran. Aku pun diam-diam mengamati sekitar ruang tamu. Apa mungkin lima belas
menit yang lalu aku berhayal? Ah...tidak mungkin!
“tamu ayah tadi...“aku menggantung kalimat.
“mereka pergi sebentar. Nanti malam, mereka juga
kemari. Makanya, ibu masak yang enak.“ Pesan ayah.
Kata-kata ayah sudah menyambungkan harapan yang
tadi puspus. Aku terkesan. Ayah memang orang indonesia yang menghargai tamu.
Meski tamu itu nenek moyangnya pernah menjajah bumi pertiwi. Dan sekarang
aku....aku memang orang Indonesia yang terkena sindrom cinta pertama pada
seorang yang mungkin nenek buyut, engkong, encing, atau apalah namanya, pernah
menjajah tanah kelahiranku.

Comments
Post a Comment