Dad's Diary

- ini draf novel yang gue tulis (7 tahun yang lalu)


Kupersembahkan coretan kecil ini…
Untuk “Baq”( Khoirul Aini) dan “Yaya”(Danilah)…
Untuk “Ayuk Ujik “(Puji Agustina) dan “Mamat” (M.Danil Timijaya)…
 Untuk semua orang yang menghargai sebuah perjuangan…
Juga untuk teman-teman SMA yang dulu sempat tertawa ketika mendengar kata “ichiko”…






Pada suatu masa…dalam suatu kisah…ada cinta yang nyata…



Can’t Stop Loving Him…
Kupandangi album perpisahan yang dipaketkan dari sekolah. Tak ada fotonya! Sedikit pun tak tampak! Kubalik halaman per halaman album ber-cover abu-abu itu. Nihil! Tetap saja nihil! Aku menarik napas panjang. Dalam kuhirup oksigen ’tuk menenangkan hatiku. Avan…apa aku harus melupakanmu? Apa aku harus menghapus perasaan yang sudah berkelibat di hatiku selama 2 tahun? Apa aku harus menghapus perasaannya padanya? Pada Avan?
Pagi, siang, malem! Udah kayak minum obat ku lihat album warna abu-abu itu! Berharap wajah Stuart Collin itu muncul dan menjadi bagian dari album kenang-kenangan di masa SMA. Ah…lagi-lagi nihil!!
“Sudah dong, zi. Lo telpon aja Avan! Beres kan?” saran Tania. Cewek rambut kriwil-kriwil itu masih membolak-balik majalah fashion.
Hening. Aku diam. Seolah frekuensi suara Tania di bawah 25 hatz.  Tapi…mana sanggup aku nelpon Avan? Bisa-bisa jantungku copot duluan saking senengnya denger suaranya? Tapi…
“Hallo? Zien? Lo bingung? Bimbang? Ragu? Atau apalagi kek sinonimnya? Zi..jatuh cinta itu jangan dibikin ribet..Lo ngerasa, ungkapin, dan beres..simpel bukan?” beber Tania seolah dia sudah lama makan asam garam masa-masa ABG fall in love.
“Nggak, Tan. Gue udah bisa ngerasain masa SMA bareng dia aja udah beruntung baget. Udah cukup buat gue…”
“Walau sebatas ngeliat Avan doank?” lanjut Tania.
Aku mengangguk pelan.
“Zi..Zi..gaya lo mencintai seseorang terlalu klasik…dulu emang banyak yang bisa cidaha..but now, populasi cowok 1 : 7, so? Ungkapin perasaan lo..” Tania menepuk pundakku. Menatapku seolah ingin memberi sedikit rasa percaya diri bahwa Avan juga menyukaiku…ah, Tania…andai aku bisa meminjam beberapa persen dari kadar percaya dirimu, laptop kesayanganku pun bakal aku gadaikan!!
Tania memelukku. Pelukan hangat seorang sahabat yang bakal kurindukan…entahlah..apakah di negeri sakura aku bisa mendapatkan sahabat seperti Tania? Entahlah…
“So?...How about Avan?” bisik Tania sebelum masuk ke mobilnya.
“I can’t stop loving him..” jawabku lirih.

@@@
Masih kuingat kehangatan sore itu. Sabtu yang penuh warna orange di langit. Asrama sekolah sepi. Hanya ada beberapa siswa yang berkemas meninggalkan kamar asrama. Asrama. Tempat yang pastinya akan kurindukan. Dinding-dindingnya menyimpan rahasia kekagumanku pada Avan. Bunga-bunga bugenfill seakan tahu arti pandanganku pada Avan. Dan atap- atap teras selalu meneduhkan hatiku yang berdebar bila di dekatnya. Dan senja itu, aku terakhir melihatnya lekat di kornea mataku. Pribadi yang cuek, cool, dan jarang sekali tersenyum. Dialah Avan…unik, seunik bunga tulip dari Belanda dan senyumnya bak bulan sabit yang muncul sebelum purnama..indah tapi jarang dilihat, kecuali olehku.
Hari itu begitu sulit kubaca hatinya. Kakinya panjang dengan sikap duduk mirip Pangeran Shin di serial drama korea Princess Hour. Sibuk dengan handphone di tangannya. Dan ketika kaki ini akan berdiri di depannya, aku mulai gugup, mulai kikuk untuk menyalaminya sekedar salam perpisahan..apa kesempatan ini akan ku sia-siakan? Dan benar, aku menyia-nyiakan jabat tangan  itu. Malah Pak Akbar yang kusalami untuk berkata pamit. Sekilas kulirik Avan yang berada di sampingnya. Jarak kami hanya 30 senti, tapi huruf “a” sekalipun tak keluar dari mulutku. Dingin, sedingin kutub utara! Apa kepergianku bisa membuat Avan bersuara..setidaknya itulah yang kuharapkan senja itu! Aku sengaja berjalan perlahan. Tak kurang dari 5 menit per langkah…but, lagi-lagi efek slow motions yang kusutradarai sendiri tak berefek pada target, Avan! Aku menoleh, berharap bayangan Avan mengejarku dan menyatakan perasaanya…dan aku..dan aku jatuh dalam pelukan seseorang yang lama membuat mataku mendeteksi bayangnya.
Cut! Cut! Cut!
Gerbang sekolah terbuka lebar..tapi hatiku terlalu sempit untuk menerima jika ini akan berakhir..
Pak Haris yang menjemputku sudah datang. Sekali lagi aku ditampar realita! lalu wajahku diterpa angin sore dari Timur..
@@@

Seminggu! Kutandai tanggal 14 di kalender hp ku. Sudah satu minggu aku meninggalkan asrama. kenapa ada yang hambar di hatiku? Kenapa hatiku menuntut kata-kata dari Avan? Ah…kenapa ini? Apa ini salahku? Salah karena menyimpan perasaanku terlalu rapat? Terlalu rapat hingga kuncinya hanya untuk Avan? Apa aku harus melupakannya? Kenangan abu-abu yang takkan terusir oleh waktu? Ayah..apa yang harus Zien lakukan?
“ Sudah sampai, Non” kata Pak Haris membuyarkn lamunanku. Aku tiba di rumah bercat putih desain Eropa. Pagarnya juga bercat putih dan ada cerobong asab di atas rumah yang menjulang. Kawasan bukit memang dingin, mungkin itu alasan White House, begitu aku menyebut rumah yang megah itu, ditambah cerobong asap, atau menegaskan arsitektur Eropa di musim dingin. Pagarnya dihiasi bunga-bunga yang bermekaran indah. Seperti aura semangat menyambut pagi, mekar dan warna-warni. Beberapa bunga liar yang sengaja ditaman tampak melilit geruji pagar putih . Kadang ada tanaman-tanaman aneh yang mirip dengan tanaman di cover majalah Trubus. Cantik dan unik. Mungkin itu hasil hunting tanaman unik di Amsterdam.
Di teras White House, seorang wanita paruh baya berkulit putih sedang duduk di kursi sambil menikmati teh pagi di bulan Desember. Aku memandangnya dari luar pagar dan tersenyum. Dia belum menyadari keberadaanku karena terlalu khusuk melakukan ritual seni minum teh. Kuperhatikan cara yang selalu diajarkannya tiap kali aku ke White House. Minuman asal negeri Cina itu tak langsung numpang lewat di tengggorokan saja. Bukan! Bukan begitu katanya! Tetapi harus diangkat perlahan cangkirnya dan rasakan aromanya sampai ke hidung. Aroma melati akan merangsang indera pembau untuk merespon sampai ke otak dan urat saraf motorik akan menyampaikan efektor bahwa teh itu sungguh nikmat. Setelah ramuan hangat itu sah melewati kerongkongan, aku mendekati nenek dan wanita bermata biru itu mengecup keningku. Kupeluk nenek. Sehangat pelukan yang kuberikan untuk sahabat baikku, Tania. Dan pelukan nenek menghapus rinduku yang teramat lama di asrama.
“Mau nyobain cake buatan nenek nggak?” tawarnya saat melepas pelukanku.
Aku cepat mengangguk. Kami langsung ke dapur. Menikmati cake strowberry dan secangkir coklat panas. Berada di sini, aku ingat Amsterdam. Tiba-tiba kurindu Ayah…
“Gimana rasanya, Zi?”
Aku mengacungkan dua jempol sekaligus. Coklat panas benar-benar memberikan aura positif dan sedikit mengusir kesedihanku tentang Avan beberapa persen. Ya, hanya beberapa persen!
“Oiya…Nek, Gimana..”
Kriiiiiiiiiiiiiing!! Belum sempat kalimatku dilengkapi partikel S, P, O, K telpon di ruang tamu berbunyi. Lalu, wanita berambut putih itu mengangkat gagang telpon, tak lama dia tersenyum padaku.
“Zien, sini…” ajak nenek dengan gagang telpon masih menempel di telinganya.
“Ayahmu..”bisik nenek dan memberikan telpon padaku.
“Zien!” suara ayah terdengar dengan logat Belanda yang khas. Aku rangsung sumringah ketika ayah menyebut namaku.
“Ayah... Apa kabar, Yah?
“ Baik, Zi. Kamu gimana? Kapan berangkat?“
“Sekarang lagi ngurus keberangkatan surat-surat pengantar untuk Universitas Tokyo. Sebulan lagi Zien berangkat, Yah. Kapan Ayah pulang?“
“ Belum pasti, Zien. Karena ayah masih ada tamu dari Kedutaan Malaysia yang akan berkunjung di Kedubes Indonesia. Kemungkinan Ayah yang menjamu mereka saat di Amsterdam. Oke, Princess?”
Kudengarkan kata-kata Ayahku. Aku rindu suaranya yang khas orang Belanda saat menyebut “Zien’.
“Nggak apa-apa, kok Yah. Tapi Ayah harus janji kalau Zien berangkat, ayah harus ada di bandara ngantar Zien. Ayah jaga kesehatan. I love u, Dad.”
“I love you, too, Zien. Take care ya…My princess.”
Tut..tut..tut.. telpon ayah terputus. Aku legah mendengar suara ayah dari negeri kincir angin itu. Aku merindukannya. Kuletakkan gagang telpon ke tempat semula. Menemui nenek di meja makan. Hari ini aku menginap di rumah nenek seperti kebiasaan waktu kecil; selalu diungsikan ke White house jika ayah dinas ke luar.

@@@
Alfa Zone
Seharian di rumah nenek , kuhabiskan dengan membolak-balik kamus bahasa prancis atau main game di computer ruang baca. Hari sudah jam dua sore, sesudah makan siang aku balik lagi ke ruang  yang dipenuhi dempetan buku-buku tebal orang belanda itu, dan nenek masuk ke bgian ruang lain dari white house. Kurapikan beberapa majalah berbahasa belanda. Psti inis emua dipaketkn ayah dari kedubes. Nenek mengetok pintu ruang baca. Kulihat ia sudah rapih dengan dandanan keibuan yng terpancar dari sketsa stil pakaiannya.
“zien, nenek pergi dulu ya. Ati-ati dirumah…bye cucu nenek…” nenek melambaikan tangan yang dibalut sarung tangan berenda warna putih. Sebelum pergi nenek menyarankanku untuk berkeliling white house. Mungkin itu akan membuatku tak bosan di sini.
Kuhentikan tanganku membuka resep masakan di rak buku. Aku berjalan ke atas. Menaiki anak tangga-anak tanga yang dibalut karpet merah.tangga itu dari kayau yang juga dicat warna putih. Akhir tangga itu membawaku keloteng rumah. Loteng yanmg disulap menjadi ruangan segitiga sam sisi yang apik. Dinding ruang itu serba putih. Aku ingat, inikan gudang yang dibilang ayah waktu aku kecil. Gudang lama! Begitu kata ayah saat membujukku turun dan supaya aku takkan kebagian atas ini lagi.
Pintu gudang itu tinggi beberapa senti saaj dariku. Kulekatkan mataku pada ukiran-ukiran di depan pintu gudang. Alfa Zone! Begitulah huruf-huruf itu kueja. Kuputar gagang pintu tua itu dan…klik! Pintu itu terbuka.
                                    @@@
Ketika langkah pertama kakiku masuk ke ruang itu, aku sudah disambut tatapan gadis cantik yang terpampang di poster. Poster seukuran taplak meja yang di pasang di dinding, di tengah-tengah spring bed. Aku yakin wanita cantik dengan blus putih itu adalah marlin Monroe, bintang filem terkenal era 70-an yang tewas setelah overdosis menegak obat tidur. Mungkin dia amat kecewa dengan kehidupannya meski popularitasnya menjulang. Tebakku seperti seorang paparazzi sok tahu.
Aku meninggalkan marlin Monroe dan tatapannya. Ada sesuatu yang lebih unik di sebuah bupet kecil dekat tempat tidur. Aku tersenyum kecil. Itu pasti foto ayah. Aku melangkah mendekati bingkai foto yang agak kusam itu. Kulihat anak laki-laki dengan seragam sma sambil memegang gitar. Rambutnya disisir model lemper atau ceper alias model rambut bobby joseph yang kulihat di cover majalah. Ya…ternyata ayahku masuk kategori cute dengan sisiran ala bobby joseph itu..atau malah bobby joseph yang meniru gaya rambut ayahku? Haha..dimana-mana seorang anak pasti memenangkan ayahnya.
    Begitu pun aku!ah..nggak penting! Bingkai itu double. Ada dua foto. Foto ayahku waktu SMA seperti yang kuceritakan barusan dan foto di sampingnya. Sepertinya disobek begitu saja oleh ayahku untuk mendaptkan wajah gadis di bingkai itu. Ia juga berseragam putih abu-abu. Vintage stile, begitulah pandanganku dengan gadis dalam foto hitam putih itu. Matanya seperti mata bukan orang Indonesia. Entah apa warna bola mata cantik itu. Yang terekam di otakku adalah hitam putih seperti hasil foto itu. Apa ini foto ibu waktu masih muda? Tebakku pada wanita yang telah pergi sejak aku menjadi bagian dari kehidupan di bumi. Aku memandangnya. Mengecup keningnya dan berharap aku merasakan kehangatannya.
Ruang ini kecil, tapi terasa luas bila sudah masuk ke dalamnya. Mungkin ayah tak pernah merenovasi. Buktinya waktu white house diperbaiki, setahuku bagian ini tak tersentuh tangan para tukang.
Aku beranjak dari dudukku sebentar. Menyalakan lampu supaya pandanganku luas mengamati sudut demi sudut kamar ayah. Ruang yang membuatku bertanya-tanya seperti Sherlock Home menyelesaikan kasus vampire of Susiex.
Vas bunga di meja belajar juga tak luput dari pengamatan mataku yang terpesona dengan bunga tulip dari negeri kincir angin. Bunga yang cantik, batinku walau mengetahui kalau funa di depanku itu hanyalah imitasi dari lilin. Aku mencium banyak kisah dari barang-barang di kamar ini. Tempat tidur, poster marlin mondro yang sinis tapi manis, bingkai foto, juga posisi kamar ini yang seolah kental dengan memory-memori indah. Kecermati kamar ini dari plapon, dinding, serta lantainya. In conglution, kamar ini punya cerita!! Kataku setengah berteriak. Ah, mungkin aku terlalu banyak membayangkan wajah karton shinichi Kudo atau belagak sok tahu seperti detektif Kogoro Mori! Sok tahu dan sok mendramatisir.
Aku membaringkan tubuhku di springbad dan sesuatu mengganjal kepalaku. Kubuka selimut tebal berwarna cream dan…
@@@

John …!!
Sebuah buku dengan cover dari dasar celana jeans telah berada di tanganku sekarang. Ternyata benda persegi ini yang menjanggal dari balik selimut. Benda persegi yang mungkin punya sejarah.rasa penasaran yang kupelihara sejak sma dulu , kembali muncul. Segera ku bersihkan debu yang menempel di cover buku yang mirip diary itu. Di halaman depan, tertulis:
Alfa Iskandar
Aku tersenyum riang! Tak salah lagi! Seratus persen tak kan meleset!! Ini pasti diary ayah! Diary? Ayahku punya diary? Bagaimana isinya? Apa yang ayah tulis? Apakah sama dengan diaryku yang bercerita tentang Avan? Ayah…
Kubuka halaman kedua diary itu. Ada foto gadis yang kulihat di bingkai foto dekat buffet. Gadis itu memakai payung berenda. Seperti noni belanda yang elegant. Kali ini ia tersenyum. Senyum yang seolah juga mengajakku tersenyum. Deretan giginya rapi. Mungkin ibu adalah primadona di zamannya. Aku bangga pada ayah yang berhasil mengalahkan para romeo lain dan menjadikan menjadikan ayah satu-satunya lelaki di hidup ibu.
Aku membuka halaman berikutnya.
Dear john...
Detik ini adalah saksi aku menuliskan kisahku padamu, john. Ya, kau akan kupangggil John, diary pertamaku. John, nama yang jantle. Mungkin itun akan mewakili kejentelan John mayer, John Travolta, atau John-John yang lain. Baiklah John, semoga kejentelanmu menular padaku sehingga aku, seorang alf iskandar, pria yang paling tak terkenal seantero sekolah bisa menyebut kata-kata cinta padanya. Pada seorang Isabella. Wanita dari negeri kincir angin yang membuat jantungku berdegub kencang seperti ada sebuah kincir raksasa yang di dalamnya. Membuat darahku mendidih tiap kali pandangan kami bertemu. Membuat mulutku terkunci dan seolah aku adalah gunung es antartika di matanya. Padahal aku hanyalah merpati kecil yang sangat ingin diberinya potongan-potongan roti. Padahal aku adalah penyair amatir yang butuh dirinya untuk inspirasi. Padahal aku hanyalah pengecut cinta yang bersembunyi di balik keacuhan, merasa macho padahal aku belumlah menjadi pemberani, menyatakan hatiku untuknya. Lalu kenapa aku begitu betah dengan sikapku yang acuh tak acuh padanya? Setelah itu rasanya ingin kulontarkan kata-kata untuknya, untuk bella. Dan ingin kutarik ribuan ekspresi palsu tiap kali bertemu dengannya. Aku adalah alfa iskandar yang penuh dengan kealfaan.
                                                                                                                                                                        Alfa

                                    @@@
Aku berhenti sejenak. Ternyata dulu ayah adalah cowok yang cuek. Sedingin es antartika, diramu dengan sikap acuh tak acuh. Padahal sebenarnya dia peduli dengan ibu. Ehm...apa Avan  juga begitu padaku?
Kusisakan waktu sedikit untuk berkomentar halaman ini. Dan sekarang, tanganku gatal untuk membuka lembar-lembar John. Mataku tak sabar membaca syair-syair dari hati ayah yang dibanjiri cinta.
Hai John,
gerimis sore ini tak hanya menghujam bumi.  Tapi gerimis-gerimis itu juga menghujam hatiku yang kering. Hari ini aku terlah menanam benih. Benih yang akan tumbuh selamanya dan akarnya akan kokoh di hatiku.  Benih itu adalah benih-benih cinta. Ya, benih yang baru kutanam saat mataku memandang ke arahnya dan bayangannya masuk ke kornea mataku paling dalam., paling jels, dan hasilnya luar biasa. Nadiku berkejaran dari jantung kembali ke jantung. Ini adalah kisahku saat pertama kali mmelihat isabella.
Kau tahu john..ayahku, fuat iskandar adalah seorang supir.  Ia menjual jasa antar jemput. Kadang orang mengenal ayahku sebagai supir pribadi.  Padahal bukan! Ayah hanya bertugas mengantar jemput. Itu saja dan sedikitramah taman juga senum bersahabat yang muncul di bawah kumis tipisnya.  Sesekali ayah disewa oleh orang-orang penting karena ayah sopir profesional dan mengerti bahasa asing. Dulu ayah pernah belajar bahasa belanda dan jepang. Salah satu bentuk karemahtamahan ayah membuat Mr. Rugmen percaya pada irlander tulen macam ayahku.
Senja itu, dua koper besar keluar dari bagasi mobil ayahku.  Mendengar mesin mobilnya, aku berlari keluar. Kutinggalkan gitar baru pemberian ibu saat aku juara tekondo. Mungkin aku seperti anak  usia 10 tahun yang kegirangan saat ayahnya pulang. Tapi, tak apalah, john. Hari ini aku rindu dengan ayahku yang sudah 3 bulan jasa sopirnya disewa orang. Rindu dengan senyumnya dan tentu saja aku merindukan kunci mobil untuk latihan nyetir. Bisa bawa mobil adalah adalah salah satu targetku jika sudah kelas dua SMA.
Keluar dari pintu depan, aku seakan dicegat oleh dua koper besar. Ayah tersenyum. Belum sempat ku menyalaminya, ayah sudah memberi komando mengangkat salah satu koper. Tersungut-sungut, kubawa juga koper yang beratnya minta ampun itu!
Kutaruh asal-asalan koper itu di samping kursi tamu. Langkahku baru ingin kuayunkan dari ruang tamu ke kamar. Tapi, ayah, pria bernama lengkap Fuad Iskandar itu memanggil namaku lengkap.
“Alfa Iskandar!“ seru ayahku lengkap.
Spontan aku menoleh dan dengan gerakan 180 derajat, pemandangan di depan mataku berubah menjadi taman tulip, kincir angin, padang rumput hijau, serta dpmba-domba berbulu selembtu awan. Tepat di tengahnya, ada dewi kayangan dari Eropa, bermata jelita, menggendong boneka, berdiri bak patung Liberty yang agung. Sungguh cantik ia terbiaskan dari lensa mataku. Hakikat kecantikan yang sesungguhnya melekat pada parasnya. Tuhan...sungguh cantik ia. Tak pernah kulihat mata itu. Dari dulu smpai 5 menit yang lalu, tak pernah!
Kupastikan dewi kayangan itu dengan cepat kilat telah berlabu di sini. Bukan hanya di rumah ini, di ruang tamu. Tapi, sekali lagi, ia telah berlabu di relung hatikuter dalam. Seketika, darhku mendidih, jantungku berdegub seolah ada kincir besar di dalamnya.
Kuamati pakaiannya yang seperti boneka. Bajunya berenda dan tangannya dibalut sarung. Bukan srung tangan untuk mengangkat cetakan di oven. Juga bukan sarung tangan pelengkap atribut upacara 17 agustus. Tapi...sarung tangan berenda. Sarung tangan yang meyamarkan tangan putih bak bengkuang dikupas. Bonekanya digenggam oleh jari-jari yang lentik. Dia terlihat manja tapi anggun. Rambutnya tergera, diikat sekenanya tapi bisa memikat siapapun yang memandangnya. Ah...tak cukup kata bagi penyair amatir sepertikuuntuk menggambarkan keindahan di pelupuk mataku, John. Tapi satu yang kutahu...aku telah mengidap virus ganas. Virus yang dalam waktu sekejap membuatku tak mampu melupakannya.
“alfa, panggil ibumu kemari. Kita kedatangan tamu dari jauh!“ kata ayahku. Suaranya kini merdu daripada pipit-pipit sawah.
Tak kutemukakan ibu di dapur. Kucari di kamar mandi, tak ada. Di kamarnya pun tak ada. Kulihat di belakang bersama enam ppot anggrek kesayangannya.
“bu, kata ayah ada tamu!“ kataku.
Ibu terlalu khusuk dengan koleksi anggreknya.  Aku mendekati ibu. Bermaksud agar ia tak memperlambat pertemuanku dengan  bidadari di ruang tamu.
Ibu, cepatlah ke depan, batinku.
@@@
“loh...katanya ada tamu, kok malah sepi?“tanya ibu heran. Aku pun diam-diam mengamati sekitar ruang tamu. Apa mungkin lima belas menit yang lalu aku berhayal? Ah...tidak mungkin!
“tamu ayah tadi...“aku menggantung kalimat.
“mereka pergi sebentar. Nanti malam, mereka juga kemari. Makanya, ibu masak yang enak.“ Pesan ayah.
Kata-kata ayah sudah menyambungkan harapan yang tadi puspus. Aku terkesan. Ayah memang orang indonesia yang menghargai tamu. Meski tamu itu nenek moyangnya pernah menjajah bumi pertiwi. Dan sekarang aku....aku memang orang Indonesia yang terkena sindrom cinta pertama pada seorang yang mungkin nenek buyut, engkong, encing, atau apalah namanya, pernah menjajah tanah kelahiranku.






Comments

Popular Posts