Komedi Putar Kehidupan (Bagian 1)
Bismillahirrahmanirrahim....
Senja yang mendung di langit Jakarta..
Catatan di hari ke-10 bulan Desember 2015,
Penghujung tahun yang indah...
Selama
ini, sebenarnya aku merasa gagal mengartikan arti dewasa. Apa itu menjadi
manusia dewasa? Karena di tempat sebelumnya, di pulau yang sebelumnya aku
pijak, di kehidupan masa-masa sulit dulu, aku terlanjur capek dan lelah.
Seperti tak ada menit untuk menikmati tawa atau berbagi cerita. Aku terlalu
sibuk dengan urusanku sendiri. Dunia yang bagiku harus diperjuangkan. Dunia
yang menurutku harus diisi dengan kisah-kisah perjuangan klasik dan prestasi
yang membuat orang tercengang.
Dari
SD sampai di bangku kuliah, yang ada di kelapaku adalah bagaimana aku melihat
orang tuaku bangga dengan prestasi yang aku punya. Aku terobsesi menjadi juara.
Minimal di peringkat dua, sejajar dengan kakakku di deretan juara kelas. Kebetulan,
aku memulai sekolah saat aku berumur 4 tahun 7 bulan. Belum genap lima tahun.
Tapi, saat aku menjalani proses belajar yang sejatinya aku harus bermain, aku
menemukan kegembiraan dan betapa bangganya melihat orang tuaku menyandang wali
dari si juara kelas.
Meski
masa-masa sulit tinggal di kampung selalu membayangi masa kecilku, tapi aku tak
pernah mengeluh. Aku menikmati moment demi moment saat aku bersama teman-teman
di pengajian iqro sore. Aku bahagia dengan kesempatan bersekolah meski satu
tingkat harus mendahului teman-teman satu angkatanku.
Prestasi
adalah kata wajib yang harus kusandingkan dengan namaku. Aku berusaha mencuri
perhatian dengan kata itu. Tak peduli betapa sulitnya belajar sambil membantu
orang tua yang waktu itu masih berjualan sayur, aku cukup bahagia. Mencuri-curi
waktu belajar saat berjualan sayur adalah moment yang sampai sekarang masih aku
kenang.
Dan ketekunan
itu berbuah prestasi. Menjadi juara Umum II di bangku SMP membuat semua siswa
mengenalku. Beberapa guru merekomendasikanku untuk mengikuti berbagai lomba.
Aku dominan menjadi utusan lomba di bidang sastra dan biologi, yang keduanya
merupakan dua mata pelajaran favoritku.
Menjadi
juara olimpiade sains biologi membuatku mewakili sekolah di tingkap provinsi.
Di sinilah untuk pertama kalinya aku merasa bangga pada diriku sendiri. Aku
sadar kalau aku berpotensi untuk bersaing dengan siswa lain bahkan di tingkat
provinsi. Ini juga yang membuat orang tuaku bangga. Tidak sia-sia jerih payah
ibuku yang setiap pagi berangkat ke pasar membeli dagangan sayur untuk dijual
lagi. Sejak itu, aku mulai langganan mengikuti lomba, beberapa di antaranya
menang, beberapa lagi memberiku kesan bahwa konsekuensi dari sebuah kompetisi
adalah menang dan kalah.
Melihat
potensiku, ibuku kemudian berniat menyekolahkan aku dan kakakku di SMA Unggulan
yang ada di tempat kami. Sekolah itu adalah sekolah unggulan pertama yang
didirikan di kabupaten. Jadi, siswa yang berprestasi tidak harus ke ibukota
provinsi untuk mendapat pendidikan terbaik. Dan di masa SMA inilah aku
mendapatkan banyak pencerahan, prestasi, dan pengalaman dalam mengikuti
bidang-bidang perlombaan. Ini membuatku merasa menjadi duta sekolah. Dalam satu
bulan, aku pasti ada absen untuk mengikuti lomba-lomba. Piala memang aku dapat,
tapi..entah kenapa, aku merasa jauh dengan teman-teman di kelas. Suatu hari,
guru BP memanggilku. Aku kaget, apa aku ada masalah sehingga aku harus masuk
ruang BP. Ternyata, Bu Damai memanggilku karena dia ingin menanyakan apakah aku
bahagian dengan kondisiku sekarang. Aku sudah jarang berinteraksi dengan
teman-temanku di kelas. Aku lebih memilih kompetisi ketimbang belajar bersama.
Namaku harus, tapi jujur, aku tidak bisa leluasa bergabung dengan
teman-temanku. Sejauh ini, aku merasa baik-baik saja, dan menjadi anak baik
dengan prestasi dan sejuta mimpi besar di kepala ini adalah tujuan utamaku. Aku
ingin membuat orang takjub. Dengan kekurangan yang aku punya sebagai anak
tukang sayur waktu itu, aku bisa menyandang siswa berprestasi di tingkat
kabupaten, prestasi kecil yang cukup membanggakan sekolah waktu itu.
Hingga
tahun terakhir aku sekolah, namaku menjadi nama terbanyak sebagai penyumbang
piala yang terpajang di etalase sekolah. Aku bangga. Aku telah menorehkan
sejarah dan memberika standar estapet yang tidak buruk kepada angkatan
selanjutnya.
Bersambung...

Comments
Post a Comment