PENDIDIKAN YANG (MASIH) MAHAL

Assalamualaikum..
Pagi yang berkabut...

Pagi yang tepat untuk membuka mata bahwa pendidikan yang aku idamkan selama ini teramat MAHAL. Kenyataanya, aku tak mungkin bisa menyandang gelar mahasiswa S2, meski aku menabung setahun penuh, berhemat, tapi..aku tetap tak bisa membeli pendidikan itu. Aku sangat ingin belajar, bahkan aku merindukan buku-buku yang dulu sering aku buka. Aku ingin belajar, memutar otak ini, menajamkannya. Tapi...kenyataannya, pendidikan ternyata masih mahal. Aku sempat tertegun dengan biaya S2 untuk jurusan bahasa Inggris yang jika kutotal persemesternya 10 juta dan untuk 4 semester berarti akan menghabiskan 40 juta. MAsyaAllah...nominal itu seketika membuat aku ciut. Dan untuk ketiga kalinya aku harus mengikhlaskan bawa aku tidak akan mampu membiayai kuliahku nantinya. Tidak ada sponsorship atau apapun. Rasanya, kali ini waktu tak berpihak padaku. Tapi...tenang, Masih ada Allah yang punya skenario terbaik dalam hidup. Aku mungkin tidak punya modal untuk kuliah  S2 bahasa Inggris, tapi aku punya semangat untuk mengembangkan skill bahasa Inggris. Bukankah belajar bisa dimana saja?
Kejadian hari ini mengingatkanku bahwa sebuah tekat InsyaAllah bisa membeli mahalnya Ilmu. Aku yang buta huruf dalam bahasa Inggris waktu itu memutuskan untuk mengambil kurrsus bahasa Inggris. Setelah aku lihat biaya kursus yang bagiku waktu itu sangat mahal, aku mengurungkan niatku untuk kursus dan belajar secara otodidak. Aku mempelajari bahasa Inggris dengan slogan, biaya kursus mahal, jadi belajar ala-ala kaki lima,. Aku memanfaatkan minat dan kecintaanku pada bahasa Inggris. That's why, I learn more and more. Aku belajar dari lingkungan. Aku meniru orang-orang, dan aku mulai enjoy dengan bahasa Inggris sampai aku lupa bahwa aku ini adalah sarjana pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Bahasa Inggris membuka kesempatan bagiku untuk berbicara dengan orang asing. Aku sudah banyak mendapatkan nasihat dari orang asing karena aku dan dia ngobrol berbahasa Inggris. Aku bertemu Dr. Wis dari Amarika yang menyarankanku untuk menjadi bagian dari kampusnya. Aku bertemu Dr. Sandrin dari Afrika yang sangat..sangat...sangat ramah dan memberiku banyak nasihat, aku juga menjalin persahabatan dengan Arnout juga dari bahasa Inggris, dan beberapa pekerjaan juga menggunakan bahasa Inggris. Itulah kenapa, aku ingin sekali kuliah S2 bahasa Inggris, karena aku yakin, banyak pengetahuan di luar sana yang belum aku ketahui dan itu semua berbahasa Inggris.
dan bukan duit yang aku punya sekarang. Bukan pula semangat baja (karena terkadang semangat itu bisa hilang/pupus). Aku punya Allah, yang Maha Pemberi Rejeki. Dari-Nya semua Ilmu berasal. Maka, Mudah bagi Allah untuk memberi ilmu, apalagi hanya sekedar ilmu bahasa Inggris. dan Mudah pula bagi Allah untuk memberiku kesempatan untuk berkuliah, bukankah alam semesta ini akan berjalan karena izinNya. Lalu, mengapa aku ragu? bahkan kalau Allah berkehendak, kampus sekelas Oxford pun bisa dimasuki. Mudah bagi Allah....maka dari itu, Rayu Allah dengan sebaik-baik doa dalam tahajud dan sebagus-bagus pikiran karena Dia bersama prasangka Hambanya.

Allahuakbar,,,

Wassalamualaikum Wr.Wb..
Jakarta, 20 Desember 2016
#janganMenyerah

Comments

Popular Posts