Yang Kupinta di 2017

Assalamualaikum Blogger...

Malam ini, aku masih belum bisa tidur. Mataku belum juga menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Aku pikir, tidak ada salahnya mengisi kekosongan waktu tidur ini dengan menulis blog. Ya, blog yang sudah menjadi diary kedua bagiku.
Aku masih di Jakarta. Ya, terkadang, aku sendiri bingung, kenapa aku masih betah di Jakarta. Apa ini ada hubungannya dengan takdir Allah? Sehingga hatiku begitu mudahnya dibuat 'senang' dengan Jakarta? Em...pertanyaan yang sering aku lontarkan untuk diriku sendiri ini, mungkin juga akan aku tulis di novel-novelku selanjutnya.
Bicara soal novel, hampir setahun novel Tulpen terbit. Tidak terasa, waktu berjalan begitu cepat, kalau novel itu ibarat seorang anak bayi, mungkin sekarang dia sudah bisa duduk, atau mungkin memanggil ibu. Tapi, progres novelku sekarang sudah masuk google play store. Alhamdulillah, setidaknya dia bisa bertengger dengan novel-novel dunia yang ditaruh di toko google online.

Akhir-akhir ini, aku seperti diingatkan pada karakter Hafshah Tulpen dalam novel pertamaku. Bagaimana tidak? karakter tokoh novel itu benar-benar membekas diingatanku. Juga sosok Reza Daccozio, Ardi, juga Ainul Basirah! Itulah kenapa, aku merasa masih punya satu PR besar, yaitu membawa novelku ke layar lebar. Agar, semua orang bisa merasakan karakter dan semangat dari tiap tokoh di dalam novel Tulpen, khususnya tokoh gadis malang bernama Irah... AKu berharap, jika memang novel itu difilmkan, sang sutradara dapat memilih artis yang tepat untuk memerankan Irah, karena aku tidak rela jika yang menjadi Irah tidak mengerti bahasa batin tokoh tersebut.

Flashback beberapa tahun yang lalu, banyak sekali peristiwa yang memprihatinkan dalam hidup ini. ada sepasang kata yang tidak akan lekang selama kita masih bernyawa, yaitu pasangan kata sedih dan bahagia. Kadang, sedih itu menghasilkan semangat yang luar biasa. Tidak jarang, sebaliknya, kebahagiaan justru datangnya sesaat.

Aku mensyukuri keduanya, saat di mana hidup begitu sulit untuk dijalani, kadang hidup memberikan hadiah bagi mereka yang bersabar. dan contoh kesabaran yang paling nyata adalah sosok ibuku, wanita yang melahirkan aku di dunia ini.

Air mataku selalu meleleh setiap kali aku mengingat ibuku. Dia alasan utama aku ingin menulis. Dia alasan pertama aku ingin bekerja, dan dia alasan pertama aku ingin memperdalam Ilmu agama. Aku menyayangi ibuku, aku ingin dia bahagia, aku ingin dia bangga, aku ingin menitikkan air mata bahagia di kelopak matanya.

Aku ingin mengabarkan berita bahagia kepada ibuku. Meski aku tidak tahu kapan berita bahagia itu akan sampai di telinganya. Ibu, andai aku punya sedikit saja keberania, maka hidupku akan berubah.

Tapi, ibuku selalu tahu kapan harus membuat aku berlapang dada. Dia mengatakan ikhlas untuk hati yang belum menemukan pemiliknya. Dia selalu mengingatkannku akan kekuatan dzikir. Karena di perantauan, yang menjaga dan menyelamatkan hanyalah ALLAH SWT.

Yang kupinta di 2017, aku memohon kedua orang tuaku sehat wal afiat. Aku berharap, aku bisa memberikan kabar gembira kepada keduanya. Aku pinta semoga Allah menjaga kedua orang tuaku. Aku juga berharap, ayahku senantiasa dalam petunjukNya.

Terkadang, sulit bagiku untuk menjadi seorang muslimah perantau. Sulit juga rasanya mengatasi tanda tanya kenapa aku merantau? Kadang, aku sendiri bingung, mengapa kaki ini begitu mudah untuk melangkah? Untuk semua pertanyaan tadi, aku hanya punya satu pemikiran bahwa Allah pasti punya takdir lain untukku. Takdir yang sudah Dia persiapkan untukku.

Di sini, aku menemukan banyak hal. Aku menjadi lebih mengenal Allah yang Maha MEnjaga. Dia melindungiku dari segala fitnah. Allah memberiku kesempatan untuk belajar menjadi Dwi yang baru.
Dia mempertemukanku dengan orang-orang baik, sebagaiman yang selalu aku pinta dalam doaku. Dia juga mengabulkan cita-citaku untuk menerbitkan novel. Dia juga menempatkanku di pekerjaan yang baik. Ya Allah, nikmat mana lagi yang hamba dustakan??

Kepulanganku ke rumah di akhir Desember 2016, semoga menjadi langkah awal aku yang baru. Aku ingin berubah. Aku ingin menjadi Dwi yang lebih baik, yang banyak mendengar, yang banyak berdzikir, yang banyak merenung, yang berbicara seperlunya saja, yang lebih bisa menahan tangis dan amarah, yang bisa menjadi lebih loyalitas, dan yang pasti, aku ingin berdakwah melalui tulisan-tulisan yang aku punya.

Comments

Popular Posts