Cita-cita Seumur Hidup!

Assalamualaikum Para Blogger..

Terima kasih telah mampir ke blog ini..

Malam ini, tepat pukul 01.01 WIB.
Malam telah berganti, memasuki dini hari yang sunyi. Aku belum juga memejamkan mata. Meski besok hari libur, (ralat, maksudnya hari ini..) aku tetap belum bisa berleha-leha. Aku habis membersihkan kamar kost an ku. Kamar di lantai dua kost ini adalah kamar kost terbaik yang pernah aku huni. Aku bisa beristirahat, aku bisa masak, dan aku bisa kerja di meja belajarku. Serasa, aku bukanlah seorang pekerja melainkan anak muda belia yang dilepas kuliah..(hehe..bahasanya kelebaian yak)..

Malam ini, ada satu cerita yang ingin aku bagi.

Tadi, selepas maghrib, aku mengirim direct message ke akun dr.Gamal Abinsaid. Beliau adalah dokter muda yang mendunia. Kalian bisa googling mengenai profil beliau. Tapi..alhamdulillah, yang bikin aku senang adalah, beliau menjawab langsung pesan dariku. Terharu rasanya. Beliau begitu ramah dengan siapa saja. Bahkan dia juga follow akunku balik. Seneng rasanya, bisa menjadi bagian dari lingkar pertemanan di sosial media dr. gamal.


Insyaa Allah, seperti yang sudah aku janjikan, aku akan mengirim novel pertamaku kepada dokter gamal. Aku harap, beliau membacanya. Ya, syukur-syukur jika novel Tulpen diangkat menjadi film, dr. gamal mau memerankan tokoh Ardy, seorang mahasiswa kedokteran yang kharismatik. Ya, saat melihat dokter gamal, tiba-tiba aku langsung teringat Ardi Samudera Ichigawa, sosok yang sangat inspriratif dalam cerita fiktif yang aku buat.


Tapii..dokter gamal adalah tokoh nyata dengan segudang prestasi yang beliau miliki. Suatu hari, dengan izin Allah, mudah-mudahan aku bisa menyerahkan langsung novelku kepada beliau. Ya, suatu hari nanti.

Oya, hari ini juga aku bahagia karena aku menemukan cita-cita seumur hidup. Ya..aku bahkan terdengar sangat anak kecil. Tapi..itulah kesimpulan yang aku dapat. Aku, seorang gadis dari kampung, memutuskan untuk menjemput takdir dengan kepercayaan diri. Bukan kepercayaan diri yang mmebuatku sombong, namun...seperti kata dokter gamal, kepercayaan diri yang tumbuh karena keyakinan bahwa Allah bersama langkah kita.

Lalu, apa cita-cita itu?
Dengan mengucap bismillahirrohamanirrohim,,aku bercita-cita menjadi Penghafal Alquran. Ya, aku ulangi lagi. Aku, Dwi Permatasari,S.Pd. berjanji mulai dari ini akan menghafal alqir'an. Walau seayat demi seayat.

Lalu, kenapa aku baru terketuk sekarang?
Ya, usiaku sudah 25 tahun saat aku mengikrarkan cita-cita mulia ini. Kalau jauh 0 tahun dari Wirda Mansur yang mengucapkan cita-citanya di usia 5 tahun, dan aku tidak seperti Kak Muzzamil yang memiliki suara yang indah dan merdu. Aku juga bukan santri yang fasih dengan panjang pendek harokat.

Aku hanyalah gadis biasa, yang ingin mencintai Al-quran, yang ingin menghadirkan Al-quran di telinga (pendengaran), aku ingin membawa Al-quran kemana pun aku melangkah, aku ingin malaikat tahu, bahwa aku serius dengan apa yang aku ikrarkan, aku ingin sebanyak mungkin menenggelamkan mukaku di dalam bacaan al-quran, aku ingin menangis membaca Al-quran, aku ingin belajar membaca dengan merdu seperti muzzamil dan hapiz/hapizah lainnya.

Lalu, kenapa lagi alasannya?
Aku...aku merasa...aku takut, jika aku tidak menghafal Al-quran, aku tidak bisa menyelamatkan ibu bapakku di akhirat kelak. Aku tidak punya apa-apa, bahkan mungkin untuk menyelamatkan diriku sendiri, belum tentu aku bisa. Intinya, aku tidak punya apa-apa untuk dibawa ke akhirt. Maka, aku memilih Alquran, yang membawa safaat bagi yang membaca, menghafal, dan mecinta Al-quran.

to be continue...

Comments

Popular Posts