Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Terima Kasih Sobat Blogger sudah mampir di blog ini. Kali ini saya akan memposting tema yang sudah dari dulu ingin saya tulis, yaitu tentang salam. Salam siapa? Salamnya Penghuni Surga.
foto: karya milik pribadi
Sobat Blogger,
Saya yakin pasti sobat Blogger yang Muslim dan Muslimah, pasti pernah membaca QS. Yassin. Nah, di surat Yasin ini, ada ayat yang berbunyi begini.
"Salamun Qoulam Mirrobirrohim"
Nah, saya, waktu kecil dulu, sering ikut nenek saya baca Yasin dan ketika di ayat tersebut, nenek saya pun membaca tiga kali. Ya, tiga kali mengucapkan ayat Salamun Qoulam Mirrobirrohim. Baru setelahnya lanjut ke ayat berikut nya sampai berakhir surat Yasin.
Waktu berlalu, nenek saya telah tiada. Kepergian nenek ini mengingatkan saya akan kenangan indah kami saat membaca Surat Yassin. Ketika saya bertemu dengan ayat Salamun. Seketika saya ingat nenek saya.
Lanjut, saat dewasa dan punya teman. Saya punya seorang teman yang juga memiliki kebiasaan yang sama sama saya. Yaitu, ketika ketemu ayat Salamun, dia mengungkapkan 3 kali. Nah, nama teman saya ini Mbk Mila. Mbak Mila asli Lombok. Saya kami baca Q.S. Yassin bareng, Mbk Mila juga membaca ayat Salamun ini tiga kali. Biasanya, kalau teman lain hanya satu kali. Saya pun bertanya dengan Mbk Mila, dan Mbk Mila bilang, untuk ayat tersebut, dia emang baca 3 kali.
Selanjutnya, saya mencoba mencari tahu dengan ayat ini. Dan mencoba mencari tahu maknanya lebih dalam.
Dikutip dari islam.co, Imam al-Qusyairi menerangkan bahwa keadaan para penduduk surga ketika mendengar ‘Salam’ dari Allah SWT, tidak ada suatu penghalang apa pun (bi laa waasithatin). Menurutnya hal ini sesuai dengan keterakan kata qawlan yang berarti ucapan secara langsung. Seperti telah diterangkan pada ayat sebelumnya, al-Qusyairi kembali menegaskan pada ayat ini bahwa kata rahiimin pada ayat ini menandakan bahwa Rahmat Allah SWT dalam keadaan itu adalah rezeki para penduduk surga untuk melihat Allah SWT.
Bertemu dan mengucapkan salam secara langsung, kata al-Qusyairi, adalah puncak kenikmatan bagi para penghuni surga. Kemudian penjelasan pada ayat 59, Imam al-Qusyairi menegaskan bahwa para penduduk neraka tidak mendapatkan tempat untuk dekat dengan Allah SWT. Mereka hanya mendapatkan siksa dan kepedihan akibat perbuatan mereka di dunia.
Menurut M. Qurasih Shihab dikutip dari islam.co, kata salamun diambil dari akar kata salima yang maknanya berkisar pada keselamatan dan keterhindaran dari segala keburukan. Menurut Quraish, kata salamun pada ayat tersebut diucapkan tidak seperti lafadz assalamu’alaikum sebagaimana kita praktikkan sehari-hari. Lafadz assalamu ‘alaikum dimaksudkan sebagai doa agar keselamatan dan keterhindaran dari bencana atau gangguan selalu menyertai mitra bicara. Ketika di surga doa seperti ini tidak diperlukan. Allah SWT telah menjamin bahwa penghuni surga hidup dalam negeri yang penuh kedamaian dan telah mencabut dari hati mereka rasa kebencian sebagaimana QS al-A’raf [7] ayat 43.
Sobat Blogger,
Ketika saya mencari tahu tentang Hadist-hadist surat Yassin ini, saya banyak menemukan artikel bahwa Fadillah surat Yasin itu hadist ya lemah (dhoif) bahkan ada yang mengatakan bahwa terdapat hadist palsu. Waulahualam bissawab.
Sobat Blogger,
Saya pribadi membaca surat Yasin ini mengingatkan saya akan kematian, tentang kehidupan setelah kematian, dan juga tentang salam yang diucapkan Penghuni Surga. Betapa indahnya para penghuni surga yang saling tegur sapa. Di dunia saya nikmatnya jika saling tegur sapa dan salam, apalagi di Surga.
Satu harapan saya, saya bisa menjadi salah satu dari penghuni surga tersebut. Saling menyapa. Saling menyampaikan salam. Aamiin ya Robbal'alamiin.
Comments
Post a Comment