Akar itu Masih Kokoh


(Untuk guru Bahasa Indonesia-ku, Ibu Ida Yulia)
Kubuka sebentuk album SMA
Bukan untuk melihat cinta pertama
Juga buka untuk megecup kening si dia
Tapi ada rindu yang menggebu
Ada tanya yang menalu pilu
Padanya, wanita yang kuanggap ibu
                Dia bukan memberi ilmu
                Tapi cinta yang tiada jemu
                Dia tidak mengajar kata
                Tapi kisah hidup yang tak bertua
                Dia wanita, aku juga
                Kami sama-sama yang gila kata, syair, puisi
                Lalu merasa bahagia,
                Saat cerpen-cerpen kami didengar
                Dibaca, ditangisi teman
Dia pohon jati hatiku
Yang akarnya tetap kokoh
Yang daunnya makin lebar
Yang teduhnya melebih bonsai
Yang tak perlu tanda tangan
Atas setiap sensakerta yang menyerta
Darinya, wanita berkerudung yang kupanggil guru
                                Untuk bapak Presiden selanjutnya
                                Untuk menteri pendidikan Indonesia
                                Tak perlu bandul-bandul perak emas
                                Tak perlu medali dan tanda jasa
                                Aku di sini, cukup mengirimnya puisi
                                Sebagai kado kecil terima kasih

Jakarta, 19/12/2012

Comments

Popular Posts