Yui & Rui (sebuah novel tentang tali persaudaraan yang erat)

-kupersembahkan novel ini untuk saudaraku tercinta, Ayuk Ujik-
(MY DRAF)

Tokoh-tokoh
-          Yui ( Tokoh Utama: kegagalan yang berturut-turut, galau, hampir menyerah)
-          Dokter Bobi (dokter spesialis Yui)
-          Dokter Zian (mantan pacar Yui) --à dijodohkan dengan Rui.
-          Galuh ( tukang batagor yang keren, baik, pengertian ke Yui)
-          Rui (diangkat anak oleh Kyai Danang, kembaran Yui, tinggal di pesantren)
Keistimewaan tokoh
-          Yui :
1.       Memiliki penyakit yang dia rahasiakan, jantung, tiroid, dll.
2.       Tegar
3.       Menyumbangkan setiap darahnya ke PMI
-          Galuh
1.       Pengertian
2.       Ikhlas
3.       Pekerja keras
-          Zian
1.       Patuh kepada orang tua
2.       Peduli tapi dengan kemarahan.
-          Rui
1.       Ceria
2.       Suka Menolong

Ada banyak hal yang aku benci di dunia ini. Semua yang kubenci ada yang memiliki alasan logis dan ada juga yang tidak. begitu pun sebaliknya, ada banyak hal yang aku sukai di dunia ini. Perasaan suka tanpa alasan. Mungkin itu yang dinamakan mencintai tanpa syarat.
                Dua hal yang aku benci adalah hari kamis dan cermin! Aku benci keduanya. Benci yang sulit untuk dijelaskan. Dan hari ini aku harus bertemu dengan hari Kamis pekan pertama di bulan Februari. Sejujurnya, dalam sebulan, aku hanya membenci satu hari kamis. Tepatnya hari di saat aku harus kontrol ke rumah sakit. Sendirian. Tanpa teman, mendengarkan petuah dokter Bobi yang terlalu baik.
Hal kedua adalah cermin. Aku benci dengan cermin, tapi bukan berarti aku benci dengan wajahku. Tidak ada yang salah dengan wajahku. Buktinya, Zian masih menjadi pacarku, setidaknya sampai  lima menit yang lalu, saat dia mengirim sms selamat pagi.
                Dua hal yang aku senang  adalah berjalan dan batagor! Ya, aku suka berjalan. Berjalan kaki menyusuri tempat yang ingin dilangkah oleh kakiku. Ini mungkin yang membedakan aku dengan Zian. Jika dia lebih memilih berdiam di mobilnya yang berAC, aku nekat jalan 10 menit untuk menuju gerobak batagor. Soal batagor, Zian bisa memaklumi dan dia cukup pengertian dengan ikut makan batagor meski tempat makan kami berbeda, dia di jok mobilnya dan aku dibangku kayu yang sudah puluhan kali aku tempati. Lalu, mengapa aku suka batagor? Mengapa harus batagor? Dan mengapa harus yang kaki lima? Kenapa nggak di resto aja, Yuiii? Protes Zian saat kami pertama kali datang ke Batagor Mang Ujang. Aku hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan sekaligus keluhan Zian. Aku akan bercerita tentang itu, tapi tidak pada Zian. Tidak pada orang yang terpaksa memakannya hanya karena aku juga memakannya. Tidak.
                Aku suka berjalan meski Zian protes dengan kebiasaan sehatku ini dengan dalih nanti aku kecapean! Andai Zian bisa mengerti dan meluangkan 1 hari saja dalam seminggu tanpa suara mesin mobilnya, mungkin dia bisa berperan dalam antisipasi global warming. Tapi...ah, terlalu sulit menjelaskan itu pada Zian.
                Aku selalu bercerita tentang Zian tanpa memberikan jeda tentang siapa aku. Baiklah, namaku Yui. Lengkapnya Yui. Nama yang paling singkat seantero kampus. Tidak jarang dosenku bertanya langsung padaku, apa benar saudari bernama YUI? Hanya YUI? YUI? Tanyanya dengan raut wajah tak percaya.
Aku tidak tahu kenapa Almarhum Papa memberiku nama sesingkat itu. Aku juga tidak sempat bertanya pada Mama karena beliau sudah lebih dulu dipanggil yang Maha Kuasa. Jadi apa aku yatim piatu? Ya, tapi aku punya Bunda, ibu tiri yang baik dan peduli. Hanya saja antara aku dengannya tidak terbangun ikatan emosi yang baik. Bunda adalah satu-satunya keluarga yang aku punya. Tapi sejak kematian Papa, Bunda memutuskan untuk menikah lagi dan kini dia tinggal bersama keluarga barunya dengan seorang bayi kecil.
Lalu, aku. Aku sekarang kuliah semester tujuh. Aku janji pada Bunda, aku akan tamat di semester ini. Ya, setidaknya itu misi yang aku ingin capai saat ini. Aku tidak ingin membebani Bunda meski aku tahu dia tidak pernah menganggapku sebagai beban. Mungkin, lebih tepatnya aku ingin hidup mandiri. Bisakah itu, bahkan untuk minum obat pun aku masih seperti anak kecil.
“Rumah sakit..rumah sakit...”
Teriak kernet bus yang aku tumpangi.
Aku terjaga dari uraian tentang diriku.
“Mbak...mau turun nggak! Nanti ada polisi!!” protes si kernet itu.
Si kernet yang melanggar plang di larang stop itu semakin risih dengan langkahku yang lambat.
“Aduh..lama bener neng!”
“Maaf..” sahutku sekenanya.
RUMAH SAKIT...
Degh...
Degh...
Degh...
Aku berani bertaruh kalau ada karapan sapi di jantungku. Entahlah. Aku tidak paham dengan istilah medis tapi yang aku tahu setiap kali jantungku berdetak kencang, bayangan kematian selalu muncul di kornea mataku. Rumah sakit. Kedua orang yang aku cintai meninggal di rumah sakit. Apa aku juga akan bernasib sama? Entahlah. Tapi walaupun aku mengalami trauma yang hebat, aku tidak memasukkan rumah sakit ke daftar hal-hal yang aku benci di dunia. Meski aku sadar, koridor-koridor rumah sakit itu telah dilewati oleh jenazah Papa, suara sirene ambulans itu telah mengabarkan kabar duka, derap langkah dokter dan suster adalah langkah-langkah keterlambatan saat menyelamatkan nyama Mama ketika melahirkanku, dan bau obat yang memenuhi ruang-ruang rumah sakit adalah bau yang juga telah membuat kamarku menjadi rumah sakit mini. Aku sama sekali tidak membenci tempa ini, rumah sakit.
Meski pun ada banyak bayang yang menghantuiku ketika sampai di sini, setidaknya aku punya satu alasan untuk tetap hidup. Aku ingin hidup, aku ingin sembuh agar aku bisa membuat papa dan mama tersenyum. Aku ingin tetap hidup, menikmati apa yang sudah mampir dalam kehidupanku, memiliki Zian, menjadi asisten dosen, punya side job yang honornya bisa kupakai untuk keperluan bulanan, dan tentu saja, aku masih bisa berpikir.
Kini, aku sudah sampai di bangku panjang, tempat pasien dokter Bobi menunggu untuk dipanggil. Wajah-wajah yang sama dan akulah yang menjadi pasien paling muda di antara mereka.
“Sakit apa nak..?”
Aku terdiam. Haruskah kujawab pertanyaan ibu ini? Tipe pertanyaan yang paling aku benci di dunia!
“Yui...” terdengar namaku dipanggil.
“Permisi, Buk..” jawabku berlalu.
Seperti biasa, dokter Bobi menyambut setiap pasiennya dengan ramah. Selain itu, dokter yang juga teman Bunda itu  piawai mencairkan suasana.
“Apa kabar Yui?” sapa Doktor Bobi dengan mata penuh selidik.
“Baik, Dok,” jawabku sekenanya.
“Kenapa? Ada masalah?” kini, Dokter  spesialis  penyakit dalam itu membenarkan letak kacamatanya.
Aku menggeleng. Melempar senyum yang terkulum manis. Aku selalu melakukannya tiap kali Dokter Bobi mencurigai ekspresiku.
“Ya..sudah. Nanti saya akan telepon Bunda kamu biar beliau tidak khawatir.”
“Jangan, Dok!”
“Saya mohon jangan, Dok. Sumpah, saya baik-baik saja.” Kini, Aku mulai memelas.
“Kalau kamu ada masalah, jangan ditahan sendiri. Kamu tahu kan resikonya apa, Yui?”
Aku terdiam.
“Yui? Kamu tahu kan resikonya?”
“Iya, Dok. Kelenjar Tiroid saya akan memproduksi hormon tiroid berlebih dan..”, aku menghentikan kata-kataku.
“Bagus kalau kamu masih ingat. Saya memang bukan psikolog, tapi ada baiknya setiap masalah yang ada disearch dengan orang lain. Mengerti Yui?”
“Iya, dok.”
“ Ya, sudah. Ini resep obatnya.”
Dokter Bobi menyerahkan secarik kertas yang tak pernah bisa kubaca isinya.
“Oke Yui. Rajin-rajinlah kontrol biar saya tahu perkembangan kamu.” pesan Dokter Bobi ramah.
“Terima kasih, Dok. “
Aku keluar dari ruang Poliklinik 2 Endokrin. Secarik kertas harus aku tebus di apotek. Aku berjalan pelan. Menikmati pemandangan di sepanjang koridor rumah sakit. Manula. Manula. Manula. Mereka semua pasien dokter Bobi. Para lansia yang hilir mudik rumah sakit karena tidak ingin dikalahkan oleh diabetes militus atau tiroid dan kroni-kroninya. Tidak sepertiku yang datang sendiri, mereka, para lansia itu membawa serta anak, cucu, suami, mungkin juga menantu mereka untuk memapa hingga ke tempat antrian pasien. Dari mereka, dari para lansia itu, aku belajar untuk tetap semangat, kontrol ke rumah sakit minimal 1 bulan sekali, dan sama seperti mereka, aku juga mengharapkan sembuh dari teman setia badanku, penyakit!



Comments

Popular Posts