Selamat Ulang Tahun Yaya
Hari ini, Rabu, 4 Mei 2016..Tepat
50 tahun usia ibuku. Meski dia tidak akan membaca tulisan ini karena dia tidak
bisa membuka internet, tidak mengerti apa itu blog, aku tetap ingin menulis
tulisan ini. Ini postingan pertama-ku mengenai ulang tahun ibuku. Aku harap,
tulisan ini bisa awet, dibaca oleh orang lain meski mungkin aku sudah tidak ada
lagi di dunia.
Oya, sebelumnya, aku beritahu
dulu kebiasaan aku memanggil ibuku dengan sebutan Yaya, bukan ibu, bukan bunda,
bukan mama, bukan emak, tapi Yaya dan
juga punya cerita lain kenapa aku memanggil beliau dengan sebutan Yaya.
Ini tentang aku dan ibuku. Setiap
kali aku menulis tentang Yaya, ada perasaan haru yang membuatku sesak, bahagia,
tertawa, dan semua rasa pernah aku
miliki saat aku bersama Yaya.
Bagiku, Yaya adalah wanita yang
tangguh. Dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu di masa kecilnya. Nenekku
meninggal ketika Yaya masih kecil. Dia kemudian ikut Gede (Nenek Yaya) di kampong.
Sementara Kakekku menikah lagi dengan seorang perempuan Jawa dan memiliki
keluarga lain di Palembang. Yaya hidup bersama gede. Menjadi satu-satunya cucu
yang mengikuti Gede. Sementara saudara Yaya yang lain sudah dewasa dan memilih
untuk ikut Kakek di Palembang. Yaya tetap bersama Gede, tidak ikut Kakekku.
Yaya tumbuh menjadi gadis yang
kesehariannya menjaga warung milik Gede. Aku tidak tahu pasti detail masa remaja Yaya.
Yang aku tahu adalah selembar foto saat Yaya masih remaja dengan kostum olaraga
di Sekolah SPG. Yaya lebih mirip Kakak Perempuanku. Dulu, dia tidak segemuk
sekarang. Dia benar-benar copy paste Kakak-ku. Hanya saja tahi lalat yang ada
di hidung Kakakku tidak sebesar yang ada di hidung Yaya.
Singkat cerita, Yaya ketemu Ebak
(Ayahku), seorang pemuda kampung yang suka beli rokok di Warung Gede. Ebak lumayan ganteng untuk ukuran
cowok-cowok jaman dulu, dia hobbi main motor, dan nyanyi-nyanyi di warung yang
dijaga Yaya. Berkat cerita soal masa-masa pedekate Yaya dan Ebak, next time aku
terinspirasi untuk menulis novel Dad’s Diary dari sudut pandang Ebak.
Well, dengan kisah cinta yang
pernah aku dengar dari Yaya, aku menyimpulkan bahwa akhirnya Yaya dan Ebak berjodoh. Mereka
menikah ketika Yaya berumur 23 tahun. Lalu
lahirlah Ayuk Ujik, Aku, dan tujuh tahun kemudian, Adikku.
Kini, Yaya berusia 50 tahun.
Separuh abad sudah dia lewati. Aku jadi teringat saat aku masih kecil, Yaya mengepang
rambutku, dia juga mengikuti aku saat aku karnapal 17 agustus, mendandaniku
dengan cantiknya, selalu membelikanku seragam baru saat dia tahu aku menang
olimpiade, dia sedekah nasi uduk saat athu aku juara umum, dia terharu biru
saat namaku sisebut sebagai wisudawati terbaik di wisuda FKIP. Yaya, dia juga
mengantarkan aku di Jakarta. Kami dengan udiknya membawa satu tas besar dari
kampung. Yaya juga orang yang selalu mengajakku makan di restoran enak kalua dia
lagi punya uang lebih, semua kisah antara aku dan Yaya selalu ingin aku tulis.
Mungkin ini berbeda dengan saudara perempuan dan saudara laki-laki. Yaya adalah
pembaca mood. Dia tahu saat aku marah, saat aku senang, bahkan saat aku jatuh
cinta, dia juga tahu.
Yaya yang mengajariku mengaji.
Dia mengajariku membuat puisi dan puisi itu menjadi puisi pertama yang aku
menangkan. Yaya menyekolahkannku di sekolah unggulan dan dari sekolah terbaik
itu aku menjadi salah satu yang menyumbang piala dan medali. Bersama Yaya, aku
juga pernah merasakan menjadi ‘seorang pembantu’ dengan membersihkan rumah
salah satu keluarga kaya raya. Yaya ..aku masih ingat saat kita harus makan
nasi dengan kerupuk dan kecap asin. Aku juga masih ingat saat kau harus
berjualan sayur saat aku masih SMP. Yaya tak pernah mengeluh. Tapi air matanya
mengalir saat dia merasa cobaan hidup kian hari kian bertambah.
Hari ini, aku seolah ditampar
oleh kenangan masa lalu. Masa-masa sulit yang hamper saja aku lupakan karena
aku merasa aku harus membuang kenangan pahit. Tapi ternyata aku salah, hari ini
aku tidak ingin membuang satu detik pun kenangan susah bersama. Aku tidak ingin
melupakan masa-masa sulit. Aku belajar banyak dari kehidupan Yaya. Jika hari
ini aku tersenyum, itu adalah hasil karena aku telah merasakan sulitnya hari
kemarin.
Terima kasih, Yaya..
Aku sangat sangat sangat sayang
dengan Yaya.
My Best MOm
My Best Yaya
Jakarta, 4 Mei 2016


Comments
Post a Comment