Senja Yang Ramah

Seperti langit senja yang ranum
Kutemukan cerita lain yang merangkai senyum
Untuk detik yang mencoba menelan malam
Aku rasakan, ada tentram di langit pemilik alam


Senin, 16 Mei 2016
Masih di langit Jakarta

Sore ini tiba-tiba saja, Aku merasakan atmosfir Jakarta yang ramah. Langitnya yang lembut, gedung-gedungnya yang tegas, dan udaranya yang mendingin. Tapi, matahari sore yang menghangatkan. Dan aku seketika dibuat takjub. Terakhir kali aku merasakan 'senja yang ramah' itu setahun yang lalu. Tepatnya waktu aku pulang kampung. Suasana di kampung halaman, apalagi kalau sore itu bener-bener penuh hikmat. Ada banyak hal yang aku suka dari petang. Entah itu suara azan yang memanggil, burung-burung yang kembali ke sarangnya, anak-anak kecil yang buru-buru mandi karena takut diomeli oleh orang tuanya, juga suara jendela ditutup menjelang maghrib. Tapi itu tidak aku temukan di Jakarta. Azan lebih sering terdengar dari aplikasi Muslim Pro di Iphone, jendela tidak ada karena aku kost dan itu hanya sebentuk kamar tertutup, anak kecil sudah jarang aku temukan, apalagi burung-burung yang kembali ke sarang. Jakarta hanya menyisakan wajah-wajah lelah setiap sorenya. Orang-orang yang pengen cepat pulang karena takut macet, orang-orang yang ngomel saat macet panjang di Jalan, orang-orang yang protes karena bus way yang tak kunjung datang. Kalau di kampung, aku biasa dengar suara orang ngaji, lain cerita kalau di Jakarta. Murotal dari Laptop cukup mengobati kerinduan saat lantunan ayat suci ingin didengar. Itulah kenapa, aku lebih suka di kampung, meski aku tahu, tak selamanya aku berada di kampung. Tapi, suasana petang di kampung itu benar-benar beda. Em..meski begitu. Aku tetap kangen kota ini jika berada di kampung. Jika di kampung, kita tidak harus mengatur waktu untuk sekedar sholat Maghrib, tapi di Jakarta, hitung-hitungan untuk sekedar sholat Maghrib pun berlaku. Itulah tantangannya, jika tidak tepat hitung-hitungan, bisa-bisa waktu sholat dengan macetnya Jakarta saling bersaing. Meski begitu, aku tetap menyukai kota ini.Bahkan, bisa dibilang, aku waiting trisno jalaran suko kulino, Semakin aku di sini, semakin aku menukai kota yang sibuk ini,  aku jadi tahu plus minusnya, tahu kelebihan dan kekurangannya. 

Aku masih di Tower Lantai 2, tempat aku bekerja sekarang. Ditemani suara murotal yang merdu, aku berusaha mengusir sepi lewat lantunan ayatullah. Mungkin, aku akan pulang setelah Maghrib, menghindari macet Jakarta yang ampuun.

Jika tiba waktunya, aku tinggal di luar negeri. Mungkin aku akan lebih merindukan Jakarta ketimbang Palembang. Karena aku memiliki moment yang sangat berkesan di sini..only in Jakarta.

Selamat Petang.. :)


Comments

Popular Posts