Catatan Setelah Lebaran (CSL)
Ini adalah hari ke-4 setelah aku balik dari kampung halaman. Semangat balik lagi ke Jakarta sudah ada semenjak tiga hari sebelum aku balik. Aku memang merindukan kampung halaman, tempat aku menarik napas panjang dan menatap lekat-lekat anggota keluarga. Tapi, Jakarta bagiku adalah rumah kedua. Jika hati kutaruh di Kampung halaman, maka otak dan kreativitasku aku tanam disini, di kota Jakarta. Meski aku tak punya banyak teman di sini, tapi ada banyak hal yang bisa aku rasakan dan aku lihat. Aku menemukan berlipat-lipat semangat menulis novel ya di sini, karena aku yakin, suatu hari nanti, namaku bisa masuk di jajaran penulis muda berbakat. Aku hanya perlu latihan dan latihan agar tulisanku berbobot. Dan aku tetap memilih jalur menulis sebagai 50% aktivitas yang membuatku bahagia. Aku tak begitu suka materialitas, karena aku tidak dibesarkan dari keluarga berlimpah materi. Bagiku, saat aku butuh sesuatu dan aku bisa memenuhi kebutuhanku dan kebutuhan keluargaku, memberikan hadiah untuk adikku, itu adalah sebuah kekayaan.
Aku selalu percaya, Tuhan tidak akan menaruh kita sembarangan. Ada banyak alasan yang Tuhan simpan, untuk menjawab..kenapa aku bisa di Jakarta. Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku menaruh otakku di kota ini, dan aku ingin mengeksplore nya. Aku ingin belajar menjadi ahli. Dari Jakarta, aku berani melangkah dan berpetualang. Meski hanya perjalanan singkat dan sederhana, itu sudah cukup membentuk pengalaman dan kepercayaan diri di masa muda yang singkat ini.
Lebaran tahun ini, aku juga membuat sebuah garis besar. Aku ingin mengenal Diriku yang sebenarnya. Aku ingin mewujudkan apa yang diriku ingin capai. Dan aku ingin menyelamatkan diriku dari tidur panjang tentang potensi yang ada pada diriku. Jika aku belum bisa mengajar bahasa Indonesia di luar negeri, maka aku bisa menjadi penulis di dalam negeri. Aku masih bisa berkarya, Aku masih bisa membaca banyak karya hebat. Aku masih bisa bekerja layaknya orang-orang. Dan, aku masih memiliki keinginan untuk terus menulis. Masih ada kedua orang tuaku yang akan selalu mendukungku dalam menulis, dan yang paling penting, aku masih punya Allah..Ya, Allah lah yang akan menentukan layak atau tidaknya impianku terwujud.
Lebaran tahun ini juga menyadarkanku untuk BERHENTI menunggu. Ya, karena dia yang kutunggu tak kunjung datang. Dan takkan pernah datang. Jadi, adalah suatu KEBODOHAN untuk berpikir aku menunggu. Cukup sampai di sini soal cinta-cintaaan. Karena hidupku tak seindah alur cerita dalam novel.
Welll, lebaran tahun ini...alhamdulillah..impianku terwujud. Impian yang aku tulis si diaryku saat pertama kali datang ke Jakarta.
Dan,,,saat aku punya alasan untuk mewujudkannya, di situlah aku ingin berpacu dengan waktu. Banyak orang yang aku kenal, menganggap aku sudah menghilang. Aku yang dikenal dengan prestasi sekolah dan kuliah, memutuskan untuk merantau ke Jakarta dan memulai segalanya dari nol. Tak ada prestasi yang aku hasilkan beberapa tahun ini. Itulah kenapa, saat libur lebaran, aku sempatkan untuk memfoto piala-piala yang ada di rumah.
Lebaran tahun ini, aku kembali sendiri menunggu di bandara. Aku kembali tanpa ada yang menjemput. Dari sini aku sadar, bahwa tahun ini tak jauh beda dari tahun kemarin. Aku tetap sendiri, menggerek koper tanpa ada yang menjemputku. Sedih?? aku menghapus sedihku dengan argumen bahwa AKu adalah wanita yang mandiri dan tidak manja! titik! Jadi perkara pulang sendiri, cukuplah aku yang tahu.
Semoga, di Catatan Setelah Lebaran 2017, aku sudah mewujudkan cita-citaku dan semoga aku bisa fokus bekerja dan berkarya. Amiin. dan semoga ada yang menjemputku di bandara.. Hahahahaiii.
Jakarta, 17 Juli 2016
Pukul 17.27 WIB
diketik di lantai 2 Plaza Slipi Jaya
sambil nunggu ujan yang belum reda
Di depan koko ganteng toko emas...
ehehe
Nunggu Maghrib ^_^

Comments
Post a Comment