Menjadi Orang Baik di Jakarta

Bismillahirrohmanirrohim..

Allah Maha Tahu isi hati kita, meski kita membuat seribu muka di mata manusia.

Rasanya, ada yang mengganjal di hatiku saat aku bangun tidur pagi ini. Ya, sebuah keadaan dimana aku harus menulis. Jika tidak, aku mungkin akan membawa perasaan tidak enak ini sepanjang hari. Dan aku tidak ingin itu terjadi.
Ini soal Hublumina naas. Hubungan manusia dengan manusia. Dan sudah jelas yang akan aku bahas adalah kehidupanku sendiri, dari perspektif aku, dan apa yang keluar dari logika sederhanaku. Dan ini tidak jauh dengan yang namanya kota Jakarta.
Semenjak tinggal di sini, aku harus dan kudu harus menyesuaikan diri, soal persainganlah, soal keberuntunganlah, dan lain-lain. Ada banyak manusia yang aku temui di sini. Dan mudah-mudahan Allah meridhoi semua pertemuan itu. Aku berusaha mengambil hikmah. Tapi, sembari aku berpikir dengan 'otakku yang polos', dunia seolah menertawakanku. Ini Jakarta, Men! Jangan baik-baik banget jadi orang! Jakarta ini kejam! Jakarta ini menipu! Jangan terlalu percaya sama orang! daaaaan masih banyak nasihat-nasihat sumbang yang membuat aku kadang tak percaya. Apa bener Jakarta seperti itu?
Meski aku tidak tercebur langsung dalam pengalaman getir di Jakarta, tapi aku banyak menyimak kisah orang-orang yang berada di sini. Mereka kebanyakan perantau dan dari mereka-lah, kadang keluar sebuah wacana untuk berhati-hati. Jujur, aku bingung apa yang harus aku lakukan dalam situasi seperti itu. Aku tidak yakin apakah mentalku bisa seperti mereka. Karena, aku menjalani hariku dengan kapasitas 'otak polos' yang justru ditertawakan oleh pemikiran mereka yang berpengalaman. Seolah aku adalah anak kecil dengan gulali di tangan kanan dan balon warna-warn di tangan kiri.
Aku masih tidak bisa menerima sebuah keberpura-puraan orang, acting orang, dan semua yang jelas-jelas orang lakukan tepat di mukaku. Aku tahu kepura-puraan yang ada, lalu aku memasang muka tidak suka dengan kepura-puraan yang dilakukan seseorang. Hatiku berontak dan ingin bertanya, mengapa anda membuat sebuah 'drama'? Tapi, aku tidak bisa bertanya selancang itu? Karena aku tidak berhak dan aku tidak berani bertanya. Sampai aku menemukan kesimpulanku sendiri untuk mulai berpikir, bahwa mungkin keberpuraan tersebut adalah cara dia bertahan hidup di kota Jakarta.
Juga, aku menemukan orang yang memiliki seribu wajah. Dia yang bisa tersenyum lebar di depan kita dan lima menit kemudian dia menyebarkan fitnah busuk yang baunya sampai ke hidung orang yang difitnah. Lagi, aku hanya diam saja. Apakah nasib orang-orang tersebut akan selamanya aman di muka bumi ini? Jujur, aku ingin tahu semua jawaban dari pertanyaan dari logikaku yang sederhana.
Hidup memang tak selamanya putih. Hidup juga tak selamanya hitam. Tapi, hidup dengan warna abu-abu justru akan menimbulkan tanda tanya besar.
Aku membenci orang yang berpura-pura karena mereka merasa mereka bisa mengibuli Tuhannya. Semakin mereka berpura-pura, semakin mereka lupa, Bahwa sejatinya yang kita cari itu adalah perhatian Allah, bukan perhatian manusia.



Jakarta, 29 Agustus 2016
Astagfirullahhaaziiim Waatubu ilaik..

Comments

Popular Posts