Ya Allah...Yang Maha Baik
Ini adalah postingan pertamaku tentang my journey of religion. Sudah lama sebenarnya aku ingin posting. Tapi, berhubung kerjaan lagi padat-padanya, So, aku putuskan untuk menulis saat waktu senggang.
Assalamualaikum,My Blog!
Mudah-mudahan postingan kali ini dapat menjadi refleksiku di tahun-tahun berikutnya. Amiin.
Ya Allah, untuk kesekian kalinya, tidak henti-hentinya hamba ucapkan syukur atas semua nikmat yang telah Engkau berikan kepada hamba.
Setiap insan, punya moment yang sangat membekas dalam hidupnya. Dan dalam perjalanan hidupku, aku membuat sebuah keputusan untuk mengalahkan diriku sendiri. Ini yang aku sebut sebagai journey of my life, khususnya lagi journey of Religion.
Kita..sebenernya tidak pernah tahu apakah kita bener-bener telah menemukan hidayah-Nya atau belum. Tapi, dari hati kecilku yang paling dalam, aku mencari-cari kapan hidayah Allah datang kepadaku, khususnya dalam berhijab.
Tadinya, aku tidak pernah berpikir akan 'ditantang' untuk melawan diriku sendiri. Ya, diriku sendiri. Karena sebuah prinsip itu kuncinya adalah diriku sendiri.
Hal ini dimulai ketika aku seringkali berpapasan dengan para ukhti-ukhti yang memakai hijab syar'i. Dalam hati, aku bergumam betapa hebatnya mereka yang dengan percaya diri melangkah, berhijab yang membuat keanggunan mereka dan meneduhkan mata yang memandang. Setiap kali aku melihat ukhti-ukhti tersebut, aku menyelipkan doa semoga suatu hari aku bisa seperti mereka. Ya, aku berharap aku bisa seperti mereka, minimal dari segi penampilan.
Belakangan, aku menyadari, bahwa ada satu pertanyaan dalam hatiku, sampai kapan aku terus seperti ini? mengenakan jilbab yang tidak sesuai dengan perintah agamaku yang sebenarnya. Aku berjilbab tapi masih berani memakai celana jins, berjilbab yang masih mengutamakan penampilan yang indah di mata manusia. Ya, seperti wanita pada umumnya, aku berpacu dengan mode, seolah mode itu adalah hal yang paling wahid yang menjadi aturan wajib.
Dan, aku pun tampil layaknya yang aku mau, tapi tidak seperti yang diisyaratkan oleh Islam, bahwasanya jilbab yang benar adalah hijab yang menutupi dada, bukan sesuka-suka kita asal kita nyaman. Tapi, pertanyaan itu semakin menjadi, SAMPAI KAPAN AKU HARUS BEGINI TERUS?
Ya Allah..berikanlah hamba keberanian untuk sesuai dengan jalanMu.
Waktu berlalu. Aku melihat pada diriku, bahwa aku sama persis dengan aku saat 2005 yang lalu. pakaianku masih seperti 'remaja'. Tidak menunjukkan sisi bahwa aku ini adalah seorang wanita muslimah. Jujur, aku sedih. Sebelas tahun telah berlalu, tapi tidak ada perubahan besar dalam penampilanku. Aku malu dengan ibuku yang setelah menyadari dan mendalami hijab, beliau memutuskan untuk berhijab syat'i. Sementara aku? yang sudah mengenyam bangku pendidikan tinggi? Yang katanya ikut pengajian setiap pekan? Masih tak jauh beda dengan mereka yang tidak berilmu?
ya Allah..ampuni sikap hamba yang batu, yang keras kepala.
Dan..tepat tanggal 15 Agustus 2016, selepas sholat subuh, aku memutuskan untuk mengenakan jilbab yang lebih lebar ketimbang sebelum-sebelumnya. tak ada lagi aksen lilit melilit dan mode yang mengikuti trend. Aku tidak melihat ke cermin karena aku yakin, aku pasti akan merasa aku begitu 'cupu'. Tapi, hijab yang panjang ini membuatku lebih banyak diam. Lebih takut melakukan hal-hal yang tidak sesuai. Aku merasaa takut kalau-kalau sikapku menodai jilbab yang aku pakai. Satu hari berlalu, kebetulan hari itu adalah hari kebersamaan (gathering) di Bandung. Di sebuah hotel berbintang, aku menggelar sejadah. Aku bersyukur ternyata satu hari telah aku lalui dengan hijab syar'iku. Mudah-mudahan aku bisa istiqomah dengan hijab syar'iku sampai aku kembali kepadaNya, Yang Maha Pemberi Hidayah.
Amiin.
Jakarta, Agustus 2016.
Salam Istiqomah.

amiiinnn ya robbal 'alamin..
ReplyDelete