Menjadi Pengalah
Assalamualaikum, Para Blogger..
Kadang, sebelum kita 'dikalahkan'oleh orang lain, kita harus mengalah dengan diri kita sendiri. Meyakini bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa dengan hati manusia. Aku melihat hati-hati yang tinggi, yang tak mau mengalah sedikitpun, tapi sebenarnya, aku-lah yang tak mau mengalah pada kenyataan. Ketika orang lain menghina dengan sikap dan kata-kata, aku tidak mau mengalah dan menuntut hak untuk dihargai. Padahal, bisa jadi segala bentuk penerimaan yang aku terima kali ini adalah cara Allah untuk melunakkan hatiku yang marah dengan apa-apa yang aku lihat, yang aku rasa, dan yang aku alami.
Di dunia ini, orang-orang kadang hanya memandang pada tingkat pendidikan yang kita miliki. Aku bahkan melihat seorang profesor yang begitu lunaknya pada mahasiswa S2. Dia begitu membanggakan mahasiswa tersebut. Memang, suatu kebanggaan bisa menjadi bagian dari kaum cerdas, tapi apakah cerdas saja cukup? jawabannya, tentu tidak.
Sekarang, aku juga tahu kapan harus buka mulut kapan harus tetap menjaga jarak. Karena terkadang, yang membuatmu berharga bukanlah teriakan, tapi dzikir yang kau ucapkan saat kau diam. Karena kita tak bisa melawan, mengalahkan orang dengan kenyataan. tapi, apa yang kita lakukan dengan dia akan membawa kita pada ketenangan. Biarlah orang-orang menang dengan cara mereka, dan kita tidak harus menang seperti dengan cara mereka.
Sejatinya, kita bukanlah pemenang dan pengalah. Kita adalah kita yang menjadi apa adanya kita. Kadang, semakin hari, ada perasaan yang tidak menentu.
Sore ini, aku belajar satu hal. Bahwa tidak usah terlalu berlebihan kepada manusia. Tidak perlu mengharap mereka baik dengan kita. karena, sebaik dan semanis apapun sikap kita, jika hati mereka tidak mengerti bahasa hati kita, semuanya akan sia-sia. Jadi, diam dan berdzikirlah..meminta ampun kepada Allah..
Kadang, sebelum kita 'dikalahkan'oleh orang lain, kita harus mengalah dengan diri kita sendiri. Meyakini bahwa kita tidak bisa melakukan apa-apa dengan hati manusia. Aku melihat hati-hati yang tinggi, yang tak mau mengalah sedikitpun, tapi sebenarnya, aku-lah yang tak mau mengalah pada kenyataan. Ketika orang lain menghina dengan sikap dan kata-kata, aku tidak mau mengalah dan menuntut hak untuk dihargai. Padahal, bisa jadi segala bentuk penerimaan yang aku terima kali ini adalah cara Allah untuk melunakkan hatiku yang marah dengan apa-apa yang aku lihat, yang aku rasa, dan yang aku alami.
Di dunia ini, orang-orang kadang hanya memandang pada tingkat pendidikan yang kita miliki. Aku bahkan melihat seorang profesor yang begitu lunaknya pada mahasiswa S2. Dia begitu membanggakan mahasiswa tersebut. Memang, suatu kebanggaan bisa menjadi bagian dari kaum cerdas, tapi apakah cerdas saja cukup? jawabannya, tentu tidak.
Sekarang, aku juga tahu kapan harus buka mulut kapan harus tetap menjaga jarak. Karena terkadang, yang membuatmu berharga bukanlah teriakan, tapi dzikir yang kau ucapkan saat kau diam. Karena kita tak bisa melawan, mengalahkan orang dengan kenyataan. tapi, apa yang kita lakukan dengan dia akan membawa kita pada ketenangan. Biarlah orang-orang menang dengan cara mereka, dan kita tidak harus menang seperti dengan cara mereka.
Sejatinya, kita bukanlah pemenang dan pengalah. Kita adalah kita yang menjadi apa adanya kita. Kadang, semakin hari, ada perasaan yang tidak menentu.
Sore ini, aku belajar satu hal. Bahwa tidak usah terlalu berlebihan kepada manusia. Tidak perlu mengharap mereka baik dengan kita. karena, sebaik dan semanis apapun sikap kita, jika hati mereka tidak mengerti bahasa hati kita, semuanya akan sia-sia. Jadi, diam dan berdzikirlah..meminta ampun kepada Allah..

Bagus bagus
ReplyDeleteArtikelnya sangat membantu