Aku Ingin Menjadi Ustadzah: Minimal Untuk Diriku Sendiri
Malam ini, alhamdulillah, kondisiku membaik. Atas izin Allah Subhanahuwata'ala, aku menjadi lebih baik dari malam sebelumnya. Alergiku sudah tidak kambuh. Alhamdulillah..
Seharian ini, sembari istrirahat, aku mendengarkan video-video ceramah Ustad Khalid Basalamah. Banyak sekali nasihat yang aku dapatkan dari beliau. Banyak sekali pengalaman beliau, dakwah beliau, dan pendapat beliau yang aku simak hari ini. Ya, aku memang suka menyimak kajian-kajian dari youtube kalau aku tidak bisa hadir langsung di kajian. Biasanya, aku menyimak video sesuai dengan topik bahasan yang aku cari.
Hari ini, aku mendengarkan nasihat-nasihat Ustad Khalid. Terutama tentang isi ceramah beliau yang mengatakan bahwa hidup ini sangat singkat dan kehidupan akhirat itu sangat lama. Juga tentang makna kesabaran yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Bahwa ketika kita terlahir di dunia ini, kita harus siap dengan pahit manisnya kehidupan. Kita harus bertanggungjawab dengan apa yang sudah menjadi keputusan kita.
Tadinya, kita tidak ada di dunia ini. Namun, takdir Allah membawa kita terlahir di dunia ini. Sehingga jadilah kita menjadi bagian dari dunia ini.
Takdir yang bisa sudah ditetapkan dan takdir yang diikhtiarkan
Hari ini, aku mendengar tentang perkara takdir. Takdir itu sendiri, ada yang sudah ditetapkan, ada yang juga diikhtiarkan. Baiklah, aku akan membahas tentang takdir yang sudah ditetapkan. Intinya, takdir yang sudah ditetapkan di sini adalah takdir yang sudah Allah tetapkan sebelum kita terlahir di dunia ini. Yang sudah tertulis di Lauhful Mahfuz. Misalnya, di bumi mana kita dilahirkan, dari suku apa, siapakah orang tua kita, kita terlahir dari keluarga seperti apa. Itu adalah takdir yang sudah menjadi ketetapan Allah Subhanahuwata'ala. Namun, ada juga takdir yang harus kita ikhtiarkan. Misalnya, kita berikhtiar untuk kuliah. Mungkin, kita bisa saja kuliah atau tidak kuliah. Namun, untuk bisa kuliah, kita harus ikhtiar dulu. Kita mengusahakan kalau kita harus melakukan sejumlah usaha agar kita bisa kuliah dan lulus. Selain itu, takdir yang menjadi takdir yang diikhtiarkan misalnya dalam mencari pekerjaan. Sebenernya, kita tidak ditakdirkan menganggur. Kita hanya melakukan pilihan. Mungkin, kita keluar dari pekerjaan yang menurut kita tidak sesuai dengan ketentuan agama kita. Kita mengambil langkah untuk meninggalkan pekerjaan tersebut. Ya, bisa adi karena kita merasa sudah saatnya kita keluar dari pekerjaan. Itu adalah pilihan dan takdir mengantarkan kita bahwa kita sudah bukan lagi bagian dari pekerjaan tersebut. Begitupun perkara jodoh. Kita kadang mengkategorikan jodoh itu perkara takdir yang tidak bisa diubah. Padalah, sebenernya, jodoh termasuk kategori takdir yang bisa diikhtiarkan. Jodoh itu adalah pilihan. Kita bisa meminta pentunjukNya untuk hidup bersama seseorang yang taat atau tidak. Kita bisa menentukan dengan sholat istiqoroh tentang siapa yang akan menjadi bagian dari takdir kita. Ya, dengan kata lain, segala konsekuensi dari pilihan kita, itulah bagian dari takdir kita, yang kita usahakan atas izinnya. Takdir juga yang membuat kita untuk sadar bahwa perkara di dunia ini adalah campur tangan Allah Subhanahuwataa;a. Mau jadi apapun kita, selagi itu adalah bagian dari hal-hal yang Allah ridho, maka tidak perlu khawatir. Jika hari ini, kita (maksudnya aku..hehhe) belum bertemu dengan orang yang tepat, maka bisa jadi ini adalah bagian dari takdir Allah yang mengharuskan aku untuk ikhtiar lebih baik lagi, do'a lebih khusuk lagi, sehingga takdir baik itu akan datang. Tidak apa-apa menunggu dalam ta'at. Tidak apa-apa sabar dalam ketaatan. Karena, aku percaya, selalu ada takdir baik untuk orang-orang yang sabar. Itu adalah janji Allah :)
Mengisi Diri Dengan Ilmu
Tahun 2017, aku menemukan suatu kesimpulan, tentang dakwah, tentang cinta, tentang pekerjaan, tentang pendewasaan diri. Em...apa mungkin aku terlambat menemukan? Entahlah..tapi yang jelas, aku sangat senang dengan penemuanku ini. Aku harap, aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi, mencintai agama ini, mencintai kaum muslim, dan bersyukur atas semua kesempatan yang Allah berikan padaku, hambaNya yang sangat lemah ini.
- Kesimpulan tentang Dakwah.
Apa itu dakwah? Bagiku, segala kebaikan yang kau bagi, itulah dakwah, baik melalui sikap/perilaku, perkataan, perbuatan, bahkan cara berpakaian pun adalah dakwah. Mengapa demikian? Karena bagiku, setiap muslim adalah pendakwah. Ketika dia melakukan kebaikan-kebaikan, maka secara tidak langsung, dia sedang berdakwah. Dia telah mengampaikan hal-hal postitif tanpa dia sadari. Maka, aku memilih untuk menjadi bagian dari dakwah ini. Aku ingin mengisi perbuatan, perkataan, penampilan, dan isi otakku dengan ilmu. Aku ingin membaca sebanyak mungkin karya-karya ulama muslim. Aku juga ingin belajar Parenting Nabawi, aku juga ingin belajar menjadi istri yang sholeha, kelak jika aku sudah berkelurga, aku bisa menerepkannya kepada suami dan keluargaku. Aku ingin menjadi ustadzah, minimal bagi diriku sendiri. Ya, itulah kenapa, aku harus banyak membaca, harus banyak menghafal ayat demi ayat. Aku tidak tahu, aku akan sukses atau tidak di jalur dakwah. Sekarang, aku hanya menabung pengetahuan demi pengetahuan. Aku ingin menjadi bagian dari dakwah ini. Aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang saling menasehati. Aku ingin menjelajahi bumi Allah dengan landasan ukhwah Islamiyaah, aku ingin berpetualang ke negara-negara yang menjadi jejak para nabi, tentu saja itu harus dilandasi dengan niat dan pengetahuan yang baik. Suatu hari, jika impian itu terwujud, maka aku sangat beruntung. Tapi, selagi masa itu belum datang, maka aku harus memantaskan diri. Minimal, aku ingin menjadi Ustadzah untuk diriku sendiri dan anak-anakku kelak.
- Kesimpulan tentang Cinta
"Dialah yang Maha membolak-balikkan hati." Hanya kepada Allah, hati manusia itu berada. Hatiku pun adalah dalam genggaman Allah. Mudah bagi Allah untuk mencabut rasa suka, benci, kagum, dan lain sebagainya. Lalu, menurutku, kita hanya bisa pasrah dan memohon. Karena sekuat apapun kita mengambil hati seseorang, jika Allah tidak berkenan, maka seseorang tidak akan menjadi bagian dari hati kita alias kita tidak akan berkesan di hatinya. Ini sangat unik. Seolah, teori tarik menarik itu tidak berlaku. Hukum sebab akibat menjadi tidak berlaku. Mengapa? Karena menurutku, hati manusia itu ada dalam gengaman Allah. Jika Allah setuju, maka Allah akan membuat hati itu terkesan. Namun, jika Allah tidak setuju, maka mustahil hati itu akan terkesan. Jadi, stop untuk terlalu meminta kepada seseorang agar terkesan pada kita. Stop untuk berharap pada manusia. Karena sebenarnya, hal-hal perkara hati ini sangat mudah bagi Allah. Aku jadi teringat kisah Yusuf dan Zulaikah. Dulu, ketika Zulaikah memaksa Nabi Yusuf AS untuk berduaan dengannya, Allah menjaga hati Nabi Yusuf dan tidak diizinkan olehNya menjadi pasangan bagi Zulaikah. Namun, di waktu yang tepat, Allah perkenankan hati Zulaikah dan Nabi Yusuf bersatu karena Allah Subhanahuwata'ala telah memberi hidayah kepada Zulaikah dan mereka pun akhirnya bersatu di waktu yang tepat. Juga masih banyak kisah di dunia ini soal cinta yang maha suci, yang saling melepaskan untuk mengharapkan ridho Allah. Aku sendiri, tidak tahu bagaimana Allah mengaturku nantinya, namun aku percaya, jika Allah ridho, maka apapun akan mudah. Sebaik-baik penantian adalah saat kamu bersama Al-qur'an. Aku hanya perlu bersabar dan memantaskan diri :)
- Kesimpulan Tentang Pekerjaan
Aku adalah orang yang memiliki prinsip. Jika bagiku itu tidak masuk akal dan cenderung membawa dalam ketidaksukaan Allah, maka aku meninggalkannya. Hal-hal yang menurut orang adalah sepele, tapi bagiku jika itu mengundang murka Allah, maka aku akan meninggalkan. Jika itu adalah bentuk penghinaan, maka aku akan meninggalkan. Aku tidak takut, karena aku percaya, rejeki Allah semua yang atur. Sudah bukan zamannya mengagung-agungkan pekerjaan yang di dunia sepertinya keren tapi sebenernya itu adalah murka Allah. Bagaimana mungkin, kita mengisi perut kita dengan sesuatu yang Allah tidak sukai? Bagaimana mungkin kita menyepelekan sesuatu yang sebenernya sudah tau itu adalah kesalahan. Maka, aku berkesimpulan untuk tidak melanjutkan sesuatu yang keluar dari prinsipku. Aku sudah memutuskan dan aku pikir, keputusan terbaik adalah memerdekaan diri dari sesuatu yang kita yakini salah. Merdekalah! Merdeka dari perbuatan yang sepele namun berdosa besar, merdeka dari orang-orang yang fasik, merdeka dari orang-orang yang menghinakan orang lain, merdeka dari lingkungan yang 'mementingkan satu golongan', dan merdeka dari orang-orang yang memandang rendah penghafal qur'an. Itu adalah prinsip! Dan prinsip inilah yang membuat aku berani mengambil sebuah keputusan!
- Kesimpulan Tentang Pendewasaan Diri
Sebenernya, pendewasaan diri ini bentuk transformasi menuju pribadi yang lebih baik lagi. Aku tidak tahu, seperti apa orang di luar sana menilaiku? Seperti apa aku di mata teman-temanku, keluargaku, dan orang-orang di sekitarku. Namun, terlepas dari semua penilaian orang lain, aku harus jujur pada diriku sendiri. Aku masih harus banyak belajar, aku juga masih harus banyak belajar dari pengalaman orang lain, masih harus banyak mendengar. Pendewasaan ini menjadikan proses yang aku alamin setiap harinya. Mau jadi apa aku dan apa yang menjadi prioritasku? Pencapaian apa yang akan menjadi bagian dari takdirku? Apa aku layak disebut dewasa? Apa aku layak menjadi contoh untuk orang-orang di sekitarku? Apa aku sudah disiplin dan bertanggungjawab? Bagaimana kualitas diriku sampai saat ini? Sejauh mana impian dan komitmen sudah aku jalankan? Ya Allah, semoga Engkau mampukan hamba untuk istiqomah di jalan ini? Menjadi muslimah yang mulia dan berakhlak baik, senantiasa muhasabah diri, senantiasa memperbaiki diri, berbaik sangka dan mau belajar. Sabar dalam setiap keadaan, syukur dalam segala situasi. Itulah pendewasaan. Itulah yang akan mengantarkan kita menjadi pribadi yang layak untuk dikenang ketika kita telah meninggal. Pendewasaan diri ini sejalan dengan komitmen yang telah kita buat. Semoga, ini menjadi kekuatan untukku, untuk bisa memberikan yang terbaik, bagi keluargaku, agamaku, dan orang-orang yang aku sayang.
Tulisan ini sengaja aku tulis, sebagai pengingat untukku. Aku ingin menjadi bagian dari dakwah ini. Aku inin menjadi bagian dari para tholabul ilmu, aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang mengharap ridho Allah, aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang bersemanagat menimbah ilmu dan membaginya. Perkenankan hamba ya Robb :)
Jakarta, Indonesia
7 Agustus 2018
Pukul 22:51


Terima kasih banyak sangat menginspirasi inilah yang saat ini ingin saya lakukan,saya ingin mempelajari ilmu agama untuk diri saya sendiri dan anak anak saya,semoga masih belum terlambat...semoga Allah mengabulkan...
ReplyDeleteAamiin ya robbal alamiin...semangat :)
Delete