Sahabat Ketika Memulai
Bagi orang yang sedang ingin memulai, doa dan dukungan adalah dua hal penting. Ya, apalagi ketika kau berada di titik yang tidak diperhitungan orang, yang ketika siapa kamu bukanlah hal penting, yang karyamu tidak diapresiasi, yang pendapatmu hanyalah dianggap omong kosong bagi orang-orang, di saat seperti itu, kita menjadi tahu, mana yang layak disebut sahabat, dan mana yang hanya sekedar teman.
Aku kadang tidak bisa membedakan mana teman, mana sahabat. Aku kadang menganggap semuanya adalah sahabat, sehingga aku ingin memberikan yang terbaik untuk sahabat-sahabatku. Tapi ternyata aku salah, orang yang aku pikir adalah sahabat, ternyata hanya memperlakukan aku sebagai teman. Tapi, orang yang aku pikir hanyalah teman, justru memperlakukan aku layaknya seorang sahabat.
Dengan seorang sahabat, kita berbagi mimpi. Dengan sahabat, kita berbagi susah, dengan sahabat, kita berbagi doa. Itulah yang aku pelajari dari seorang sahabat bernama Mar. Ya, sahabat yang aku kenal di kelas risalah nur yang diadakan oleh HF Indonesia.
Sekarang, aku tahu, siapa yang layak disebut sahabat atau bukan.
Sahabat tidak akan meninggalkanmu saat misinya telah dicapai.
Sahabat tidak egois. Ketika dia mendapat kebagiaan, dia akan membagi kebahagiaan itu, bukan malah menikmati sendiri. Sahabat akan bertanya ada apa, saat kau tidak muncul. Sahabat juga orang yang mengerti kondisimu. Bukan orang yang ketika kebahagiaannya terwujud, dia sibuk dengan dunianya sendiri. Ah, sahabat macam apa itu. Aku sekarang mengerti, kenapa ada hadist yang mengatakana jangan terlalu berlebihan terhadap sesuatu, karena itu tidak baik.
Sudahlah, aku sudah mengambil pelajaran berharga dari kejadian kemarin. Aku harap, bisa bertemu dengan sahabat yang lebih baik.
Sudahlah, aku sudah mengambil pelajaran berharga dari kejadian kemarin. Aku harap, bisa bertemu dengan sahabat yang lebih baik.
Alhamdulillah, sekarang, pelajaran itu membuatku lebih mengerti dan lapang. Orang-orang yang hanya menelpon/menghubungi. kita di saat dia hanya butuh, TIDAK LAYAK DISEBUT SAHABAT. Bahkan tidak layak disebut teman. Karena mereka hanya mengambil untung dari bantuan kita. Maka, aku bermohon kepada Allah, dijauhkan dari orang-orang seperti itu. Semoga Allah menunjukkan jalan, seperti apa persahabatan dan ukhwah yang seharusnya.
Dari Sahabatku Mar, aku belajar utuk mendoakan sahabat kita. Bukan sekedar mendoakan karena dia membantu kita, tapi hanya mendoakan. Ya, mendoakan. Tidak pelit doa, tidak hanya mengadakan percakapan ketika lagi butuh. Ah, intinya, aku sudah melupakan apa yang sudah aku pelajari dari relationship antar manusia.
Ketika aku memulai, ketika memperjuangkan kembali apa yang aku miliki, disitulah, aku diperkuat dengan sahabat.
Terima kasih, Mar. Atas dukunganmu. Semoga Allah mengijabah do'a-do'a kita. Semoga Allah perkenankan impian-impian kita, hingga kita berada dan menyaksikan langsung langit Turki.
Jika kamu nggak sengaja baca tulisan ini Mar, anggap aja ini adalah ucapan terima kasih seorang Lajma Khanie (The Next Penulis Best Seller Buku-Buku Islami). Aamiiin.
Terima kasih, Mar :)
Jakarta, 20 Dzulkaidah 1439 Hijriah.


Comments
Post a Comment