Bila Kamu Tak Menemukan Cinta, Biarkan Cinta Yang Menemukanmu


Kalimat yang menjadi judul di postingan blog gue hari ini, gue kutip dari tagline "Assalamualaikum Beijing".  Sebuah novel karya penulis idola gue, Mbk Asma Nadia.  Gue emang belum sempat membaca langsung novel yang memiliki alur yang apik itu. Tapi, gue sudah nonton versi layar lebarnya. Diperankan oleh artis cantik Revalina S. Temat yang beradu acting dengan Morgan Oey, film ini sukses membuat gue menitikkan air mata di bagian antiklimaks. Dan untuk kesekian kalinya, nuansa drama yang syarat akan pesan moral dari sang penulis, mampu menancapkan pelajaran berharga seputar cinta dan serpihan-serpihannya.
 Dari "Assalamualaikum Bejing", gue belajar banyak hal. Mulai dari belajar move on dari kisah masa lalu sang tokoh, belajar mengikhlaskan apa yang terjadi pada kita, tidak menyerah dalam keterbatasa, bahkan sebuah skenario Tuhan yang mempertemukan Asmara (Si tokoh utama) dengan Cinta sejatinya di Beijing.
Selain kekaguman gue mengenai alur cerita secara keseluruhan, gue juga terpukau dengan karakter dari dua tokoh utama. Pertama, tokoh Asmara yang diperankan Revalina. Menurut kacamata gue, tokoh Asmara ini benar-benar kuat. Dia berusaha mengikhlaskan apa yang telah menjadi takdirnya. Saat dia tidak bersatu dengan cintanya, Asmara tidak bersikukuh untuk mendapatkan kebahagiaan. Dia berusaha maju dengan jalannya sendiri. Mengikhlaskan cintanya dan berusaha menemukan cinta yang lain di tanah Beijing. Bukan hanya soal cinta, ternyata kisah ini juga menginggung soal perjuangan sang tokoh dalam melanjutkan hidup. Akting Revalina saat memerankan sakit struk dengan ekspersinya yang natural membuat gue semakin kagum. Dan kekhawatiran gue soal Morgan Oey yang akan mengalami tumpang tindih dengan Revalina ternyata terpatahkan. karakter Morgan yang memerankan Chung un (seorang pemuda asal Beijing) rupanya mampu mengimbangi lakon yang diperankan Revalina. Mereka pun membangun chemistry secara bertahap, mulai dari kekakuan saat saling mengenal, sampai akhirnya dua insan ini merasakan rindu yang menyatakan bahwa itu adalah serpihan dari rasa cinta. Tadinya gue pikir, cerita ini akan berakhir sedih dan mewek-mewek..tapi ternyata gue salah. Saat Gue pikir si Asmara ini tidak akan menemukan cintanya karena keterbatasan penyakit yang dia punya, rupanya sang penulis tetep kekeuh dengan tema cerita. Jika memang kamu tak menemukan cinta, biarkan cinta yang menemukanmu. Perjuangan dan pengorbanan Chun Un untuk meyakinkan cintanya lalu datang ke Idnonesia menemui Asmara adalah antiklimaks dari cerita ini. Bayang-bayang negatif gue seputar ending cerita berubah menjadi cahaya terang penuh kebahagiaan saat melihat Revalin dan Morgan bersatu di cerita ini. Bukan hanya itu, pemandangan yang memanjakan mata dari setting cerita yang mengambil Beijing sebagai tempat terjadinya cerita, secara otomatis menggerakkan niat pembaca/penonton untuk menginjakkan kaki di dataran Cina itu.


Comments

Popular Posts