Hidup Prihatin dan Keprihatinan Hidup

"Jika kamu bermental lunak kepada hidup, maka hidup akan keras terhadapmu. Tapi jika kamu beusaha keras kepada hidup, maka hidup akan melunak kepadamu"- Aku mendengar kalimat itu di tahun kedua di saat menjalani kehidupan di SMA. Ya...meski 8 tahun telah berlalu, aku masih mengingat kalimat yang menurutku, sedikit banyak menggambarkan aku dan kehidupanku. Tentu saja, aku tak membagi semua yang aku alami ke selembar kertas atau blog yang aku jadikan rumah curhat, meluapkan semua pikiran yang nyangkut di otakku.
Aku pikir, seorang gadis dengan tipe perjuangan sepertiku akan bertemu dengan pangeran yang menyelamatkanku dari kesedihan yang aku simpan sendiri. Atau minimal, aku bertemu kesatria yang memberiku semangat untuk melewati hari demi hari yang aku lewati ke depannya. Tapi..hidup tak seindah apa yang kita bayangkan. Pangeran tetaplah akan bertemu dengan tuan putri, bukan upik abu seperti-ku, dan kesatrian tak pernah mau melirik dan turun dari kuda putihnya hanya untuk menyapa kaum yang biasa sepertiku. Jadi, jelas sudah, bahwa seperempat abad waktu yang aku jalani, aku dan memori masa-masa prihatin itu terekam jelas di benakku. Ketika aku berpikir, aku menemukan orang yang pas untuk berbagi cerita, aku takut, bahwa keprihatinan hidup yang aku alami membuat orang lain berpikir bahwa aku terlalu lebay. Itulah mengapa, aku tak berani mengatakan apapun tentang perjuanganku. Biarlah orang tahu aku yang sekarang, menilai aku sebagaimana aku yang sekarang.
Tapi, terlepas dari apakah aku berkesan atau tidak, yang tak berubah dan tak tergores oleh waktu adalah cita-citaku. Aku ingin menang dari keprihatinan yang aku lalui. Jauh dari lubuk hatiku, aku secara jujur ingin menang. Ingin membuktikan aku layak berhasil. Meski tantangan itu berat dan aku harus memompa lagi semangat yang mulai menipis..tapi aku selalu tergoda untuk menjadi bagian dari kemenangan hidup. Sekarang, aku baru mengeluarkan 0.1 persen dari kemampuan berpikirku. Aku tidak memanfaatkanya seperti dulu. Aku menjadi orang yang tidak aku kenal sekarang. Aku bukanlah Dwi yang dulu. Dan tugas terberat, aku harus kembali menjadi Dwi yang dulu. Menggali lagi dan mulai dengan rate waktu yang dulu aku punya. Ya..aku tidak ingin, aku menyesal di kemudian hari. Cukup kenyataan sekarang saja yang membuka mataku dan menamparku untuk bangun dan sadar tentang arti hidup yang sebenarnya. Tak masalah, di luar sana tak kutemui orang yang akan mendengarkan ceritaku, tapi aku masih punya Allah, tempatku mengadu, memohon, meminta, dan memberiku kekuatan untuk kembali fokus. Aku ingin melupakan kesedihan yang terenggut oleh nasib.Dan hanya orang yang pernah hidup prihatin yang mengerti arti keprihatinan. Em..di Jakarta ini, apa masih ada yang seperti itu? Entahlah..tanyakan saja pada gedung-gedung yang menjulang..

Comments

Popular Posts