Love Estapet 

         Hari ini adalah libur pertamaku. Hem...apa yang harus aku lakukan dengan jatah waktu 7 hari tanpa kuliah? Enaknya ngapain ya? Mau jalan? Uang nggak cukup. Mau belanja? Apa lagi. Semua serba minim. Aku nggak cukup banyak dana untuk satu kata libur. Yah...akhirnya aku isi liburku bersamamu CAWI (my first notebook)
          Oke, hari ini mari kita bicara soal cinta. Em...entah kenapa, aku menjelma menjadi sosok  yang menaruh cintanya di dalam hati. Aku selalu menjadi objek dari cinta itu sendiri. Aku selalu menjadi sosok yang mengagumi. Aku mengagumi orang yang tak mungkin akan menegurku. Baiklah, mari kita simak pengalamanku di bidang yang satu ini.
       SD. Di bangku sekolah dasar, aku pernah mengalami cinta monyet pada teman sekelasku. Namanya Budi, dia anak laki-laki paling pintar di kelasku. Ia juara satu, mengungguliku di mata pelajaran matematika dan bahasa Indonesia. Hem...bukan aku saja yang menyukainya, teman-temanku yang lain, seperti Esi, Novia, dan Mary juga menaruh hati padanya. Budi tak hanya jago di  kelas tapi ia juga juara lapangan. Ia mencetak banyak gol di lapangan olahraga kami yang lapang. Sayangnya, Budi tidak lama bersama kami. Di kelas 3 SD, ia pindah dari sekolah. Sejak itu, aku tak melihat wajah Budi lagi. Budi pergi tanpa pamit. Kepergian Budi mendorong Ayukku dan aku memduduki rangking 1 dan 2 di kelas. Sampai sekarang, aku tidak tahu tentang Budi, di mana dia, sudah menikah atau belum, dan apakah dia masih jenius seperti dulu? Entahlah. Waktu telah menghapus segala kekagumanku padanya. Budi pun hilang begitu saja dari memori otakku.
          Tuhan memang adil. Bahkan perihal cinta pun, Ia begitu adil. Budi pergi Agus pun datang. Namanya Agus Setiawan. Dia murid pindahan di sekolah. Em...mendengar kata murid pindahan, aku riang minta ampun. Bisa dikatakan, waktu itu, ia adalah cowok terganteng di kelas. Ia memiliki pandangan mata yang tajam. Mirip Sasuke di serial komik Naruto. Kami pun bersahabat. Aku ingat betul, Agus dengan sepedanya memboncengku sehabis pulang dari ngaji di ibu Sil. Mengenang itu semua, perutku terasa geli. Hehe..romantisme picisan!
           Well, satu memory yang membuat aku ingin tertawa adalah kejadian  saat Agus menghiburku dengan lagu, lagu jadul banget. Aku lupa! Kini, Agus tetap menjadi temanku meski pun sudah lebih dari 6 tahun kami tidak berjumpa, sekarang ia menjadi pria yang mencari kerja sana sini. Ia baik dan menganggapku sebagai saudaranya. Hem..aku senang menjadi saudara dengan teman sekelasku sendiri. Toh sekarang aku tidak memiliki perasaan apapun padanya.
                SMP. Aku sempat merasakan suatu perasaan nervous saat pertama kali bertemu Tio. Em...waktu itu, di koridor kelas, aku berpapasan dengannya untuk pertama kalinya. Aku hendak ke kanan, ia juga ke kanan. Aku hendak ke kiri,eh dia malah ke kiri. Kami pun bingung sendiri. Dan sejak saat itu, aku selalu nervous tiap kali dekat dengan Tio. Apalagi dia seorang atlit pencak silat di sekolah dan cukup terkenal. Kami beda kelas. Ia pun terkabar pacaran sama Messi, salah seorang cewek cantik di sekolah. Tio dan Mesi. Aku? Aku sendiri tidak mengenal cinta. Bagiku, yang terpenting adalah prestasi. Aku pun unggul di bidang akademik dan menangguhkan perasaanku pada Tio yang sudah jadian sama Messi. Tapi, sepetinya Tuhan menginginkan aku lebih mengenal makhluk itu. jadilah aku dan Tio satu kelas dan di pelajaran Bahasa Indonesia, aku dan Tio didapuk menjadi pemeran Rafiah dan Hanafi untuk memerankan drama Salah Asuhan. Tapi, itu semua tak membuat aku dan Tio dekat. Sedikit pun dia tidak memiliki perasaan yang sama seperti yang kurasakan. Aku pun menutup rasa kekagumanku padanya.
            SMA. Di awal SMA, ibu memulai bisnis baru, yaitu jualan nasi uduk. Karena sudah kawanan sewaktu masih remaja, ibuku dan Bik Anis menjalin kerja sama. Bahan-bahan yang akan menjadi bahan-bahan nasi uduk dibeli ke bik anis. Kebetulan, bik Anis jualan sayur mayur dan sembako. Well, akhirnya setiap malam, aku dan ayuk ujik harus ke rumah bik Anis untuk mengambil sayur mayur. Dari situlah, cerita tentang Ricky dimulai. Aku dan Ricky tak pernah bicara dan tak pernah bersuara. Ia adalah cowok paling keren yang pernah aku lihat. Ia cool. Senyumnya membuatku tak bisa tidur. Kedua orang tua Ricky membuat guyonan kalau Ricky akan memilih antara aku dan ayuk. Aku berharap, akulah yang ricky pilih, tapi....si Ricky itu tak pernah berbicara apapun padaku. Kami seperti orang-orangan sawah yang bisu. Cerita tentang Ricky berbuah dengan ketololan-ketololanku. Dari lubang kecil di muka pintu, aku sering mengintip Ricky yang main volly di depan. Mengintip apakah dia ada di seberang? Akh...aku sangat tolol dibuatnya.
          Ketika aku kelas tiga SMA, aku nyaris terjebak pada cinta beda usia. Ya,aku mengagumi seorang adik tingkat kelas 1 SMA, padahal aku sendiri kelas 3, meski kuakui aku dan dia hanya beda 1 tahun. Oh my god, HANYA?? Namanya Rici, ia asli Meranjat-Padang. Badannya tinggi, kulitnya hitam, dan dia benar-benar jago bahasa Jepang. Sebelumnya, aku tidak mengenal Rici sama sekali. Tidak sedikitpun! Bagiku, ia adalah adik kelas yang culun! Celana cut bray dan kacamata yang culunnya minta ampun! Tapi, mimpi tentang dirinya membuat aku mengenal dia. Ya, percaya atau tidak, aku bermimpi tentang Rici, mimpi kalau kami berdua dekat dan akan dijodohkan. Sejak mimpi-mimpi itu datang ke tidurku, aku pun mulai mengukai Rici. Aku tak tahu alasan apa yang membuat aku jatuh cinta padanya. Aku tidak bisa memanggil dia dengan sebutan Dik. Ah, aku dibuat bingung karenanya. Jatuh cinta dengan Rici membuatku sakit. Padahal, aku bela-bela i tinggal di asrama demi lebih dekat dengannya. Aku berharap, jika aku sering bertemu, aku bisa menyatakan perasanku pada Rici. Aku mencari-cari cara agar bisa dilirik Rici. Aku bela-belai duduk di barisan belakang agar tidak ketahuan. Entah kenapa, aku benar-benar jatuh cinta pada Rici. Aku deg-deg an di dekatnya. Aku ingin dia tahu perasaanku. Aku ingin menjadi seseorang yang berarti di matanya. Hem...tapi aku sadar. Aku telah JATUH CINTA PADA ORANG YANG SALAH. Saat aku tamat SMA, kubuktikan apakah Rici mencintaiku atau tidak, yah...aku sudah mendapat jawabannya, TIDAK!!
          Well, setelah tahu bahwa Rici tak mencintaiku, aku mengubur semua tentangnya dalam-dalam. Aku tak ingin membahas tentangnya. Aku akan memulai hidup baruku di bangku kuliah. Dan di semester 2, aku mengagumi Kak Tian. Pimpinan Redaksi di majalah kampus tempat aku berorganisasi. Bagiku, Kak Tian adalah orang yang kreatif dan pintar. Ia adalah wartawan. Ia memiliki sejuta pesona. Em..untuk pertama kalinya, aku jatuh cinta pada kakak kelas. Aku senang bisa mengenal Kak Tian. Ia keren! Aku pun mencari cara agar dekat dengan Kak Tian. Aku memutuskan untuk membuat film dokumenter kampus. Aku berharap, dari proyek itu, aku akan dekat dengan Kak Tian, setidaknya aku berharap dia memboncengku dan mengantarku ke rumah. Tapi, angan-angan itu ambruk begitu saja karena cintaku bertepuk sebelah tangan. Antara aku dan Kak Tian, tidak ada perasaan dan hubungan apapun. Skenario yang aku buat gagal total. Setiap kali nonton film dokumenter garapanku, aku teringat Kak Tian yang tak perah sedikit pun menaruh perhatian padaku.
           Baiklah, aku tak akan mengharap apapun pada cinta. Aku ingin dicomblangin saja. Ternyata, doaku didengar. Aku pun dikenalkan Amik dengan Dhoni. Ya, nama lengkapnya Wahyu Ramadhoni. Dia anak kota. Aku anak desa. Dia keren, aku..ah...aku menjadi tidak PD jalan dengannya. Ia terlalu keren. Aku dibuat minder. Aku pun bingung dengan karena dhoni tak menunjukkan  tanda-tanda hubungan yang kami jalin.
          Well, cintaku pun akhirnya berlabu pada ADIT! Dia cowok pertama yang menyatakan cintanya padaku. Adit membuatku menjadi wanita yang layak untuk dicintai. Untuk pertama kalinya, aku menjadi orang yang dicintai. Sebenarnya, aku tidak begitu mencintai Adit. Dia asing bagiku. Tapi, lambat laun, aku pun mengenalnya dan menerima cintanya. Tapi, hubunganku dengan Adit tak begitu harmonis. Dia cuek. Dia juga tak berpenampilan seperti yang aku harapkan. Em...walau begitu, aku bersyukur dengan adit. Karena Adit telah mau mendengarkan semua ceritaku. Adit adalah seseorang dengan ketegasan, dengan pemikiran yang dewasa, dan sepertinya dia teman yang baik. Tapi, kadang Adit buatku ilfiil. Aku kadang kesel dibuatnya. Hehehe...walau pun begitu, aku tetap bersyukur.
 “AKU AKAN MEMPERBAIKI DIRIKU SENDIRI AGAR AKU MENDAPATKAN HADIAH TERINDAH DARI ALLAH, YAITU JODOH YANG BAIK.”  Tulisan dari notebook lama, Selasa, 21 Juni 2011

Comments

Popular Posts