Merantau itu Pilihan

Di postingan kali ini, aku bakal menulis salah satu topik yang paling aku suka sebagai materi refleksi. Apa  itu? Merantau!
Merantau alias pergi jauh dari rumah dan keluarga adalah sebuah pilihan. Ya, karena hanya orang-orang yang berani menentukan pilihanlah, yang berani merantau. Sebelum memutuskan untuk merantau, biasanya, 'galau' akan melanda hati seorang calon perantau. 
Di awal keputusanku untuk merantau, aku juga diliputi kegalauan. Aku menjadi orang yang pendiam menjelang keberangkatanku di tempat rantau. Gimana nggak? Satu sisi, aku punya misi ingin punya pengalaman baru, kehidupan yang lebih baik, dan menjadi tangguh. Tapi, di sisi lain, awan hitam yang berupa prasangka buruk dan takut pun menyelinap. Akankah aku nyaman dengan lingkungan yang baru? Gimana aku harus memulainya dari 'nol'? Sanggupkah aku meninggalkan orang tua, saudara, sahabat, dan juga orang yang aku kagumi, demi kehidupan baru yang masih gamang untuk dijalani?  
Saat hari keberangkatan itu tiba, sebelum berangkat, aku menyimpan beberapa lembar foto di dalam koperku. Foto itu adalah foto aku ketika wisuda sarjana  lengkap satu keluarga. Ada aku di tengah-tengah Yaya, Ebak, Mamat, dan Ayuk Ujik. Aku juga membawa serta oleh-oleh yang aku terima sebagai lulusan terbaik Fakultas Bahasa dan Seni. Juga selempang bertuliskan Comluade. Dalam hati aku berharap, aku bisa melanjutkan studi S2 di tanah rantauan, selain aku bekerja di sana tentunya.
Ketika aku memutuskan untuk merantau, di sanalah pengenalan pertamaku pada fase dewasa. Keluar dari zona mahasiswa yang selama ini aku jalani, menjadi sarjana yang siap bekerja di tanah rantau. Mungkin, merantau adalah jawaban dari bentuk usaha apa yang aku lalui sesudah aku menjalani masa kuliah. Lagian, masa kuliah sudah selesai. Selamat datang di kehidupan yang nyata. Selamat datang di dunia kerja.
 Kegalauan bukan hanya menyangkut nasib masa depan, tapi yang paling banyak justru pada perasaan jauh dengan orang-orang yang tadinya dekat. Aku takut, aku akan jauh dengan saudara-saudaraku. Aku tidak melihat adikku saat dia berangkat sekolah, aku takut tidak bisa lagi curhat ke saudari perempuanku. Aku juga takut tidak bisa bercanda lagi dengan Ebak, menasehatinya, dan ngobrol dengannya. Aku pasti akan merindukan teriakan 8 oktaf saat Ibuku marah di pagi hari. Aku juga akan merindukan jalan di kampung halamanku, tempat aku menunggu angkot. Aku juga akan juga akan merindukan kampusku yang luas, Almamater kebanggaanku. Aku merindukan masakan Palembang yang khas, dan pastinya, Tapi, terlepas dari semua ketakutan, tantangan yang aku alami di tempat rantau, dan haru biru pengalaman selama merantau, satu yang sampai sekarang paling aku sadari. KASIH SAYANG ALLAH.  Ya, setiap kali aku bangun dari tempat tidur, aku membuka mata, menyadari keberadaanku di tempat tidur, dalam keadaan sehat, dan masih bisa menarik napas, bekerja dengan indra yang utuh, membuatku sadar, bahwa Allah Maha Menjaga. Ia telah mengirim malaikatnya untuk menjaga hambanya. Hambanya yang hijrah ke tanah rantau. Dari beratus-ratus manusia di Jakarta, jauh berkilo-kilo meternya dari kampung halaman, dengan iringan doa dari ibu dan ayah, aku masih dijaga dan di lindungi. 
Semakin jauh aku merantau, aku semakin bersyukur dan sadar bahwa kasih sayang Allah itu begitu luas. 

"dan nikmat Tuhanmu manakah yang kau dustakan?"

Jakarta, 21 November 2015

Comments

Popular Posts