Syawal Terakhir 1439 H
Bismillahirrohmanirrohim...
Jakarta, 5 Juli 2018
Bertepatan dengan 20 Syawal 1439 Hijriah
Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Perasaan kehilangan sekaligus ketidakmampuanku untuk berada di sana. Di pemakaman nenekku :(
Hari ini, menjadi hari yang bersejarah buatku, buat keluarga besar, juga yang pasti buat ayahku.
Aku berusaha untuk tidak menangis, tegar, memperbanyak istigfar, dan mengalihkan semua perhatiaku untuk ikhlas..hanya saja, suasana membuatku mengenang-ngenang tentang nenek. Aku sendirian di sini, di Jakarta...rasanya, berat menghadapi berita buruk saat kau sendirian. Tapi, berusaha menutupi kesedihanku. Aku berusaha untuk menangis hanya sekali, saat aku pertama kali mendengar kabar dari ayah. Tapi...kenyataannya, seharian ini, aku sedih, aku menangis tanpa ada satu orang pun yang tau. Aku benar-benar sedih.
Hari ini, untuk pertama kalinya, aku mendengar ayahku menangis. Suaranya terdengar jelas di ujung telepon. Ayahku menelponku. 16 Panggilan tak terjawab. Aku benar-benar tertidur karena aku lagi halangan (haid), jadi aku tidak tidak tahu kalau ada yang menelpon karena aku tertidur pulas. Aku merasa berdosa dengan sikapku.
Saat aku bangun, aku langsung melihat ke arah handphone dan kulihat lagi 16 panggilan tak terjawab. Aku melihat siapa yang menelpon. Ebak-ku. Ya, pikiranku langsung tertuju ke sosok nenek. Pasti terjadi apa-apa. Dan saat aku membuka pesan WA, berita duka itu nyata. Ibuku mengatakan kalau nenek sudah wafat. Tangisku tumpah, andai saja semalam aku begadang lebih larut, mungkin saat ayah menelpon, aku masih terjaga. tapi..sudahlah..tidak ada gunanya menangisi apa yang sudah terjadi.
Aku gemetar menuliskan berita duka di layar HPku. Hari ini tiba juga. Hari dimana aku harus menuliskan kabar duka dari keluargaku. Aku menulis dengan gemetar. Air mataku tumpah. Berkali-kali aku menarik napas. Berusaha ikhlas, tapi wajah nenek selalu terbayang di mataku. Aku sangat sedih. Terbayang ketika lebaran beberapa hari yang lalu, saat aku membisikkan kalimat "Laa ilaha illaullah.." di telinganya dan dia mengikutiku. Aku senang bisa menuntunnya waktu itu. Dia menangis, aku bilang, jangan menangis. Aku menghapus air mata nenek.
Ya Allah, ayahku kehilangan sosok ibu. Hari ini, hatinya mungkin hancur. Sebagai anak pertama, Ayahku pasti sangat sedih. Aku tidak tahu, bagaimana kondisi ayah saat tahu tentang kepergian nenek, tapi aku bisa merasakannya, karena aku adalah anak yang paling dekat dengan ayah.
Aku mengirim pesan WA. Pertama kukirim ke grup yang paling aktif, Setelahnya..berita mulai tersebar dan ucapan belasungkawa dari HP berdatangan. Aku sangat sedih.
Melewati kabar buruk sendirian di rantau bukanlah hal yang baik.Aku tahu, aku butuh bahu untuk bersandar, tapi aku sadar, aku masih punya lantai untuk bersujud. Aku ikhlaskan nenek. Aku ikhlaskan kabar kepergiannya. Aku tahu,..begini rasanya tidak punya siapa-siapa untuk berbagi, ini rasanya tidak ada bahu tuk bersandar, tapi...akal tauhid masih berjalan. Aku yakin, Allah menganggap aku kuat menghadapi ini. Aku kuat dan aku ikhlas meski sampai detik ini, air mataku masih juga tumpah.
Aku mengabari satu per satu temanku. Ada yang merespon, ada juga yang tidak. Aku tak peduli, aku hanya ingin, berusaha melepaskan kesedihanku dan aku berharap doa dari teman-teman sholeh dan sholeha.
Berita ini, aku kirim ke orang-orang terdekat. Aku kirim ke orang-orang yang ada di lingkaranku. Ah, aku baru tahu, betapa berharganya ucapan simpati itu.
Berita ini juga sampai ke Turki. Aku mengabari temenku yang ada di sana. Dan ucapan bela sungkawa darinya membuat aku sedikit legah. Ada simpati yang tulus dalam ucapannya.
Ya Allah, aku merasa sedih saat ini. Aku tahu, di rantau dalam berita duka adalah hal yang kau lalui. Ini pasti akan mendewasakanku.
Ini adalah salah satu fase yang akan aku kenang, dan akan aku jadikan pelajaran. Betapa jarak adalah sesuatu yang menjadi pilihan. Aku di sini, di Jakarta, dan keluarga kami di Palembang, di desa Meranjat. Aku....tidak tahu, takdir akan membawaku kemana lagi. Tapi, sepertinya kepergian nenek seolah mengingatkanku untuk tak selamanya ditanggung sendiri. Kesedihan ini akan mudah cair saat ada yang menemani. Aku berharap, aku bisa kuat..aku berharap...aku bisa kuat. Aku kembali bersujud manakala aku tidak mempunyai bahu untuk bersandar.
Tapi Allah Maha Baik, dari semua temanku...dari semua sahabat-sahabatku, ada satu orang yang menelpon setelah dia mengucapkan ucapan berbela sungkawa. Ada satu orang yang menelponku saat aku benar-benar sedang sedih. Satu orang yang ingin mendengar keadaanku. Satu orang yang menasehatiku, satu orang yang Allah gerakkan hatinya untuk menelponku. Menanyakan kalau aku baik-baik saja dan berpesan agar aku tidak terlalu sedih.
Dari sekian banyak sahabatku, dia yang tidak bisa membiarkan aku kesulitan. Baik saat aku kelelahan membawa tas karier di gunung, saat aku harus menunggu delay pesawat, saat aku kehilangan nenekku. Aku tidak akan bisa melupakan kebaikan sahabatku ini. Dan saat aku bahagia pun, dia juga mendoakan kesuksesanku. Dia seperti Kakak juga sahabat bagiku. Dan hari ini, aku terharu dengan kebaikannya. Aku berjanji pada diriku sendiri, akan membalas kebaikannya, maka aku ingin menyelesaikan projek novelku dengannya sebagai tanda terima kasih atas kebaikan-kebaikannya selama ini
Ya Allah...semoga Engkau terima ibadah nenekku. Di lapangkan kuburnya, semoga beliau husnul khotimah dan semoga aku bisa lancar menghafal al-qur'an agar aku bisa menghadiahkan mahkota untuknya...Amiin ya Robbal alamin..
Selepas Isyaa..
"Menulis adalah salah satu cara untuk melepaskan rasa"- by Lajma Khanie


Comments
Post a Comment