When July Ends
Hari ini, bulan juli akan berakhir. Berganti dengan Agustus. Ada bnyak catatan selama hidup dengan durasi waktu tujuh bulan di 2018. Ah...ini sudah lewat dari setengah tahun. Dua sahabat sudah menikah tahun ini. Satu temen sudah berangkat ke Turki, dan waktu berjalan sangat cepat. Alhamdulillah, banyak orang yang aku temui, temen bertambah, dan beberapa orang justru keluar dari lingkaran hidupku. Ini tentang bagaimana kita bertahan jika ada perubahan dalam hidup. 2018 ini, sudah memasuki semester kedua. Kini, satu persatu orang akan menjadi diri sendiri. Aku, juga akan menjadi diriku sendiri. Diriku yang masih berjuangn dengan mimpi-mimpiku yang sederhana, aku berusaha tersenyum di tengah segala cerita yang aku alami. Aku ingin bersyukur di segala situasi. Kadang. aku tidak ingin terlalu banyak berkomentar tentang hidup. Aku ingin menikmati tiap detik ini dengan rasa syukur. Aku bertemu banyak orang baru di 2018 ini. Orang-orang yang ditakdirkan Allah untuk bertemu, bersahabat, denganku. Tapi, ada juga sebagian dari orang-orang lama, justru semakin asing tak tidak pernah lagi kusebut. Ini adalah seleksi alam. Saat kita, sudah tidak satu frekuensi lagi dengan seseorang, maka dengan sendirinya hati kita tertolak untuk akrab dengan orang-orang tersebut.
Hari ini juga, aku ingin kembali menerbangkan mimpi-mimpi kecilku. Ini karena, aku membaca tulisan seseorang yang seperti membangunkanku dari tidur yang lama. Orang tersebut tidak mengenalku tapi, dari tulisannya aku tahu, bahwa aku harus melanjutkan kembali mimpi-mimpi kecilku. Aku harus bangkit lagi, yakin dengan 200 kali lipat keyakinan bahwa hidup ini layak diperjuangkan dalam segala situasi. Apa yang ditulis orang tersebut? "Tadinya aku hanya ingin menjalani hidup dengan mengalir saja. Tapi, ternyata aku salah. Aku harus membuat target-target kecil lagi dan membuat impian-impian lagi". Aku tidak sengaja membaca tulisannya, namun itu seolah memberi jawaban dari sikap biasa yang aku tunjukkan belakang ini. So, aku harus semangat lagi!! semangat lagi dan aku ingin berjuang lagi, aku merasakan kembali jatuh bangun. Ya, karena disitulah aku percaya, campur tangan Allah akan mengangkat kembali impian-impian yang terlupakan.
Keluar dari zona nyaman memang tidak menggaransi kita untuk berjaya, tapi setidaknya kita jujur. Kita jujur untuk memerdekakan diri. Yakin dengan apa yang Allah janjikan. Masa kritis akan berakhir. Kita layak bahagia. Kita layak menjelajahi kebahagiaan. Ah! terima kasih untuk seseorang yang sudah menulis kata-kata tersebut, seseorang yang menyukai pose levitas saat difoto. Seseorang yang berpikiran postif, seseorang yang kata-katanya sedikit tapi penuh makna.
Selamat Datang Agustus, inilah Lajma yang baru :)


Comments
Post a Comment