puisi buat Ebak
Senja merona di langit kampung halaman
Ada bekas senyuman langit yang masih melengkung
Betapa indah
Anak kecil berkepang dua
Ada bekas senyuman langit yang masih melengkung
Betapa indah
Anak kecil berkepang dua
Duduk manis di pangkuan ayahnya
Si jelita kecil bertanya
Bekerja apa ayah?
Lalu, mata laki-laki itu membisu
Bagai mulut yang disumbat getah karet
Tak lama, kedua bola mata itu berkata
Dengan lembut dengan syahdu
Apapun untuk anakku
Untuk membeli kaleng susu
Apapun anakku
Arloji pun memuja sang waktu
Kepang dua itu berganti kerudung indah
Bagai putri balqis
Namun tanpa istana kaca-kaca
Tangan pemilik kedua bola mata itu legam
Pekat, bagai pelita tak tersentuh cahaya
Nanar benar nasibnya
Saat ujung kerudung itu menyentuh kakinya
Lelaki tua legam pun berkata
Aku baru setengah umur
Tapi mungkin aku akan berkain
Berkain kafan
Tetap doakan
Tetap kenang
Tetap tersenyum, senyuman bulan sabit benderang!
Indralaya, 13 Desember 2011/Wie

Arloji pun memuja sang waktu
Kepang dua itu berganti kerudung indah
Bagai putri balqis
Namun tanpa istana kaca-kaca
Tangan pemilik kedua bola mata itu legam
Pekat, bagai pelita tak tersentuh cahaya
Nanar benar nasibnya
Saat ujung kerudung itu menyentuh kakinya
Lelaki tua legam pun berkata
Aku baru setengah umur
Tapi mungkin aku akan berkain
Berkain kafan
Tetap doakan
Tetap kenang
Tetap tersenyum, senyuman bulan sabit benderang!


Comments
Post a Comment