Pupus (ini bukan lagu)
Duhai hati yang jauh
Bacalah ini dengan damai
Jangan ingat siapa dan mengapa
Jangan jawab kapan dan dimana
Tapi bacalah dengan damai
Agar ada cinta walau hanya seutas benang.
Duhai hati yang tak pernah memandang
Bagaimanakah kabarmu di sana
Telah kau temukan cinta yang kau cari
Dari bidadari-bidadari dunia
Entah apa jawabmu,
Aku akan tetap bercerita.
Dulu, ada seorang gadis,
Tak punya apa-apa, hanya punya cita-cita
Dulu, ada seorang gadis yang tak kau kenal
Tapi dia sangat ingin mengenalmu.
Dalam tiap doa, dia sertakan namamu
Seperti hapal betul nama itu.
Seperti kenal betul jiwa itu
Padahal, seujung rambut pun, kau tak mengenalnya.
Dia mendapat percikan pesona dari orang asing
Sangat asing
Tidakkah kau sadar, siapa orang asing itu?
Ia cucu Adam dengan segala keistimewaannya.
Dia (gadis itu) pun berdoa,
Pada yang Maha Cinta
Dia berdoa
Keselamatan orang asing
Meski ia tahu, orang asing takkan pernah tahu.
Dalam cita-citanya, dia sebut namanya
Tapi ternyata
Kenyataan tak berbuat apa-apa,
Jam berputar, Dia (cucu Adam) itu pergi
Pergi seolah dia tidak meninggalkan setitik jejak
Pun!
Dia bahagia dengan temannya
dengan hidupnya
juga dengan hari-harinya.
Cerita tentang gadis itu
Seolah ampas kopi yang tak berguna.
Dengan ini, kusampaikan duka yang teramat sangat
Duka yang tak terbilang dalam
Tak peduli apakah cucu Adam itu mengerti atau tidak
Tak peduli apakah cucu Adam itu sudah menemukan tulang rusuknya atau belum
Duka ini akan kulempar padanya
Biar dia tahu benar, seperti apa kala cinta terkurung
Seperti apa kagum yang terbungkus malu
Inilah, sayap yang telah patah arang
Inilah, angan yang tak tersampaikan
Inilah cinta yang tak bertuan
Lalu pudar.
Pudar dan
Memudar.
Palembang, 3 November 2011

Comments
Post a Comment